Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, May 20, 2017

Kaca

Kaca itu berganti rupa
Tidak lagi wajahku
Bukan lagi hidupku

Sejak dulu bukan rupaku
Sejak lama bukan ceritaku
Kupecah-hancurkan, menghancurkanmu
Kubiarkan, menghancurkanku
Aku memilihku
Aku saja
Yang hancur
Kosan, Sabtu, 20 Mei 2017

Wednesday, April 12, 2017

Gema

Adalah gema yang memantul-mantul
di dinding sukma
berdentum menggetar debar
Aku menyesap setiap tetes embun harap
Menghirup setiap hela keyakinan
Tak ingin melepas
Tapi akhirnya harus diembuskan juga
Hidup harus terus berjalan

Thursday, March 16, 2017

Pulang

Gemintang | gambar diambil dari sini
Hai gemintang
Bantu aku mencari jalan pulang
Tempat seharusnya aku berada dulu dan sekarang
Tempat yang maknanya tidak akan lekang

Tiada aku pernah menyesal
Pernah memilih untuk tidak tinggal
Meski harus kukembali karena aral
Sudah saatnya kuingat dari mana berasal

Kita lupakan saja kemarin lalu
Tentang semua perjalananku semu
Tentang dua garis hidup yang ternyata tiada temu
Tentang aku dan egoku yang akhirnya bisu

Wahai ambang batas
Kokoh berdirimu bahkan tak beriku waktu berkemas
Dingin dan kekejamanmu sebab kumenyerah lepas
Kuputuskan buang semua lampias tidak puas

Mundur adalah satu-satunya pilihan
Lebih baik daripada meratapi kebuntuan
Apalagi berdiam di hujung hantaran
Memeluk lutut bergantung pada harapan

Gemintang, lekas antar aku kembali
Supaya ia tidak terlalu lama menanti

Mampang Prapatan, Kamis, 16 Maret 2017, 00.24 WIB
Sesaat setelah sadar, bahwa dinding di hadapan terlalu kokoh untuk diluruhkan. Maka meniti jalan kembali adalah satu-satunya kemungkinan. Semoga berkenan.

Tuesday, March 14, 2017

Tenang

"Jadilah tenang. Karena menjadi lupa sudah tidak mungkin rasanya.
Jadilah tenang. Karena hati yang terlanjur mengenal tidak bisa dengan mudah kembali dari nol."
3 Januari 2017, 22.33 WIB
Saat badai menyurut. Tapi kini harus menghadapi badai yang lebih ganas menggilas semua tanggul ketenangan

Saturday, March 11, 2017

Tarian Renjana

Aku menari bersama hujan
Gerimis deras apa peduliku
Memeluk diri memejam erat
Tertawa tersenyum seperti gila

Seketika menjelma balerina
Berdansa bersama riuh tirta
Yang turun dari kelabu mendung
Berputar tanpa takut limbung

Mengayun mengikuti alun
Denting yang berdentang
Aku hanyut aku lebur
Bersatu dengan renjana yang kian kabur

Sebelum cita menjelma samsara
Kupatri semua kuhirup kuresap
Masih bersama hujan yang setia
Masih bersama dentingmu semasa

Mari berbasah bersama

Mampang Prapatan, Sabtu, 11 Maret 2017
Bersama hujan

Friday, March 10, 2017

Tenggelam

Lautmu begitu luas

Dan aku tersesat
Di atas hamparan tanpa tepi

Lautmu begitu dalam
Dan aku tenggelam
Di dalam penyelaman tanpa dasar

Gelap
Sesak

Tapi kau
Teganya
Telah berlari ke gunung
Setinggi-tinggi
Aku tenggelam

10 Maret 2017
Only You can pull me up

Thursday, March 9, 2017

Di Atas Sampan Kayu

Di Atas Sampan Kayu

Di tengah laut lepas
Terombang-ambing
Kembali sudah jauh
Tujuan belum terlihat

Ilusi kanan-kiri
Menggoda
Melambai-lambai
Didekati hilang lenyap

Di atas sampan kayu
Yang kurakit sendiri
Kubolongi sendiri, bocor
Kutambal sendiri, tak sempurna

Merapal doa-doa
Sekali dua memejam erat-erat
Supaya godaan tak terlihat
Tapi juga karena takut

Itukah?
Atau itu juga ilusi?
Di situ kah?
Harap sudah kutenggelamkan
Mungkin sudah sampai dasar

Tapi muncul lagi ke permukaan
Hilang-timbul
Ditelan-dimuntahkan ombak
Kugenggam saja, kupeluk

Di atas sampan kayu
Sendiri aku
Ketakutan, kebingungan
Masih terombang-ambing

Mampang Prapatan, Kamis, 9 Maret 2017, 22.15 WIB

Sunday, March 5, 2017

Lucu

Kau tahu apa yang lucu dari kita?
Saling menemukan
Saling merasa yakin
Tapi akhirnya menjalani hidup terpisah

Lalu apa yang lebih lucu?
Bahwa kita pernah berjanji
Tidak akan berpisah
Tapi akhirnya saling mengingkari

Dan apa yang paling lucu dari kita?
Bahwa sebenarnya tidak ada yang mengingkari janji
Kita, tanpa pernah bersepakat, telah melupakan janji itu sendiri
Lalu hidup sendiri-sendiri

Takdir, atau apalah itu namanya
Akan menganulir semua kesepakatan yang tidak sejalan
Mengembalikan semua proses kembali ke nol

Takdir, atau apalah itu namanya
Kelak akan membuat kita ikhlas dan pulih
Dengan sendirinya

Kukusan Teknik, Ahad, 5 Maret 2017, 15.25 WIB

Saturday, February 25, 2017

Jeda

Bagaimanabiladiduniainitidakadayangnamanyajedayangmemisahkanantarkatayangmemisahkanantarpersona

Pengangguran

Diam
Berpikir
Merencanakan
Tetap diam
Tergugah
Menarik napas
Berdiri
Duduk lagi
Bosan
Berbaring
Melamun
Tertidur
Begitu saja terus
Sampai semua kesempatan di dunia ini
Habis diambil orang
Lalu tidur lagi
Cisarua, Sabtu, 25 Februari 2017, 01.18 WIB

Wednesday, February 22, 2017

(Bukan) Skenario (3) : Not So Rainy

Hujan reda
Tidak lagi ada pertemuan
Apakah ini bagian dari rencana?
Rindu menyurut
Genangan kenangan menguap
Apakah ini juga bagian dari rencana?
Mampang Prapatan, malam cerah di penghujung Februari 2017

Skenario (2) : Another Rainy Afternoon

Hujan lagi
Sore-sore
Dan sepotong episode di salah satu sisi lain kampus
Tidak perlu banyak saksi
Cukup genangan air yang berkecipak karena jejak terburuku
Tangan kanan yang gemetar sejak siang hari
Anak laki-laki pengojek payung yang berlari mengikutiku
Juga hujan, dan lagi-lagi hujan
Untuk setiap skenario ruang pertemuanku denganmu yang berlangsung di antara hujan,
Aku mensyukuri sekaligus menyesali
Depok, Sore hujan lainnya di pertengahan November 2016
Repost dari Tumblr pribadi

Skenario

Skenario mana yang lebih mengejutkan dari pertemuan tanpa rencana dan tanpa pernah dibayangkan
Di suatu tempat setelah perjalan puluhan kilometer bersama
Dan momen mana yang lebih berkesan dari angin sore yang mengembus kain-kain pakaian kami ketika berjalan bersisian
Dan tetesan hujan menambah syahdu pertemuan sore itu. Meski singkat, terlalu singkat
Jakarta, suatu sore di penghujung Oktober 2016
Repost dari Tumblr pribadi

Sunday, February 19, 2017

Sibuk

Orang yang mencintai adalah orang yang paling sibuk
Kamu sibuk ingin tahu apa obrolan yang dia kirimkan pada temanmu
Kamu sibuk menyamakan jadwalmu dengannya
Kamu sibuk menutupi kekurangannya di depan yang lain
Kamu sibuk menyamakan frekuensi langkahmu dengannya
Kamu sibuk mencurahkan energimu padanya
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Tapi ternyata aku lebih sibuk
Memantau gerak-gerikmu

Ahad, 19 Februari 2017

Friday, May 6, 2016

Paralel

Karena ternyata, dalam perjalanannya, ia tidak pernah benar-benar bisa kembali.

Ia pernah mencoba melangkah, tapi ternyata salah.

Hampir saja ia lupa, karena penampakannya serupa.

Ia melangkah mundur dan menyerah.

Mungkin ia tidak akan pernah benar-benar bisa kembali.

Jalan yang ia lalui kini telah menjadi paralel.

Kamu tahu, kan? Dua garis paralel tidak akan memiliki titik temu. Sejauh apa pun garisnya ditarik.

Jadi, maaf, sepertinya ia tidak akan benar-benar kembali. Seperti dulu. Seperti yang pernah ia coba janjikan. Seperti yang telah ia usahakan.

Monday, January 11, 2016

Sebuah Hadiah

Aku punya hadiah untukmu
Kuperingatkan
Isinya aksara, banyak jumlahnya
Terangkai tapi rumit beruntai-untai
Terbaca tapi kamu harus temukan tafsirnya

Aku punya hadiah untukmu
Sesuatu yang tidak bisa kucerna, tubuhku menolaknya
Ada yang pernah bilang,
Memberi hadiah itu, sesuatu yang juga kita suka
Tapi ini,
Bukan aku tak suka, bukan
Jangan melirikku seperti itu

Aku punya hadiah untukmu
Sampai seribu paragraf kujelaskan, percuma
Kalau kamu tidak membutuhkannya

Kusederhanakan
Aku mencintaimu
Aku merindukanmu
Dalam resah yang menjelma bahagia
Dalam penantian, yang tetap menjadi penantian
Aku mengikut saja

Dari aku yang tidak ingin mengutuk kegelapan, tapi malang, aku tidak sanggup menyalakan bahkan sebuah lilin

Thursday, October 9, 2014

Dan Seperti Itulah

Seperti sebuh film yang begitu kamu hafal jalan ceritanya. Begitu kamu sukai salah satu bagiannya
Kemudian suatu saat kamu memutarnya ulang
Bagian favoritmu itu tiba-tiba menghilang
Kamu memutar film itu di pemutar lain
Bagian itu masih ada
Kamu memutarnya dalam memorimu sendiri, dan kamu pun tidak yakin benar bagian itu pernah ada

Sampai perlahan
Kamu mulai melupakan bagian itu
Bingkai-bingkai cerita mulai pudar dari memorimu
Kamu pun hampir yakin bahwa bagian itu memang tidak pernah ada
Kemudian kamu melewati sebuah toko televisi
Dengan televisi-televisi layar datar berukuran besar di balik kacanya
Mereka terus memutar film yang telah hampir kau lupakan itu
Dan bagian itu, bagian favoritmu, ada di sana
Kamu mulai memutarnya dalam memorimu
Dan benar, ia ada di sana
Kamu memastikan kembali dan kamu memutarnya di rumah
Dan bagian itu tetap ada

Lalu kamu mulai pusing
Marah tapi tidak tahu marah pada siapa
Bingung tapi tidak tahu harus bertanya pada siapa
Lalu jadilah
Tanya itu kamu simpan sendirian
Sampai...

Film itu tidak lagi menjadi kesukaanmu
Kepingan ceritanya berdebu di satu sudut gelap
Dan kamu tidak lagi peduli
Apakah bagian itu,
Pernah ada
Atau
Tidak

Dan seperti itulah!

Thursday, September 4, 2014

Bukan Hanya Kau

Kau begitu bersemangat menceritakan
Bagaimana caranya berbicara padamu
Bagaimana dia mencandaimu sehingga kau tersipu
Bagaimana kau begitu terpengaruh oleh kata-katanya

Kau begitu penasaran
Ingin mengetahui latar belakangnya
Bagaimana alur berpikirnya
Bagaimana jalan yang dipilihnya

Kau begitu bahagia
Kau lebih banyak tertawa
Kau menjadi sering membelanya
Kau menjadi berbeda di hadapannya

Kau mengendap-endap di belakangnya
Tanpa sepengetahuannya, kau baca tulisan-tulisannya
Kau jelaskan padaku
Aku yang menemanimu mengikutinya

Adalah aku yang pura-pura menjadi biasa
Adalah aku yang bersikap sok polos
Dan aku pula yang memerhatikan dari jauh
Saat obrolan kalian muncul di grup
Saat aku menemanimu berbicara dengannya
Saat aku menjadi penengah yang tidak perlu
Saat aku hanya semakin terlihat bodoh di depan kalian

Karena bukan hanya kau
Yang berubah menjadi berbeda
Yang menyimpan banyak tanya
Tentangnya

Bukan hanya kau
Entah sejak kapan ini bermula

Tuesday, August 26, 2014

Tentang Aksaramu

Beraninya kau
Mengacak-acak hati yang rapuh
Dengan kata-kata memabukkan
Tapi tak tertafsirkan

Teganya kau
Mengabadikan kekacauan hatiku
Dalam bait-bait yang membuai
Seolah kau rasakan yang sama

Bukan tentang aku tidak bisa berhenti terlena
Bukan pula tentang rasa yang tak jua usai
Tapi tentang tanya yang terus menggelayut
Di salah satu ruang yang sebagian besar isinya
telah kupindahkan

Pernahkah ada aku di sana?
Di salah satu sudut terkecil pikiranmu
Apakah itu aku,
yang pernah menjadi jalan cerita dalam aksaramu?
Atau hanya imajinasiku,
Buah dari harapanku yang palsu



...
*suatu hari, di pertengahan Oktober. kali ini mungkin sudah titik.
...

Tuesday, March 18, 2014

Menghitung



aku menghitung dari satu sampai sepuluh
tekadku, cukup sampai sepuluh

satu, dua, tiga
aku mengerti
kuncup yang merekah
sesuatu sedang berbunga
cantik sekali

kemudian empat dan lima
bunga itu
kian hari kian indah
mahkotanya terbentang anggun
nyaris sempurna

ketika hitungan enam dan tujuh
ia mekar sudah
bersama ronanya
purna cantiknya
purna anggunnya

tapi apa yang terjadi
di hitungan delapan dan sembilan?
warnanya meluruh
bersama mahkotanya yang luluh
juga kelopaknya yang lepas satu satu

dan di hitungan ke sepuluh
aku berharap
bisakah aku mengulang kembali dari satu?