Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, September 18, 2019

Dua Tahun Abin

"Kamu nggak capek, Bin? Ini udah mau dua tahun and you keep telling the same story."
Yang ditanya cuma tertawa kecil.

"Dan ini nggak kayak kamu yang biasanya. Aku kenal kamu dari zaman maba dan kamu nggak pernah menceritakan orang yang sama lebih dari tiga bulan." Abin cuma melirik.

"Oke, ada sih yang sampai setengah tahun. Tapi kan cuma sekali." Disa meralat pernyataannya.

"Dis, you know me. Aku akan move on pada waktunya kok."

"Tapi Bin, kamu pernah kepikiran nggak sih, kenapa nggak kamu perjuangkan aja instead of kamu nungguin saat yang tepat untuk move on?"

Hening.

"No, thank you. That's so not me."

Disa memandang Abin prihatin.
"Don't look at me that way. Aku bahagia kok. Dan aku yakin akan datang waktunya aku akan sempurna."

Disa mengenang obrolannya dengan Abin sebulan yang lalu. Dan begitulah rencana yang telah disetting untuk Abin. Disa hanya mampu memandang kagum pada kekuatan Abin yang tidak pernah dia sangka.

Di sinilah Disa sekarang, di dalam ruang rias pengantin, sesaat setelah terdengar kalimat "Saya terima nikahnya Abin Syamsa dengan maskawin tersebut, tunai." Mengalir air mata Disa dengan kebahagiaan yang membuncah. Sahabat mana yang tidak bahagia.

"Disa, aku yang akad kok kamu yang nangis? Tenang, habis ini kamu kok!" Goda Abin jenaka.

"Aku kira, Gaza hanya akan jadi cerita tiga bulan kamu seperti cerita-cerita yang lain."

Disa mengiringi Abin memasuki ruang akad, menuju seorang laki-laki yang namanya tidak pernah absen dari cerita Abin dua tahun terakhir ini.

Seminggu setelah pertemuan Disa dan Abin sebulan yang lalu, Disa mendapati chat whatsapp dari Abin.

"Disa, bisa bantu aku menyiapkan akad dan resepsi sederhana tiga pekan lagi?"

"Hah! Mendadak banget. Siapa yang mau nikah emang?"

"Aku,"

"Demi apa?! Sama siapa?!"

"Gaza, Dis..."

"Aku ke rumah kamu sekarang! Dan kamu harus cerita selengkap-lengkapnya. Jangan ada yang ketinggalan. Tunggu!" Saat itu juga Disa tancap gas ke rumah Abin.

Disa tidak pernah mengenal Gaza secara personal. Hanya tahu dari cerita-cerita Abin dan foto-foto instagram yang ditunjukkan oleh Abin.

Disa juga tidak pernah menyangka bahwa seorang Abin yang mudah jatuh hati, akan bertahan demikian lama pada satu nama saja. Mungkin, dua tahun kemarin adalah training bagi Abin untuk mencintai satu orang saja sepanjang sisa hidupnya.

Belakangan, Disa menyadari bahwa Abin benar. Ia tidak perlu memperjuangkan Gaza. Karena yang benar-benar mencintainya akan memperjuangkannya. Itu yang selama dua tahun ini tidak Abin ketahui. Bahwa sebenarnya Gaza tengah memperjuangkan Abin. Tanpa perlu cara-cara sok romantis menjanjikan harapan. Tanpa perlu kata-kata manis melambungkan rasa. Hanya perlu waktu untuk sampai pada langkah nyata.

"Makasih ya Dis. Udah jadi temen aku yang paliiing ngerti." Disa mengangguk dan melepaskan gandengan tangannya. Seolah melepas kepergian Abin untuk selamanya. "Aku tetep Abin yang sama kok. Kita tetap sahabat kok."

Disa menyeka sedikit air matanya. Tersenyum lebar pada Abin. "Selamat ya, Bin."

Tuesday, May 29, 2018

Episode 8 : Kamu atau Bukan Kamu?

Apa yang lebih menyakitkan daripada rasa yang terpaksa dimatikan sebelum ia berbunga? Dan aku dengan sesadar-sadarnya, paham bahwa ini bukan soalan aku pantas atau tidak pantas. Tapi lebih mendasar lagi yaitu tentang aku atau bukan aku, dan tentang kamu atau bukan kamu.

Setelah puluhan hitungan aku menghitung dalam hati, menunggu sampainya aku pada pertemuan berikutnya denganmu, aku sempat hampir lupa. Tapi tepat sedetik sebelum aku benar-benar lupa, kamu harus datang bersamaan dengan kembalinya semua file-file yang hampir saja membusuk di recycle bin memori otakku. Apalah, aku tidak peduli dengan analogi yang berantakan. Yang aku peduli adalah garis pikiran rasionalku yang berantakan.

Kalau saja aku tahu apakah semua perjalanan ini adalah tentang kamu atau bukan, aku tentu akan bisa memutuskan untuk terus berjalan, meski harus menunggu ratusan bahkan ribuan hitungan pertemuan lagi, atau berhenti dan melangkah mundur meski senyumanmu terus menghantui langkah mundurku.

Kalau saja aku tahu apakah semua perjalananmu adalah tentang aku atau bukan, aku tentu akan bisa memutuskan akan bertahan meski ada yang harus keberatan atau bahkan tidak suka, atau mundur teratur meski aku hanya bersaing dengan diriku sendiri.

Kenyataannya aku tidak tahu.

Dan aku memang masih berharap pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Merindukan temu-temu tanpa rencana dengan nol ekspektasi. Manis. Sebelum semuanya berubah menjadi getir.

Saturday, May 19, 2018

Episode 7 : Pertemuan yang Terlambat

Mau berapa kali pun aku mengutuki keadaan, ia tidak akan pernah berubah. Mau berapa kali aku bertanya tanpa jawab, kenyataan tidak akan berganti. Nyatanya, dia lebih dahulu bertemu denganmu.

Dalam hidup, mungkin kita sering merasakan waktu-waktu yang tidak tepat. Tidak tepatnya waktu kehadiran kita, tidak tepatnya waktu kemunculan seseorang, tidak tepat waktu mengutarakan sesuatu, tidak tepat waktu bertemu dengan seseorang. Dan sederet missed timing yang kamu mungkin juga pernah rasakan.

Mungkin aku tidak seharusnya berada di sini. Atau berada saat ini. Tapi apa aku bisa mundur lagi ke garis start dan mencoba mencari jalan lain?

Sepertinya, sekalipun aku punya kesempatan untuk kembali ke semula, aku tidak yakin akan mengambil jalan lain. Menurutmu bagaimana?

Friday, May 18, 2018

Episode 6 : Sweet 'Lil Girl

There's this girl. Sweet as candy. Yang perlahan sudah seperti adikku sendiri. Yang selalu ada.

She talks a lot. Mostly about you. Aku baru saja kenal dia dan masih harus banyak beradaptasi dengan gayanya, lakunya, dan moodnya. Tapi satu yang kuyakini benar, posisimu di hatinya bukan posisi main-main. Aku nggak tau yang seperti apa, tapi aku tidak akan bisa menembus dinding itu.

Malam itu, di atas motor yang membawa kami pulang, kutanyakan padanya tapi tidak kutemukan jawab. Hanya kesimpulan sepihak yang kudapatkan dan penguatan atas dugaanku saja.

Dan pada malam yang sama, di atas motor yang sama, aku menangis karenamu untuk yang pertama kalinya. Dan tentang bagaimana ini semua bisa menjadi sangat halus dan sulit kunafikan. Titik air mata yang jatuh begitu saja. Tanpa kompromi.

Episode 5 : Sweet Rendezvous 3

Kamu akhirnya datang. Tanpa permisi. Seperti kamu yang tiba-tiba datang ke dalam hidupku tanpa kamu tahu bahwa kedatanganmu mengimprovisasi hidupku.

Seperti malam itu, saat aku hampir selesai berkemas, kedatanganmu membuatku tidak ingin segera beranjak. Membuatku mencari cara untuk tetap tinggal lebih lama.

Kita tidak banyak bicara malam itu. Tapi aku memperhatikan setiap jawabanmu dalam perbincanganmu dengan orang lain. Aku merekam setiap data yang terungkap darimu.

Dan ternyata, pertemuan yang tanpa ekspektasi terasa jauh lebih manis dari yang kupikir. Semacam kejutan ulang tahun sebelum harinya.

Wednesday, May 16, 2018

Episode 4 : Sweet Rendezvous 2

I live my life. Setelah momen patah hati untuk yang kesekian kalinya, aku lebih mudah menikmati hidup. Lebih mudah melupakan duka. Lebih menikmati setiap tawa dan menyerap sedikit kesedihan hanya untuk formalitas karena aku masih manusia. Waktu-waktu berat itu telah berlalu dan aku, sejak dulu, tidak pernah berlama-lama dalam patah hati. Tapi sepertinya aku belum ingin kembali jatuh cinta.

Sampai aku bertemu denganmu. Membuatku menyadari bahwa aku tetap aku. Yang dapat dengan mudah jatuh karena senyuman. Atau sedikit perhatian. Atau sedikit kebersamaan. Atau bahkan aku bisa jatuh juga karena pengabaian. Orang yang sangat mengenalku, pasti mengerti.

Malam sudah hampir memasuki fase sendu. Aku sudah bersiap pulang ketika kamu datang tanpa ancang-ancang. Sukses membuatku gugup bukan kepalang. Pertemuan yang tidak kuekspektasikan.

Tuesday, May 15, 2018

Episode 3 : Sweet Rendezvous 1

Berlalunya waktu, aku lupa bahwa aku masih menyimpan tanya yang belum terjawab.

Sampai pada suatu malam aku menyadari bahwa aku mulai merindu adalah saat seorang teman menyebutkan namamu. Aku menunggumu malam itu, meski tanpa ekspektasi. Tapi kamu tidak juga datang. Kecewa? Belum. Perasaan ini masih begitu halus untuk mampu membuatku kecewa.

Kita masih punya banyak waktu. Masih tanpa ekspektasi, aku rela menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya. Kita pasti masih punya kesempatan yang lain.

Sampai kesempatan itu tiba, aku masih sanggup bertahan dalam ekspektasi nol. Titik di mana belum ada yang perlu dikhawatirkan. Titik di mana belum ada yang perlu dipertimbangkan.

Episode 2 : Pertemuan Kedua

Tidak pernah ada perkenalan resmi antara kita. Aku menyebutkan nama, kamu menyebutkan nama. Ah cliché dan tidak perlu. Yang ada adalah pesan singkat pertama darimu yang menawarkan makanan untukku.

Pada pertemuan kedua ini lah aku memulai banyak hal meskipun pertanyaan-pertanyaan yang kubawa pulang belum juga menemukan jawaban. Tetapi aku belum jatuh cinta. Dua pertemuan ternyata tidak cukup bagiku.

Dan satu kalimat peringatan hati-hati dari seorang teman justru telah membawaku masuk lebih jauh semakin mendekat pada bahaya.

Monday, May 14, 2018

Episode 1 : Pertemuan Pertama

Aku bukan seorang yang percaya akan konsep cinta pada pandangan pertama. Setidaknya untuk diriku sendiri. Aku lebih suka mengakui pepatah jawa yang mengatakan bahwa cinta tumbuh karena terbiasa. Terbiasa membicarakan hobi yang sama, terbiasa ngobrol lewat pesan singkat WhatsApp, terbiasa membicarakan organisasi, terbiasa mengelola acara bersama, terbiasa mengalami nasib yang sama, atau bahkan sekadar terbiasa memikirkan dirinya tanpa orang tersebut tahu.

Maka ketika aku mengingat kali pertama aku melihatmu, aku dapat menilai bahwa saat itu aku tidak langsung jatuh cinta. Meskipun setelahnya, aku membawa pulang banyak pertanyaan tentangmu yang kupikirkan sampai berhari-hari. Dari sanalah, aku terbiasa memikirkanmu.

Thursday, April 6, 2017

Tamu Bapak (4) - ed. Rahmi dan Syayma

"Hari ini dia nggak datang kajian." kata Syayma tanpa ditanya.
"Lalu?" aku sedang tidak minat. Aku lebih berminat pada puding coklat dingin yang sekarang ada di depanku.
"Katanya, orang tuanya datang."
"Kemudian?" aku sama sekali tidak ada minat mendengar kabar tentangmu.
"Sudah. Demikian sekilas info." tutupnya dilanjut tawa yang aku tidak mengerti letak lucunya. Akhir-akhir ini selera humorku memang sering bermasalah.
"Ih, kamu jangan ngelihatin aku kayak gitu dong!" protesnya. Aku diam saja.
"Mi..."
"Hm..."
"Mi..."
"Apa?"
"Ih Rahmi, ah. Kok dari tadi pundung gitu sih. Kenapa? Sini cerita sama Mama Syayma." Inginnya aku melanjutkan makan puding saja daripada menjawab pertanyaan Syayma. Tapi pudingnya sudah habis.
"Kamu dilamar orang ya?" tebaknya asal.
"Apaan sih." Aku mencoba meraih puding milik Syayma, tapi dia sigap mempertahankannya.
22 Maret 2017, 13.00 WIB

Wednesday, April 5, 2017

Panglima dan Asisten Juru Masak (2)

“Aku sedih…” katamu.

“Banyak orang dapur yang ditarik untuk ikut dalam pertempuran. Hanya karena di dapur terlihat sudah lengang, tidak ada pekerjaan, dan terlihat seperti tidak ada apa-apa. Padahal, bukankah mereka tahu bahwa pekerjaan kita di sini masih banyak?” Masih katamu.

Aku mengerti. Setelah koki utama ikut pergi dan terlahir kembali sebagai panglima utama, satu persatu awak dapur ikut pergi. Ditugaskan ke berbagai wilayah. Kini, teman terdekatku harus ikut pergi juga.

“Dear, kita ini orang dapur.
Tapi tidak ada salahnya kita ikut bergabung ke medan pertempuran
Setidaknya kita juga sering ikut latihan fisik meski di barisan belakang
Setidaknya kepergianmu dengan persenjataan yang sudah dilengkapinya
Setidaknya tidak jauh berbeda antara pedang dan pisau daging
Toh kalian tidak pergi selamanya, Toh kalian tidak pergi sejauh jarak tak hingga
Pekerjaan kita sudah berlangsung selama masa persiapan, pun saat ini kita sudah dibantu alat
Jadi tidak ada salahnya kalau mereka menarik awak-awak tebaik dapur untuk turut serta
Aku pun harus siap jika tiba-tiba saja diminta berjaga di baris paling belakang, meski tanpa pedang bahkan zirah, mengedarkan air-air minum kepada para pejuang yang mungkin lupa akan rasa haus mereka
Tenanglah,
Dapur masih tetap bisa mengepul, aku yang hanya tukan bersih-bersih dapur ini tidak pernah sendirian, masih ada orang.” Kataku.


Namun tidak pernah sempat terucap kepadamu. Aku sudah melihatmu berlari dengan zirah dan busur panahmu. Siap bergabung bersama pasukan yang dibentuk oleh sang Panglima. Aku berjaga di sini menunggumu, dia, dan juga kalian semua, pulang dengan kabar kemenangan yang besar.

Aku masih termenung ketika kamu sudah menghilang dari jarak pandangku. Sampai akhirnya aku sadar,

Ah, masih ada masakan di kuali yang harus aku periksa.

Tuesday, April 4, 2017

Panglima dan Asisten Juru Masak

Seorang panglima telah lahir. Tengoklah, di lapangan sana ia sedang berlatih. Menyiapkan busur dan anak-anak panah, mengasah pedang-pedang sampai berkilatan, mengisi bejana-bejana air perbekalan, mengeluarkan kuda-kuda perang.

Seorang panglima telah lahir. Sementara sang pesuruh juru masak masih saja berkutat di belakang. Yang kadang masih salah memasukkan bumbu. Masih lupa di mana meletakkan wajan dan pinggan. Masih keliru membedakan bahan-bahan.

Seorang panglima telah lahir. Si pesuruh juru masak menatap dari sibak tirai jendela dapur. Berharap ia selamat di medan pertempuran. Berharap ia tetap selalu bahagia meski harus berkutat dengan tugas beratnya. Berharap ia kembali pulang segera. Bukan untuknya, untuk semua orang yang menunggu kabar baik darinya.

Sang panglima tidak perlu tahu. Bahwa kopi yang ia sesap pagi tadi. Adalah kopi buatannya yang paling istimewa. Sementara ia masih saja mengamati dari balik sibak tirai jendela dapur.
Tulisan lama, diterbitkan kembali dari Tumblr pribadi

Wednesday, March 22, 2017

Tamu Bapak (3)

Aku memutuskan beranjak dari ruangan kajian saat sesi tanya jawab. Rasanya semua yang disampaikan pemateri di depan tidak ada yang tertinggal di kepalaku. Tidak, aku tidak mungkin pergi dari tempat ini sekarang. Setelah ini masih harus ada evaluasi pelaksanaan. Aku hanya pergi ke kamar mandi untuk membasuh sedikit wajah yang mulai penat ini.

"Bapak tahu kamu tahu siapa yang datang tadi." kalimat itulah yang meluncur pertama kali dari mulut Bapak malam itu, saat aku sudah duduk bergabung bersama Ibu dan Bapak. Malam ketika aku harus menunggu beberapa puluh menit di pos kamling yang tidak terlalu ramai itu.

"Iya, Pak. Tadi Adek lihat motornya dan lihat ketika beliau keluar dari rumah. Bapak kenal beliau?" jawabku sambil mencoba menata ekspresi dan intonasi.

"Ya, Bapak kenal. Sejak tadi maghrib." jawab Bapak singkat.

Tapi ternyata kalimat Bapak belum selesai, "Orangnya seperti apa menurut kamu?"

Aku diam sebentar, "Beliau orang yang baik, Pak. Seorang yang kalau sudah berazzam, azzamnya itu akan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Hanya itu yang Adek tahu, Pak."

Selanjutnya pembicaraan antara aku, Bapak, dan Ibu hanyalah seputar rencanaku ke depan. Kuliahku, aktivitasku, dan beberapa rencana lain di luar kedua hal itu. Obrolan biasa saja yang sudah sering kami bicarakan juga bertiga.

"Dek, jangan telat nanti pulangnya." Begitu pesan Mas Rodhi sebelum aku berangkat tadi pagi.

Setelah berwudhu dan shalat dua rakaat, aku tidak kembali ke tempat kajian.

"Rahmi, lagi puasa nggak?" Syayma tiba-tiba datang dan duduk di sampingku yang masih dalam posisi seperti duduk tasyahud akhir. Aku cuma menggeleng.

"Hayuk beli puding coklat dingin di depan!" Tiba-tiba ia berseru dan menarik tanganku dengan semangat.

"Jadi kamu disuruh pulang cepat? Yaudah, nanti habis eval kamu pulang aja. Biar nanti tahsin aku yang sampaikan izin ke Ustazah." kata Syayma setelah kami membeli puding dan memakannya di teras masjid.

"Sebenarnya bukan itu sih masalahnya. Tapi aku justru jadi nggak mau pulang."

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Ada perasaan nggak enak, takut, dan ada dugaan-dugaan yang muncul di benak aku tapi aku nggak mau menduga-duga."

"Kamu udah lama nih nggak cerita sama aku. Pasti udah banyak cerita yang aku lewatkan."

"Iya, sih, Ma..." aku berhenti, menimbang akan melanjutkan kalimat atau tidak. "Tapi aku kayaknya belum bisa cerita sekarang."

Syayma tertawa. Geli sekali. Aku bahkan tidak tahu letak lucunya di mana.

"Kamu kayak bukan sama Syayma aja. Nggak usah kaku gitu lah. Nih lihat jidat kamu berkerut. Muka kamu tegang. Lemesin, lemesin. Jelek tau." ah, Syayma selalu tahu bagaimana harus memperlakukan aku.

Selanjutnya, pagi tanggung menjelang siang itu, kami hanya duduk di teras dalam diam. Berkutat dengan puding coklat dan pikiran masing-masing, menunggu azan zuhur.

"Mi..."

"Hm..."

"Kamu kalo ada yang ngelamar, kabarin aku ya." Aku hanya menjawabnya dengan tawa tanpa minat. Setidaknya, sekarang aku lebih siap pulang ke rumah meskipun aku tidak menceritakan apapun ke Syayma.
Mampang Prapatan, Rabu, 22 Maret 2017, 13.17 WIB

Thursday, March 16, 2017

Tamu Bapak (2)

Bapak | Gambar diambil dari sini
"Dek, besok kamu pergi?" Setelah makan malam, tiba-tiba Bapak bertanya padaku tidak biasanya. Karena defaultnya, apapun kegiatannya, setiap hari aku pasti pergi pagi kecuali hari Ahad. Ah, akhir-akhir terlalu  banyak sikap Bapak yang tidak seperti biasanya.

Saturday, March 4, 2017

Jarak Aman

Aku bertanya padamu, "Apakah ini terjadi dua arah?"

Dengan yakin kau mengatakan, "Tidak."

Lalu lain waktu kutanyakan lagi, "Apakah ada sikapnya yang berubah kepadamu?"

Dengan cepat kau mengatakan, "Tidak tahu, dan tidak mau tahu."

Ah, aku tahu itu hanya topengmu. Dibalik wajahmu yang mengeras, ekspresimu yang menegas, kau punya seribu titik lemah yang dapat meluruhkan semua tanggul air matamu. Tapi kau tak membiarkan siapapun mendekati tanggul itu. Kau bisa tega kepada siapa saja yang mendekat, tanpa peduli perasaannya.

Dan di sinilah aku, berdiri dalam jarak aman.

Mampang Prapatan, Sabtu, 4 Maret 2017, 11.32 WIB

Thursday, February 23, 2017

Terlambat

"Mengapa kau datang terlambat? Aku menunggumu (lagi) sepagian. Tidak ada kabar, tidak juga tanda. Hampir tertidur aku menunggu. Aku tidak sama sekali merasa  bosan.

Wednesday, February 22, 2017

Orang-orang Populer

"Kok kamu bisa suka sama dia sih? Dia kan nggak cakep."

"Kamu serius suka sama dia?"

"Apa sih yang kamu lihat dari dia? Dia kan nggak populer."

Pertanyaan-pertanyaan itu dulu sekali kamu sering dapatkan dari teman-teman terdekatmu. Beberapa kali kamu jatuh suka pada orang yang berbeda, kesemuanya adalah orang yang tidak sama sekali populer, tampang biasa-biasa saja, intelegensinya juga sama biasanya. Tentang mengapa, hanya kamu yang tahu.

"Yah, kan aku juga biasa-biasa aja. Nggak cakep juga, apalagi populer." Biasanya begitu caramu membela diri.

"Aku lagi suka sama orang nih. Namanya..." ini ceritamu beberapa bulan yang lalu. Aku cuma menanggapinya dengan tersenyum. Yang berbeda kala itu adalah, kamu menyebutkan satu nama yang walaupun tidak terlalu populer, tapi tidak juga bisa disepelekan.

Anak itu punya sekelompok cewek pengagum rahasia. Meskipun tidak terlalu rahasia. Bahkan mereka pernah melabrak beberapa perempuan yang dekat dengannya karena aktif di organisasi yang sama. Waktu itu aku khawatir kamu kena labrak juga.

Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan perasaan itu hilang. Ceritamu berganti lagi. Dan kali ini lebih lagi. Ia jauh lebih populer dari yang sebelumnya.

Dalam satu forum saja, ada beberapa pasang mata yang memancarkan aura pengharapan padanya. Termasuk kamu. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Meskipun tidak sering juga kamu menatapnya, dan mereka pun, tapi aku tahu. Kali ini kamu bersaing dengan lebih banyak orang daripada segerombolan cewek tukang labrak kemarin.

"Jadi suka sama yang nggak populer, nggak boleh. Suka sama yang populer juga nggak boleh. Kenapa salah terus sih?" kamu mulai protes. Mencuri bisik padaku di sela-sela rapat sore itu.

"Bukan gitu sih maksudnya. Aku nggak melarang kok. Aku cuma ngasih tau kalo dia, dia, dan dia juga suka sama anak itu." aku menyebut beberapa nama.

"Aku nggak peduli. Aku suka aja kok. Nggak berharap apa-apa. Eh berharap sih. Tapi kalopun nggak keturutan juga aku biasa aja. Eh gimana sih. Pokoknya begitu." Ah, kamu malah bingung sendiri.

Aku melanjutkan catatanku. Tapi pikiranku masih terganggu. Kamu sekarang memang semakin populer. Walau memang tidak relevan juga sebenarnya menghubungkan kedua hal itu. Orang yang tidak populer pun berhak punya perasaan terhadap siapa saja. Apa karena itu seleramu berubah?
Pun sebenarnya menurutku ini bukan soal selera. Perasaan dan selera bukan hal yang ekuivalen. Tidak sebanding. Dan aku juga yakin kamu tidak menyadari popularitasmu yang sedang naik itu.

Tapi tunggu...

Tatapan macam apa itu yang barusan dia layangkan padamu. Sesaat memang. Tapi aku melihatnya dengan terang dan nyata. Bukan jenis tatapan yang biasa saja. Duh, bagaimana mendefinisikannya, aku kurang ahli dalam hal ini. Aku hanya tahu begitu saja.

Aku memandang wajahmu sekali lagi. Lekat.

Ah, aku mengerti. Ini ternyata bukan soal populer-tidak populer.

"Ada apa, sih?" heranmu.

"Tidak, tidak ada apa-apa." sepertinya ini cukup aku simpan saja sendiri.
Mampang Prapatan, Rabu, 22 Februari 2017, 14.43 WIB

Tuesday, February 21, 2017

Tamu Bapak (1)

"Dek, jangan pulang dulu. Lagi ada tamu." Pesan singkat dari Bapak muncul di ponsel pintarku beberapa saat setelah aku menjejak turun dari metromini. Tepat di depan gang rumah.

"Yah, Pak, udah di depan."
"Tunggu di pos kamling aja dulu. Kalo lama, kamu ke rumah Bi Upi aja. Bapak udah bilangin."

Tumben. Nggak biasanya Bapak bersikap aneh seperti ini. Ini sudah lepas Isya'. Biasanya Bapak malah sibuk nelponin anak gadisnya yang super sibuk ini kalau belum pulang juga. Tamu?  Sering juga kok aku pulang saat masih ada tamu Bapak di rumah. Biasanya sih Mang Ojak, rival catur Bapak.

Tapi aku menurut. Berjalan dari depan gang ke pos kamling harus melewati rumah. Tidak ada Mang Ojak di kursi depan. Tempat biasa dia main catur sama Bapak sampai larut malam. Tapi...

Ada sepeda motor yang terparkir di halaman. Motor yang selalu kau gunakan menemani semua aktivitas padatmu. Motor matic biasa keluaran dua tahun lalu. Pemberian kakek, katamu, sebelum beliau meninggal Muharrom lalu. Motor yang sering juga kupinjam untuk memenuhi beberapa tugas. Mana bisa aku tidak mengenalinya.

Tamu Bapak dan motor itu, motormu. Dua hal yang tidak bisa ketemukan relasinya. Atau lebih tepatnya, aku tidak berani menghubung-hubungkannya. Bapak dan pemilik motor itu, kamu. Dua orang yang aku yakin sekali tidak punya irisan sosial apapun sebelum ini.

Menunggu di pos kamling menjadi acara paling tidak terdefinisi seumur hidupku. Berkali kulihat jam tanganku yang kali ini rasanya seperti berputar sangat lambat.

Sore tadi, selepas rapat, kamu memang segera pamit. Kami maklum, orang sibuk sepertimu pasti tidak akan menyia-nyiakan waktu produktif. "Sholat maghrib di tempat tujuan," katamu.

Sementara aku dan beberapa teman perempuan melanjutkan aktivitas dengan makan malam di cafe dekat kampus. Setelah itu baru aku pulang. Tapi tumben. Kereta tidak sepenuh biasanya. Metromini pun begitu. Jalanan lancar. Seolah mengantarku mengejar sesuatu yang tidak boleh aku lewatkan. Sedikit pun tidak curiga, hanya tidak seperti biasanya saja.

Aku masih sibuk mencerna semua kejadian hari ini ketika aku melihat pintu rumah terbuka. Tidak sulit melihat situasi rumah dari sini. Lebih mudah lagi mengenali siapa yang keluar dari pintu depan. Kamu, lalu Bapak. Bapak melihat ke arahku. Tapi tidak terlihat raut wajahnya karena mata minusku. Yang selanjutnya kulihat adalah bagian belakang motor matic merahmu yang berjalan ke arah jalan raya.

"Assalamu'alaikum," ucapku saat masuk rumah, kemudian mencium tangan Bapak. Bapak menjawab sambil tetap memandangi televisi di depannya. Tapi ketika aku mulai menaiki tangga menuju kamar, Bapak berkata,

"Dek, habis bersih-bersih, Bapak mau bicara," Bapak masih terlihat tidak peduli dengan mata yang tertuju pada televisi. Wajah Ibu yang baru keluar dari kamar pun tidak memberi petunjuk apa-apa.

Aku tidak bertanya. Tidak pula menanggapi. Tapi lima belas menit dari sekarang, aku pasti sudah akan ikut duduk bersama mereka berdua. Aku hanya tidak berani berprasangka apapun.

Mampang Prapatan, Selasa, 21 Februari 2017, 23.49 WIB

 Baca juga :
Tamu Bapak (2)
Tamu Bapak (3)
Tamu Bapak (4) - ed. Rahmi dan Syayma
 

Monday, February 13, 2017

Nyanyak Pelupa

Nyanyak orangnya pelupa. Lupa di mana letakkan dompet, lupa apakah sudah makan atau belum, bahkan pernah lupa pakai kerudung saat keluar rumah.

Baba orangnya emosional. Baba baik, tapi gampang marah. Baba mudah tersinggung, dan kalau marah besar suka destruktif, menghancurkan benda yang ada di dekatnya, semahal apapun benda itu. Sifat Baba yang satu itu membuat anak-anaknya tidak terlalu nyaman di rumah, sebal kepada Baba, meskipun mereka tahu, mereka menyayanginya.

Baba sering marah kalau Nyanyak lupa sesuatu. Pernah waktu mau pergi bersama keluarga ke tempat rekreasi, Nyanyak lupa di mana letakkan dompet. Satu jam seisi rumah kelimpungan mencari dompet itu. Baba pusing. Dia bukannya ikut mencari malah marah-marah. Situasi rumah jadi tidak enak. Akhirnya semua batal pergi ke tempat rekreasi meskipun akhirnya dompet itu ditemukan di pojokan meja makan.

Tapi mungkin beruntung bagi Baba karena Nyanyak pelupa. Nyanyak sayang sekali sama Baba. Jadi Nyanyak mudah lupa perlakuan buruk Baba ke Nyanyak. Sehebat apa pun pertengkaran mereka, Nyanyak tidak pernah mengingatnya.

Suatu malam Nyanyak bertanya pada anak-anaknya yang sedang belajar dan mengerjakan PR.
"Emangnye Baba lu pade 'tu pemarah ye?" tanya Nyanyak sambil menghitung hasil jualannya hari itu.

Anak-anaknya hanya mengernyit heran. Heran karena tiba-tiba Nyanyak bertanya demikian. Heran karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mudah dijawab seolah hanya dengan melihat wajah Baba saat sedang diam.

"Ye, Nyanyak nanya nih. Lu pade malah main pelotot-pelototan. Awas copot 'tar 'tu bola mate."

"Nyak, Nyanyak ngetes apa gimana nih?" akhirnya si sulung yang buka suara.

"Abisan Lu pade ampe segitunye ke die." polos sekali Nyanyak mereka ini.

"Nyak, Nyanyak ga inget apa kemaren Baba udah ngacurin TV kita?" protes si bungsu.

"Itu Nyanyak inget lah. Tu masih ada bangkenye. Waktu itu Baba lu pade lagi capek. Lu tau sendiri capeknye ngojek 'tu gimane. Lagian 'tu tipi kan emang udeh somplak. Tar besok Nyanyak beli lagi kalo ada rejeki." Terlalu mudah, Nyak.

"Nyak, Nyanyak kan nyerasa sendiri gimana kalo Baba udah marah. Nyanyak setiap dimarahin Baba juga malah ngomelnya ke kita. Seolah-olah saat itu Nyanyak sangat membenci Baba. Terus sekarang Nyanyak nanya kayak gitu ke kita." Yang tengah angkat bicara.

"Emang Nyanyak pernah ngomong gitu ke lu pade? Emangnya Nyanyak benci sama Baba?" dua anak Nyanyak menutup buku mereka dan pergi ke kamar masing-masing. Sebal dengan jawaban Nyanyak. Tinggal si Sulung yang kemarin baru lulus SMA yang tinggal di ruang tamu sambil membantu Nyanyak yang sudah beralih menyiangi sayuran.

"Nyak, Nyanyak jawab sendiri aja pertanyaan Nyanyak. Nyanyak yang lebih tau. Nyanyak yang lebih lama bareng-bareng Baba. Kita anak kecil nggak tau apa-apa, Nyak." pungkas si sulung. Mereka berdua masih duduk di ruang tamu cukup lama setelah itu. Tapi dalam keadaan saling diam.

Nyanyak pelupa. Nada pertanyaan Nyanyak malam itu benar-benar bertanya. Seolah-olah dia tidak mengingat sama sekali semua perlakuan yang begitu membekas di anak-anaknya. Seolah Nyanyak selalu punya ruang baru untuk Baba. Tapi seharusnya Baba bersyukur punya Nyanyak. Yang pelupa, makanya selalu melupakan perlakuan buruk Baba padanya. Yang meskipun pelupa, ia selalu mengingat bagaimana mereka semula saling mencintai dan selalu.

Dan tiga anak Nyanyak maklum. Tiga anak Nyanyak, yang meskipun kesal, tetap menyayangi Nyanyak begitu adanya. Karena Baba tidak selalu bersikap buruk. Dan karena selama Nyanyak begitu, keluarga mereka akan tetap utuh.


Masjid Ukhuwah Islamiyah, 13 Februari 2017, 17.42

Monday, February 17, 2014

Rumah

"Ini tentang sesuatu yang perlahan berhenti

Sangat perlahan

Sampai aku hampir tidak sadar ketika

Sesuatu itu telah benar-benar berhenti

Dan semoga ini telah benar-benar berhenti..."



Rumah itu akan direnovasi (lagi). Pemilik rumah bermaksud menambah satu ruangan lagi. Meskipun satu ruang yang dibangun belum terlalu lama itu sudah ditinggal penghuninya, sang pemilik rumah tidak ingin ruangan itu diisi oleh orang lain. Ah, meskipun sudah terlalu banyak ruang di rumah itu yang juga sama kosongnya, ia tetap bersikeras membangun satu lagi ruang baru. Setiap ruangan memiliki warna dan aroma tersendiri. Ia tidak ingin kehilangan warna dan aroma itu.

Penghuni yang lama itu telah ia usir secara halus. Karena ia tahu, dia sudah tidak lagi nyaman tinggal di situ tapi terlalu sopan untuk mengatakan hal-hal menyakitkan semacam perpisahan. 

Penghuni baru sudah menunggu di teras depan. Sudah seminggu ia bermalam di sana. Menunggu rumah itu benar-benar kosong. Karena meskipun berisi banyak ruangan, udara di rumah itu hanya cukup untuk satu orang. Dan kini ia harus benar-benar bergegas. Membenahi perabotannya, memastikan tidak ada yang tertinggal dari penghuni sebelumnya. Meskipun itu terlalu berat untuknya. Sangat berat.

Tapi tetap ada satu ruangan. Jauh lebih besar dari ruangan-ruangan lainnya. Yang tetap terkunci rapat. Hanya ia yang memiliki kuncinya. Rutin ia bersihkan ruangan itu dari debu-debu. Tetap ia perbarui wanginya. Dan selalu ia rawat kesyahduannya. Sampai suatu saat nanti ia menemukan orang yang tepat untuk menghuni ruangan itu. Mungkin bukan sekarang, bukan untuk si penghuni baru yang sudawh seminggu bermalam di teras itu. Tapi segala kemungkinan lain bisa saja terjadi. Ia tidak pernah tahu.


"... tapi kalau ternyata memang belum berhenti
Pukul saja aku
Biar aku sadar
Biar aku terbangun
Dari buaian mimpi beraroma tuak itu"