Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Sunday, February 19, 2017

Sibuk

Orang yang mencintai adalah orang yang paling sibuk
Kamu sibuk ingin tahu apa obrolan yang dia kirimkan pada temanmu
Kamu sibuk menyamakan jadwalmu dengannya
Kamu sibuk menutupi kekurangannya di depan yang lain
Kamu sibuk menyamakan frekuensi langkahmu dengannya
Kamu sibuk mencurahkan energimu padanya
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Tapi ternyata aku lebih sibuk
Memantau gerak-gerikmu

Ahad, 19 Februari 2017

Monday, February 13, 2017

Nyanyak Pelupa

Nyanyak orangnya pelupa. Lupa di mana letakkan dompet, lupa apakah sudah makan atau belum, bahkan pernah lupa pakai kerudung saat keluar rumah.

Baba orangnya emosional. Baba baik, tapi gampang marah. Baba mudah tersinggung, dan kalau marah besar suka destruktif, menghancurkan benda yang ada di dekatnya, semahal apapun benda itu. Sifat Baba yang satu itu membuat anak-anaknya tidak terlalu nyaman di rumah, sebal kepada Baba, meskipun mereka tahu, mereka menyayanginya.

Baba sering marah kalau Nyanyak lupa sesuatu. Pernah waktu mau pergi bersama keluarga ke tempat rekreasi, Nyanyak lupa di mana letakkan dompet. Satu jam seisi rumah kelimpungan mencari dompet itu. Baba pusing. Dia bukannya ikut mencari malah marah-marah. Situasi rumah jadi tidak enak. Akhirnya semua batal pergi ke tempat rekreasi meskipun akhirnya dompet itu ditemukan di pojokan meja makan.

Tapi mungkin beruntung bagi Baba karena Nyanyak pelupa. Nyanyak sayang sekali sama Baba. Jadi Nyanyak mudah lupa perlakuan buruk Baba ke Nyanyak. Sehebat apa pun pertengkaran mereka, Nyanyak tidak pernah mengingatnya.

Suatu malam Nyanyak bertanya pada anak-anaknya yang sedang belajar dan mengerjakan PR.
"Emangnye Baba lu pade 'tu pemarah ye?" tanya Nyanyak sambil menghitung hasil jualannya hari itu.

Anak-anaknya hanya mengernyit heran. Heran karena tiba-tiba Nyanyak bertanya demikian. Heran karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mudah dijawab seolah hanya dengan melihat wajah Baba saat sedang diam.

"Ye, Nyanyak nanya nih. Lu pade malah main pelotot-pelototan. Awas copot 'tar 'tu bola mate."

"Nyak, Nyanyak ngetes apa gimana nih?" akhirnya si sulung yang buka suara.

"Abisan Lu pade ampe segitunye ke die." polos sekali Nyanyak mereka ini.

"Nyak, Nyanyak ga inget apa kemaren Baba udah ngacurin TV kita?" protes si bungsu.

"Itu Nyanyak inget lah. Tu masih ada bangkenye. Waktu itu Baba lu pade lagi capek. Lu tau sendiri capeknye ngojek 'tu gimane. Lagian 'tu tipi kan emang udeh somplak. Tar besok Nyanyak beli lagi kalo ada rejeki." Terlalu mudah, Nyak.

"Nyak, Nyanyak kan nyerasa sendiri gimana kalo Baba udah marah. Nyanyak setiap dimarahin Baba juga malah ngomelnya ke kita. Seolah-olah saat itu Nyanyak sangat membenci Baba. Terus sekarang Nyanyak nanya kayak gitu ke kita." Yang tengah angkat bicara.

"Emang Nyanyak pernah ngomong gitu ke lu pade? Emangnya Nyanyak benci sama Baba?" dua anak Nyanyak menutup buku mereka dan pergi ke kamar masing-masing. Sebal dengan jawaban Nyanyak. Tinggal si Sulung yang kemarin baru lulus SMA yang tinggal di ruang tamu sambil membantu Nyanyak yang sudah beralih menyiangi sayuran.

"Nyak, Nyanyak jawab sendiri aja pertanyaan Nyanyak. Nyanyak yang lebih tau. Nyanyak yang lebih lama bareng-bareng Baba. Kita anak kecil nggak tau apa-apa, Nyak." pungkas si sulung. Mereka berdua masih duduk di ruang tamu cukup lama setelah itu. Tapi dalam keadaan saling diam.

Nyanyak pelupa. Nada pertanyaan Nyanyak malam itu benar-benar bertanya. Seolah-olah dia tidak mengingat sama sekali semua perlakuan yang begitu membekas di anak-anaknya. Seolah Nyanyak selalu punya ruang baru untuk Baba. Tapi seharusnya Baba bersyukur punya Nyanyak. Yang pelupa, makanya selalu melupakan perlakuan buruk Baba padanya. Yang meskipun pelupa, ia selalu mengingat bagaimana mereka semula saling mencintai dan selalu.

Dan tiga anak Nyanyak maklum. Tiga anak Nyanyak, yang meskipun kesal, tetap menyayangi Nyanyak begitu adanya. Karena Baba tidak selalu bersikap buruk. Dan karena selama Nyanyak begitu, keluarga mereka akan tetap utuh.


Masjid Ukhuwah Islamiyah, 13 Februari 2017, 17.42

Monday, January 11, 2016

Sebuah Hadiah

Aku punya hadiah untukmu
Kuperingatkan
Isinya aksara, banyak jumlahnya
Terangkai tapi rumit beruntai-untai
Terbaca tapi kamu harus temukan tafsirnya

Aku punya hadiah untukmu
Sesuatu yang tidak bisa kucerna, tubuhku menolaknya
Ada yang pernah bilang,
Memberi hadiah itu, sesuatu yang juga kita suka
Tapi ini,
Bukan aku tak suka, bukan
Jangan melirikku seperti itu

Aku punya hadiah untukmu
Sampai seribu paragraf kujelaskan, percuma
Kalau kamu tidak membutuhkannya

Kusederhanakan
Aku mencintaimu
Aku merindukanmu
Dalam resah yang menjelma bahagia
Dalam penantian, yang tetap menjadi penantian
Aku mengikut saja

Dari aku yang tidak ingin mengutuk kegelapan, tapi malang, aku tidak sanggup menyalakan bahkan sebuah lilin

Monday, December 16, 2013

Buat apa mencari "cinta"? Cinta tak pergi ke mana-mana. Karena cinta tak berlari. Karena cinta tak bersembunyi. Sebenarnya cinta itu sudah ada pada tempatnya masing-masing. Kau tau? Bahwa cinta akan berlabuh pada pelabuhannya? Bahwa cinta akan mendarat di bandaranya?

Dan setiap perjalanan akan menemui hambatan. Mungkin, cintamu kini sedang mengalaminua. Bersabarlah, itu takdir, kawan!

Terkadang rasanya pengen
BERHENTI!


07:10
@library
- 6/11/12

(dari seorang teman yang ia tuliskan di buku catatanku, tanpa perubahan)

Friday, June 3, 2011

AYAH



Sore hari sepulang sekolah saya pergi ke KOPINMA (koperasi sekolah saya). Saat itu saya sedang berdiri di depan kasir mengobrol dengan si teteh penjaga kasir. Tiba-tiba seorang bapak separuh baya (salah satu staf jajaran tinggi TU di sekolah saya) – kira-kira beberapa tahun lebih tua daripada ayah saya – datang ke kasir dengan membawa 6 bungkus eskrim 1500an di tangannya kemudian meminta plastik. Saya berfikir untuk apa eskrim sebanyak itu. Saya tidak berniat untuk tahu, tapi saya menduga bahwa eskrim itu untuk anak-anak beliau. Saya tiba-tiba teringat pada ayah saya. Subhanallah. Betapa mulianya ayah. Ia masih ingat untuk membawa oleh-oleh buat anak-anaknya di rumah yang menunggu kepulangannya.

Dulu, ketika saya masih berusia 3-4 tahun, ketika saya masih tinggal di Palu, setiap minggu (saya lupa hari apa), malam hari ayah (saya memanggil beliau dengan sebutan abi) saya, rutin mendatangi pengajian. Apabila keberangkatannya pada saat saya masih terjaga, saya selalu meminta di bawakan terang bulan. Dan beliau selalu menepati janji. Bahkan ketika saya sudah terlelap tidur, ayah saya tetap membangunkan saya, sekalipun itu tengah malam untuk memberikan terang bulan pesanan saya. Betapa itu sangat saya ingat sampai sekarang setelah 12 tahun berlalu.

Saya juga ingat belakangan ini – ayah saya yang seorang pegawai KPPN bagian pengembangan pegawai – sering membawa pulang tas, baju, jaket, buku, pulpen, dll dari kantornya. Dan ayah saya selalu ingat anak-anaknya.

“Kakak mau baju ini nggak?” katanya sambil menunjukkan sebuah baju berkapuchon yang bertuliskan HRD dibelakangnya. Lagi-lagi dari kantor. Saya yang ditawari mau saja. Apalagi baju itu kelihatannya enak dipakai.

Sudah tidak terhitung lagi berapa barang-barang dari kantor ayah saya yang diberikan ke anak-anaknya. Terakhir saya melihat ayah saya mengenakan sepasang sandal bermerk X – ketika menjenguk saya di asrama – yang beberapa minggu lalu belum ada.

“Wah, sendalnya X. Mau dong.” Puji saya bercanda. Tapi sebenarnya saya dari dulu selalu menginginkan sandal bermodel laki-laki.

“Mau? Kamu lagi pakai sandal, kan?” Tanya ummi. Saya bingung maksudnya apa. Apa hubungannya saya mau sandal X dengan pakai sandal. Akhirnya saya tahu bahwa maksudnya adalah menawarkan untuk bertukar sandal.

Sebenarnya kalau saya mau, saya bisa saja benar-benar bertukar sandal karena saya benar-benar mau sandal itu. Tapi betapa maruknya saya kalau saya benar-benar mengambilnya. Apalagi saya tahu kalau beberapa minggu yang lalu ayah saya tidak punya sandal. Bahkan, ketika saya lagi pulang ke rumah, saya melihat ayah saya pergi ke masjid menggunakan sandal perempuan.

Kalau sedang marah, ayah saya berkata pada kami (saya dan adik-adik saya):

“Biar, abi pakai sandal jepit biasa. Biar, abi ke kantor pakai kaos aja. Biar, abi nggak punya celana untuk ganti-ganti (celananya beberapa sudah sobek). Biar abi nggak beli baju baru. Tapi yang penting kalian bisa hidup cukup. Bisa sekolah dengan nyaman. Bisa memenuhi kebutuhan kalian.”

Masya Allah, betapa banyak pengorbanan ayah selama ini. Yang jarang kita menyadarinya. Yang jarang diungkapkan ke ‘permukaan’ dimana ibu yang sering disebut-sebut. Betapa ayah tak kalah mulianya dengan ibu. Betapa ayah juga sangat berarti.

Saya jadi teringat sebuah quote yang ditulis oleh teman saya di madding sekolah:

“Ayah bekerja sampai sakit untuk menyenangkan kita. Tapi apakah kita sudah belajar sampai sakit untuk menenangkannya.”

-Anaasiyya Siti Luthfiah-

Quote itu terasa sangat menohok. Kita yang kebanyakan di usia sekolah menengah malah menghabiskan waktu dengan hura-hura. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di sekolah hanya untuk bermain-main. Sementara pedidikan tak lagi murah. Siapa yang telah membayarkan waktu yang pada akhirnya kita sia-siakan itu? Ayah. Siapa yang membanting tulang demi masa depan kita? Ayah.

Ayah selalu ingat anak-anaknya ketika sepulang kerja. Ayah selalu ingat untuk membelikan baju baru untuk kita di malam-malam sebelum lebaran. Ayah selalu memikirkan apa yang terbaik untuk ayah kita.

Love papa.

Special post for my dad. Bambang Kismanto, or he calls him self by Ibadurrahman