Showing posts with label chit-chat. Show all posts
Showing posts with label chit-chat. Show all posts

Wednesday, October 17, 2018

Mental Merasa Memiliki Beban Paling Berat

Kadang kita terjebak dalam peran masing-masing. Terpenjara dalam tugas yang kita anggap sebagai beban. Sehingga seringnya kita tidak sempat sowan sejenak, melihat saudara kita dengan perannya yang lain.

Seringnya kita melihat dunia ini dan semua dinamikanya dari sudut pandang kita. Meminta excuses dan rukhshah atas dasar kerepotan kita. Kemudian menyalahkan orang lain yang tidak bisa mengerti kita.

Padahal kita lupa. Bahwa setiap kita memiliki jatah masing-masing. Dengan segala proses dan naik-turun sensasinya. Emosi seringkali ikut bermain dan menguji keikhlasan kita. Sudahkah benar niat-niat kita? Sudahkah kitapun memahami orang lain?

Dan mungkin kita luput bahwa di luar lingkar peran kita, ada peran-peran lain yang juga memiliki tanggung jawab sepadan. Di wajah saudara kita mungkin tidak terlihat gurat keletihan. Tetapi bukan berarti peran mereka lebih ringan.

Bahwa mereka ada bukan untuk mengerjakan bagian kita, perlu kita ingat. Dan bahwa mereka ada untuk membersamai kita dan saling menopang, perlu kita tanamkan dalam-dalam pada default mindset kita. Dan bahwa setiap peran berbeda, tidak akan pernah bisa kita bandingkan ringan-beratnya dengan indikator kita dan beban yang kita tampung, perlu kita luruskan baik-baik.

Dan kepekaan yang kita harapkan tumbuh dari saudara kita, sudahkah kita mengakomodasi mereka dengan empati kita? Sudahkah mereka terpenuhi haknya sebagai saudara kita?

Aku berlindung dari perasaan memiliki beban yang paling berat.

Tumblr, 10 November 2016

Tuesday, October 17, 2017

Ujian Waktu

Mungkin waktu sedang menguji kita. Berapa banyak selisih temu yang terjadi antara kita. Aku datang, kamu pergi. Aku beranjak, kamu sampai.

Kita sama-sama bekerja keras. Menyusutkan jarak antar persona. Melipat waktu antar temu. Kita sama-sama belajar, sibuk dengan diri.

Mungkin waktu sedang menguji kita. Menguji kedewasaan, keteguhan, kesungguhan, dan kesiapan kita.

Ia belum berkenan merestui temu kita. Ia masih menunggu sampai dua di antara kita melewati ujiannya.

Kita masih harus terus belajar. Sambil mencari jalan menuju satu sama lain. Kita masih harus terus bekerja keras. Sampai ia berkenan mengabulkan setiap lembar permohonan menjadi temu yang syahdu. Sesyahdu aamiin yang panjang di setiap penghujung doa kita.

Maafkan aku, mungkin aku yang belum lulus uji.

Sekolahan, ditulis ulang karena teks awal hilang. Selasa, 16 Oktober 2017

Sunday, July 16, 2017

Yang Hilang dari Ghirah Kita

Karena lintasan ide seorang kawan di grup tentang lagu untuk suatu acara dan setelah memikirkan kata-kata untuk teks penguatan ke peserta dauroh, randomly tengah malam ini tiba-tiba terlintas di kepalaku sebaris lirik nasyid lawas, "Barisan mujahid melangkah ke depan, tanpa rasa takut menghalau rintangan."

Karena nggak terlalu yakin dengan keseluruhan liriknya, kuketiklah di google, sebaris lirik itu dan muncullah hasil penelusurannya. Ternyata judulnya Cahaya Abadi yang dinyanyikan oleh Izzatul Islam. Salah satu hasil pencariannya adalah dari youtube yang akhirnya kubuka. Lepas satu video, naturally, aku memilih video lain yang direkomendasikan oleh sang mesin penelusur video tersebut.

Bermunculanlah video-video nasyid lainnya yang sebagian besarnya adalah video lirik karena zaman dulu jarang ada nasyid haraki yang punya video klip. Tapi ada satu video yang sukses menarikku bernostalgia ke masa belasan tahun silam. Saat nasyid haraki sedang panas-panasnya membakar ghirah aktivis-aktivis dakwah masa itu, bahkan sampai ke anak-anak mereka yang salah satunya adalah aku. Video itu menampilkan slide foto-foto dokumentasi salah satu munashoroh di suatu daerah. Tentu saja aku jadi ikut hanyut ke dalam nostalgia.

Ia masuk ke sekolah-sekolah IT. Menjadi genderang penyemangat di jambore-jambore dan aktivitas kepanduan SIT (sekarang Pramuka SIT). Ia diperdengarkan di munashoroh-munashoroh Palestina dan aksi-aksi lainnya. Ia diperdengarkan di agenda-agenda syiar dakwah dari tingkat nasional sampai ke Rohis-rohis sekolah. Ia menjadi penghidup dan pengikat semangat.

Semangat dan ghirah yang mengalir sampai ke ubun-ubun ketika mendengar nasyid-nasyid itulah yang membuat aku, teman-temanku, dan mungkin anak-anak ikhwah lainnya pada masa itu mematri cita-cita yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami: "Aku akan jadi seperti Abi dan Ummi ketika besar nanti."

Padahal mereka (termasuk aku juga di dalamnya) mungkin belum tahu. Apa sesungguhnya yang dilakukan oleh Ummi-Abi mereka di dalam ta'lim-ta'lim pekanan. Yang mereka tahu, mereka akan bertemu dan bermain dengan teman-teman sebaya mereka ketika ikut orang tuanya ke majelis tersebut.

Padahal mereka tidak tahu. Untuk apa sesungguhnya munashoroh yang dilakukan orang tua mereka di jalanan. Yang mereka tahu, mereka akan bersama-sama mengibarkan atribut bendera Palestina kecil-kecil dan berlarian dengan teman-teman mereka. Dan mereka akan ikut-ikutan berteriak tabir sekencang-kencangnya.
Tapi dengan yakinnya, dalam hati mereka berkata : "Saat besar nanti, aku yang akan membawa bendera besar itu." Sambil berloncatan mengikuti irama nasyid haraki yang sedang dikumandangkan.

Waktu berjalan, belasan tahun berlalu. Entah apakah ini juga dirasakan oleh anak-anak ikhwah sepertiku di luar sana, atau aku saja. Nasyid-nasyid haraki semakin jarang diperdengarkan. Terlebih karena tidak banyak nasyid baru yang diproduksi beberapa tahun ke belakang. Tidak terlihat secara signifikan pula regenerasi tim nasyid-tim nasyid haraki. Posisinya perlahan digantikan nasyid-nasyid mellow yang belakangan mulai lebih sering ngomongin soal "jodoh". Oh, tentu saja aku tidak menyalahkan keberadaan nasyid melow. Aku juga suka mendengarkan edcoustic dan beberapa tim nasyid lain yang lebih kontemporer (walaupun sekarang tetap saja sudah terhitung jadul).

Munashoroh sekarang menjadi barang langka. Kumpul besar-besaran pun terakhir sudah beberapa tahun yang lalu. Paling-paling yang tersisa tinggal kampanye-kampanye politik (aku juga tidak mengambinghitamkan ini).

Acara-acara kampus sudah dikemas menjadi acara yang lebih ramah. Nasyid-nasyid yang diperdengarkan juga tentunya harus menyesuaikan. Maher Zain dan nasyid lain dari luar mulai menghiasi acara-acara lembaga dakwah. Dan sudah pasti lagi-lagi aku tidak boleh menyalahkan kondisi ini. Dalam berdakwah, kita harus mengikuti perkembangan zaman dan memahami bahasa kaum, bukan?

Tapi sayang, dauroh kampus (yang pesertanya lebih spesifik) pun ikut-ikutan mengeliminasi nasyid-nasyid haraki. Takut terlalu keras bagi peserta katanya. Takut dicap pengurus partai juga. Takut dianggap radikal. Dan macam-macam ketakutan lainnya. Lalu di mana kita bisa menemukan situasi yang tepat untuk membakar lagi semangat dakwah. Ketika di dauroh anggota intinya saja sudah jarang terdengar nasyid-nasyid tersebut.

Aku selalu menghibur diri dengan, "Ah, dakwah kita bukan tentang simbol semata. Tanpa nasyid-nasyid itu, esensi dakwah kita tetap berjalan. Kita dapat menggali lagi semangat dari buku-buku." Tapi siapa pula yang tidak rindu?
Kadang, yang membuat tambah sedih adalah ketika mendapati reaksi kawan sesama anggota inti di kampus ketika mendengar nasyid haraki, tetapi reaksinya negatif. "Ngapain sih lagu begituan mulu yang disetel." Ada lho, yang begitu. Sedih sekali mendengarnya.

Maka ketika menemukan teman yang punya minat yang sama terhadap nasyid haraki, senangnya luar biasa. Seolah menemukan titik cerah dalam ruang gulita (ah, lebay). Sekarang, tidak lagi mudah menemukan orang yang bisa diajak bersenandung bersama. Berangkulan, sambil loncat-loncatan, tangan mengepal dan meninju-ninju udara, sambil mengikuti nasyid haraki yang sedang diputar. Alhamdulillah, tetap ada. Tapi tidak banyak.

Kini, impian masa kecilku masih ada. Tetapi aku khawatir ia meredup. Ditutupi oleh ketakutan dan ketidakpercayadirian akan identitas diri. Takut dibilang ini, takut dicap itu. Impian masa kecil yang coba diperbarui sejak ikut terluka dan trauma dari tahun 2012. Impian itu masih ada. Tapi ada pemantik yang hilang. Hilang dari agenda-agenda penguatan kita. Hilang dari reminder-reminder kita.

Mungkinkah ia juga harus menjadi yang tersingkir karena pergeseran zaman? Mungkinkah ia harus digantikan oleh cara yang lebih efektif dan kekinian dalam menyalakan kembali ghirah para aktivis? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku rindu.

Rumah, Ahad, 16 Juli 2017, dini hari
Sore nanti akan ada agenda konsolidasi

NB: di luar sana, mungkin masih banyak yang menyetelkan nasyid haraki di dalam agenda dauroh kampusnya. Jadi meskipun bahasanya seperti men-generalisasi, aku justru berharap kenyataannya tidak generalisasi dari fenomena yang kutangkap.

Friday, June 9, 2017

Ternyata

Kamu tidak tahu seberapa sedang hancur leburnya hatinya ketika kamu berkata sedikit keras terhadapnya. Ternyata ia sedang berada di titik terentannya sehingga kata-katamu semakin menghancurkannya.

Kamu tidak tahu seberapa besar beban masalah yang sedang ditanggungnya ketika kamu menilainya sedikit tajam. Ternyata ia sudah menyalahkan dirinya sendiri sepanjang hari sehingga penilaianmu semakin membuatnya merasa gagal.

Kamu tidak tahu dia sudah bersabar sebelum akhirnya kamu pecahkan kesabarannya karena ketidaksabaranmu terhadapnya. Ternyata ia sudah banyak menahan diri sehingga tekanan darimu membuatnya meledak dan semakin terluka karena ia merasa gagal mengendalikan kesabarannya.

Ternyata dia tengah menyimpan sesuatu. Sesuatu yang tidak seorang pun dia beri tahu. Bahkan untuk bercerita pada dirinya sendiri pun ia takut ada yang mendengarkan.

Ternyata dia tengah meredam pilu sendunya luka jiwanya. Patah hatinya berkeping yang dengan gemetar ia rangkai kembali susah payah.

Ternyata dia tengah membangun tanggul-tanggul yang menopang kekuatannya. Membendung kesedihannya. Menekan amarahnya.

Ia bahagia tapi tidak bahagia. Langkah ringannya tak siratkan kalut pikirannya. Tawa renyahnya tidak suarakan lengking nestapanya. Binar cemerlang matanya memang meredup. Tapi mungkin kamu tidak sepeduli itu untuk menyadarinya. Ternyata, kamu tidak banyak tahu tentangnya.

Kamu tidak tahu, betapa sedang hancur leburnya hatinya saat kau tudingkan jari telunjukmu untuk menghakiminya. Kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya. 

Sampai kamu berada di posisinya. Sampai kamu merasakannya sendiri.

Home, a while after midnight

Friday, May 26, 2017

Jalan


Ternyata hari ini, tujuh tahun yang lalu, adalah pengumuman penerimaan siswa baru IC angkatan 16. Yang alhamdulillah, hasilnya diterima.

Saat itu, aku harus melepas sekolah lain padahal sudah daftar ulang. Saat itu, nggak pernah berharap banyak bisa keterima di IC. Saat itu juga sudah siap-siap masuk sekolah lain, sekolah yang sudah diinginkan sejak kelas 6 SD karena sebagian besar teman SD masuk ke MTs-nya.

Hikmahnya? Masih berusaha dirangkai. Bukankah hidup adalah serangkaian hikmah yang harus terus dicari, dirangkai, kemudian diresapi? Kalau kata wali asramaku dari kelas sepuluh sampai dua belas, kadang, kita baru akan mengerti maksud dari suatu simpul kehidupan kita bertahun-tahun setelahnya. Mungkin sekarang sudah sedikit terjawab. Tapi belum sempurna.

Kalau saja jadi di sekolah itu, sekarang mungkin masih semester 6 karena sekolahnya 4 tahun, atau bisa juga semester 8 kalau cukup pintar untuk bisa loncat kelas. Punya kelompok pertemanan yang pasti berbeda. Mungkin juga akan punya cara pandang yang berbeda. Kita tidak akan pernah tahu kan?

Kita tidak akan pernah tahu akan jadi seperti apa kita kalau menempuh jalan yang berbeda. Karena hidup adalah sekumpulan pilihan di atas konteks dan kondisi. Sekalipun kita menghadapi pilihan yang sama dua kali, mungkin kita akan menjatuhkan keputusan pada pilihan yang berbeda, tergantung konteks saat itu. Hasilnya pun belum tentu sama. Karena akan bergantung pada kondisi sekitar kita. Misteri? Allah Maha Tahu.

Di kampus, beberapa kali bertemu dengan orang yang berkata padaku, "Jadi kamu anak IC? Dulu aku pengen banget masuk situ. Tapi ga keterima..." Itu namanya takdir. Bukan soal siapa yang lebih pintar, tapi jalannya memang bukan di situ. Kadang jadi membayangkan juga seandainya dia juga diterima. Akankah kami berteman dekat di IC? Akankah kami bertemu kembali di kampus?

Lain waktu, aku yang berkata pada teman kampus yang sekolah di sekolah itu. Iya sekolah itu, yang aku nggak jadi masuk. "Dulu aku mau sekolah di situ. Udah daftar ulang, udah ukur seragam, bahkan katanya masih dipanggil namanya pas orientasi. Tapi nggak jadi. Soalnya orang tua memilih IC."

Ah, bukan juga soal menjadikan sekolah itu sebagai cadangan (seandainya tidak diterima IC). Tapi ya, lagi-lagi, bukan jalannya. Tapi ya, kadang tetap berandai-andai juga. Seandainya jadi sekolah di situ, akan kenal dia, dia, atau dia nggak ya? Akan ketemu lagi di kampus nggak ya?

Yang pasti, garis waktu itu jalannya ke depan. Kalo ke belakang, namanya flash back. Dan namanya juga flash back, ya sekilas-sekilas aja. Seringnya juga ga jelas-jelas amat gambarnya. Jadi ya kita emang nggak akan bisa memperkirakan akan jadi seperti apa kita kalau mengambil jalan yang berbeda. Variabel yang bisa mempengaruhi hidup ini tuh ada banyaaak. Ga akan bisa diperkirakan satu-satu.

Intinya apa? Syukur dan jalan ke depan. Hargai apa yang kita dapat karena memilih sesuatu, bukan meratapi apa yang tidak kita dapat karena tidak memilih sesuatu yang lainnya. Karena bahagia itu, kita juga yang memilih.

Lalu aku, memilih bahagia, dipertemukan denganmu di kurun waktu saat ini. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Karena kalau lebih cepat aku akan bosan, kalau lebih lambat, aku akan bertemu dengan yang lainnya. Haha
Kosan, 26 Mei 2017

Tuesday, March 14, 2017

Tenang

"Jadilah tenang. Karena menjadi lupa sudah tidak mungkin rasanya.
Jadilah tenang. Karena hati yang terlanjur mengenal tidak bisa dengan mudah kembali dari nol."
3 Januari 2017, 22.33 WIB
Saat badai menyurut. Tapi kini harus menghadapi badai yang lebih ganas menggilas semua tanggul ketenangan

Sunday, March 12, 2017

Diam

Dia bilang diam saja. Aku penasaran bagaimana caranya melampiaskan kekesalannya, kemarahannya. Aku tahu kami sama-sama marah. Tapi mengapa ia dapat dengan tenang mengatakan, "Diam saja. Sudah, diam saja."

Saturday, March 11, 2017

Kau dan Malam Ini

Malam ini panjang sekali rasanya. Rupa-rupa emosi seperti teraduk-aduk dalam diri ini. Tersakiti dan merasa menyakiti. Ada ego yang meninggi, ada harga diri yang terjerembab.

Malam ini sulit sekali rasanya. Berjalan tertatih. Melihat mengerjap kabur kabur. Bernafas sesak satu satu. Terpejam pun tak kuasa dipaksa. Duduk maupun berdiri semua rasanya salah.

Malam ini rasanya seperti ada yang mau tumpah. Rindu rindu meruah. Terbayang wajah-wajah lelah mungkin juga memendam amarah. Entah pada siapa. Salah satunya pasti padaku.

Malam ini rasanya seperti aku bodoh sekali. Menjadi orang yang paling tidak peka lagi bergengsi tinggi. Hati mengeras tanpa sedikit pun mencoba peduli. Mata terpejam tanpa usaha melihat realita hidup ini.

Tiba-tiba rindu. Pada wajah-wajah itu. Ingin memeluk saat ini juga dalam temu temu haru. Membisik kata-kata indah. Membisik maaf maaf. Membisik ucapan terima kasih. Ah harusnya kuteriakkan saja semuanya.

Tapi aku ini tidak pandai menunjukkan afeksi. Aku pula tidak bisa bertutur lembut. Menghibur menguatkan mendukung membesarkan hati. Aku ini tidak pandai membaca rasa. Tapi seringnya ingin dimengerti. Ah, betapa jahil.

Malam ini seharusnya aku mengerti banyak hal. Seharusnya bisa mengungkapkan banyak hal. Merendahkan hati, meninggikan diri. Bukan sebaliknya.

Maafkan diri yang lemah ini

Rumah, Sabtu, 11 Maret 2017, 23.31 WIB
Tak kan lagi ada rasa bosan, kupastikan, kuyakinkan. Untukmu. Hanya untukmu. Seandainya mampu kutulis namamu di sini...

Sunday, February 26, 2017

Berat


Kadang kita terjebak dalam peran masing-masing. Terpenjara dalam tugas yang kita anggap sebagai beban. Sehingga seringnya kita tidak sempat sowan sejenak, melihat saudara kita dengan perannya yang lain.

Seringnya kita melihat dunia ini dan semua dinamikanya dari sudut pandang kita. Meminta excuses dan rukhshah atas dasar kerepotan kita. Kemudian menyalahkan orang lain yang tidak bisa mengerti kita.

Padahal kita lupa. Bahwa setiap kita memiliki jatah masing-masing. Dengan segala proses dan naik-turun sensasinya. Emosi seringkali ikut bermain dan menguji keikhlasan kita. Sudahkah benar niat-niat kita? Sudahkah kitapun memahami orang lain?

Dan mungkin kita luput bahwa di luar lingkar peran kita, ada peran-peran lain yang juga memiliki tanggung jawab sepadan. Di wajah saudara kita mungkin tidak terlihat gurat keletihan. Tetapi bukan berarti peran mereka lebih ringan.

Bahwa mereka ada bukan untuk mengerjakan bagian kita, perlu kita ingat. Dan bahwa mereka ada untuk membersamai kita dan saling menopang, perlu kita tanamkan dalam-dalam pada default mindset kita. Dan bahwa setiap peran berbeda, tidak akan pernah bisa kita bandingkan ringan-beratnya dengan indikator kita dan beban yang kita tampung, perlu kita luruskan baik-baik.

Dan kepekaan yang kita harapkan tumbuh dari saudara kita, sudahkah kita mengakomodasi mereka dengan empati kita? Sudahkah mereka terpenuhi haknya sebagai saudara kita?

Aku berlindung dari perasaan memiliki beban yang paling berat.

Throw back ke masa-masa akhir tahun 2016, saat semua rasanya berputar di atas satu titik, saat semua hal rasanya menjadi begitu berat untuk ditanggung
Semoga kita menjadi insan yang lebih bijaksana
Repost dari Tumblr pribadi

Friday, July 1, 2016

Asyrul Awakhir Ramadhan 1437H : Mengetuk Pintu Taubat

[Catatan Kajian Ba'da Zuhur]
Tazkiyatun Nafs-Membuka Pintu Taubat
Oleh: Ust. Ade Purnama, Lc. MA

24 Ramadhan 1437 H
Masjid Baitut Taqwa-Kantor Pusat Bea Cukai

Kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Kita dianjurkan untuk menperbanyak taubat dan istighfar. Beberapa alasan mengapa kita harus memperbanyak Isthighfar dan Taubat. Khususnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

1. Manusia adalah tempat salah , maka taubat menjadi kebutuhan

Sama seperti manusia butuh makan, minum, dan istirahat. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah saw. bersabda : "Sungguh Allah lebih mencintai hamba yang bersalah kemudian bertaubat, daripada yang tidak bersalah sama sekali (seandainya ada)."

‎وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾؅
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." {Q.S. Ali Imran : 134}

Pelajaran ayat : jangankan manusia secara umum. Hatta orang yang bertakwa pun bisa melakukan kesalahan dan dosa. Tapi bedanya mereka buru-buru bertaubat kepada Allah.

2. Sebagai orang beriman, kita diperintahkan Allah untuk bertaubat

‎وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١﴾؅
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." {Q.S. An-Nur : 31}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)." {Q.S. At-Tahrim : 8}

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziy : dua ayat ini adalah ayat madaniyah, ayat yang turun dalam periode Madinah. Di mana yang menjadi objeknya adalah orang-orang beriman yang sudah teruji keimanannya. Sudah beriman, berhijrah, dan berjihad. Masih diperintahkan bertaubat juga. Maka apalagi kita yang keimanannya belum teruji. Sebagai orang beriman, kita diperintahkan untuk bertaubat.

Jadi taubat itu bukan hanya diperintahkan untuk tukang maksiat, tetapi diperintahkan kepada orang beriman, termasuk kita di dalamnya.

3. Sebagai seorang muslim, kita wajib mengikuti Rasulullah yang dalam sehari tidak kurang 70-100 kali beristighfar

Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata: "Demi Allah, aku dalam sehari beristighfar tidak kurang dari 70 kali"

Itu Rasul, yang pasti masuk surga, yang dosanya sudah terampuni, yang tidak pernah melanggar aturan Allah, dalam sehari tidak kurang dari 70 kali beristighfar. Bandingkan dengan kita yang dari ke hari tidak lepas dari maksiat.

Ibnu Umar pernah menghitung, di sebuah majelis, Rasulullah seratus kali membaca : رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور

4. Sebagai hamba Allah, kita butuh cintanya Allah dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat

‎إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾؅
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." {Q.S. Al-Baqarah : 222}

Dalam sebuah hadits : "Sungguh Allah swt berbahagia menerima taubat seorang hamba, melebihi kebahagian seorang pengembara yang sedang melakukan perjalanan, tiba-tiba untanya hilang kemudian datang kembali*. Sehingga Allah swt membentangkan ampunan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang salah di siang hari. Dan membentangkan ampunan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang salah di malam hari. Sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari kiamat)."
*) : Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seorang pengenbara yang kehilangan unta yang di atasnya ada semua perbekalan, makanan, minuman, dan pakaian. Dicari tidak ketemu, sampai ia putus asa dan duduk di bawah pohon kurma. Saat sedang putus asa, unta tersebut datang kembali dengan perbekalannya yang masih utuh. Saking bahagianya, ia pegang tali kekang unta tersebut erat-erat supaya tidak hilang lagi. Ia sampai salah ucap : اللهم انت عبدي و انا ربك (Ya Allah engakaulah hambaku dan Akulah rabbmu), padahal maksudnya اللهم انت ربي و انا عبدك (Ya Allah, Engkaulah rabbku dan akulah hamba-Mu).

5. Memperbanyak taubat adalah kunci segala kesuksesan

Dari Imam Hasan Al-Basri :

Seorang pebisnis datang kepada Hasan Al Basri menceritakan masalahnya. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang wanita yang belum dikaruniai anak datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang petani yang gagal panen datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang pengusaha yang banyak hutang datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Sampai ada dua puluh orang yang datang dengan dua puluh pertanyaan yang berbeda, jawaban Hasan Al Basri hanya satu: "Perbanyak Istighfar"
Muridnya penasaran, ada apakah dengan Hasan Al Basri. Apakah ilmunya habis, sampai semua persoalan jawabannya hanya satu. Kemudian ia bertanya kepada Hasan Al Basri. Jawaban Hasan Al Basri : Karena begitulah yang diajarkan Al Quran. Dalam surat Nuh ayat 10-12.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾؅
‎يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾؅
‎وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴿١٢﴾؅
"(10) maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, (11) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
________

Oleh karena itu, paling tidak setiap hari kita membaca sayyidul istighfar:

‎للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

atau : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيهِ

atau : ‎رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور

atau : اَسْتَغْفِرُالله الْعَظِيْم

atau yang murah meriah : رَبِّ اغْفِرْلِيْ

atau taubatnya Nabi Yunus a.s. : لَا اِلٰه اِلَّا اَنتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
apabila dalam masalah yang pelik bisa membaca taubat dan istighfar ini seperti Nabi Yunus

atau doanya Nabi Adam a.s. : رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Inilah istighfar dan taubat yang harus kita perbanyak terutama di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dalam rangka mengetuk pintu taubat.

Ada satu lagi yang lebih spesial, salah satu doa taubat
اللهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَى فَاعْفُ عَنِّي

Kata ahli hadits, apa bedanya ampuni aku dengan maafkan aku? apa bedanya فَاغْفِرْلِي dengan فَاعْفُ عَنِّي?
Bedanya adalah, kalau "Ampuni aku" di catatan dosa kita tertulis kita berbuat dosa, tapi dicoret. Catatannya masih ada cuma dicoret aja. Kalau "Maafkan aku" catatannya juga dihapus, ga jadi dicatat.

Tambahan satu lagi: berdoalah dengan تَضَرُّعًا وَ خُفْيَةً , penghormatan dan penuh rasa takut.
والله اعلم ب الصواب
------akhir dari kajian------

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung. Terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Aamiin.
------

Dicatat dan ditulis kembali oleh :
Kholifatul Mursyidah
Pembinaan dan Kaderisasi
Formasi 26
#OurEpicVoyage

Monday, January 13, 2014

Let It Be atau Let It Flow?

“Lebih setuju Let It Be atau Let it Flow?”
Ini untuk kamu yang memilih untuk berhenti berharap. Memilih untuk sadar posisi dan sadar diri. Mencatut kata-kata saya sendiri : sekeras apapun saya berusaha menghilangkan batas, saya tetap tidak bergerak ke mana-mana. Untuk kamu yang sudah cukup puas dengan posisimu sekarang.

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan teman saya suatu malam. Lagi-lagi bicara soal hati. Waktu itu teman saya menyarankan saya menulis lagi. Seolah-olah sebelumnya saya sangat rajin menulis. Padahal saya menulis tergantung mood saya. Kemudian dia menyinggung-nyinggung soal galau (aih, galau lagi, galau lagi). Katanya, saya banyak menulis saat saya sedang sering galau sebelumnya.

Sekarang sih, saya lebih suka nyadar diri. Setelah sms si-dia malam itu (sudah agak lama kalau coba diingat-ingat), saya mencoba lebih banyak menahan  diri, lebih banyak mencoba bersikap biasa, dan lebih memosisikan diri tentunya. Apalagi berharap, buang aja deh jauh-jauh.

Ditanya demikian, saya hanya menjawab itu pilihan yang sulit. Karena menurut saya dua frasa itu adalah kondisi yang sebenarnya berdampingan. Saya sih berkaca pada kondisi saya sekarang ini.

Ketika tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah apa pun, atau lebih tepatnya tidak ingin mengubah apa pun, biarkan saja frasa pertama itu berlaku, Let it be. Yasudahlahya, biarin aja semuanya begini. Mau gimana lagi?

Lalu apa kamu akan baik-baik saja? Iya, lah. Jantungmu nggak akan tiba-tiba berhenti, kan kalau kamu sudah kehabisan harapan soal ini. Ah, masih banyak orang kok di dunia ini. Waktu kamu juga masih banyak. Yah, untuk sekarang, Let it flow ajalah. Biarkan hatimu tetap beresonansi. Biarkan feromonmu tetap bereaksi.

Makanya, Let It Be dan Let It Flow itu tidak bisa dipilih. Adalah sebuah keniscayaan sekaligus konsekuensi ketika kamu memilih untuk tidak mengubah apapun, kamu harus menerima semuanya mengalir dulu. Kalau kata di novel-novel, biarkan waktu yang menjawab. Sekarang urusannya ada pada dirimu sendiri untuk tetap menjaga hatimu, menikmati dulu anugerah Tuhan yang tidak pernah kamu minta itu. Saya sudah memilih dan mencoba menjalankan konsekuensi itu, dan saya baik-baik saja. :)  J

Bagaimana Kalau Nanti...



(*Peringatan : tulisan ini akan beraroma dramatis dan soooo sinetron.)
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah berjodoh dengan si-spesial itu?"

Begitu kira-kira selintas pikiran yang disuarakan teman saya suatu ketika, dulu semasa Aliyah. Waktu itu, ah, namanya juga anak SMA (atau Aliyah), lagi masa-masanya ngomongin soal teman cowok. Apalagi sekolah kami berasrama. Setiap hari bertemu, keponya juga maksimal. Komplit deh.
Tradisi anak asrama juga, rahasia urusan hati, akan jadi rahasia anak satu angkatan. Namanya juga tinggal satu 'rumah'. Makan bareng, belajar bareng, main bareng, tidur juga bareng (tentunya perempuan sama perempuan, laki-laki sama laki-laki, ya). Sulit sekali (kalau tidak bisa dibilang mustahil, karena memang ada beberapa orang yang luar biasa tertutup urusan ini) menyimpan cerita itu untuk diri sendiri.
Tapi, meskipun hampir satu angkatan tau, akan selalu ada orang tertentu yang paling mengerti, bukan? Di mana-mana juga begitu. Tidak hanya berlaku untuk anak asrama saja. Selalu ada orang tertentu yang bisa dijadikan tempat curhat, atau partner berbagi cerita. Seorang teman yang bisa tetap terjaga semalaman untuk berbagi cerita. Selalu ada orang tertentu yang menjadi orang pertama yang tahu.
Ah, saya ingat. Saat kelas dua, ada pelajaran Aqidah Akhlaq tentang futuristik. Seluruh siswa ditugaskan membuat peta hidup dari usia nol tahun sampai usia tujuh puluh tahun. Isi peta hidup dari nol tahun sampai usoa kami saat itu adalah momen-momen penting yang telah terjadi di hidup kami. Sementara unuk usia berikutnya berisi tentang rencana-rencana kami ke depannya. Target-target besar kami, cita-cita kami. Termasuk kapan menikah, kapan punya anak, dan rencana-rencana besar lain.
Saya rasa, ini adalah awal mula pembiaraan yang selalu terasa hangat di angkatan. Menikah. Uuu, rasanya terlalu futuristik? Menurut kami tidak. Saat teman-teman di luar sekolah kami membicarakan pacar atau istilah sejenis, kami berbeda. Ini latar belakang mengapa teman saya bisa sampai mengeluarkan statement yang sudah saya tuliskan di awal. Alasan mengapa kata-kata yang keluar bukan jadi seperti ini :
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah pacaran dengan si-spesial itu?"
Karena apa yang akan terjadi kalau statement pertama benar-benar terjadi, akan jauh lebih kompleks daripada kalau yang terjadi adalah ketika kata berjodoh itu diganti dengan kata pacaran.
Lalu teman saya itu mulai berasumsi, ketika menikah, pasti banyak hal yang tidak lagi menjadi rahasia, bukan? Anggap sekarang kamu adalah seseorang yang ‘jadi’ dengan orang yang pernah mendapat tempat paling special di hati sahabatmu. Dan bukankah tidak lucu kalau suatu ketika kamu mengatakan pada pasangan seumur hidupmu itu : “Dulu si ini suka sama kamu, loh. Setiap saat dia cerita pasti tentang kamu. Blablabla…”
Mungkin bagi kamu dan pasanganmu itu akan terdengar biasa saja kalau sama-sama mengerti kondisinya, dan sama-sama tidak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagaimana dengan harga diri sahabatmu itu? Atau kamu jadi merasa bersalah berkepanjangan pada sahabatmu. Khawatir sahabatmu itu masih memiliki perasaan yang sama, tetapi merelakan semuanya demi kebahagiaanmu? 
Atau bisa saja terjadi kemungkinan yang lebih parah. Jadi ceritanya ternyata pasangan kamu itu ternyata dulunya juga suka sama sahabat kamu. Everything will still be okay if pasangan kamu bukan tipe orang yang berpikir terlalu dalam tentang masa lalunya itu. Tapi bagaimana kalau yang terjadi adalah pasanganmu itu kembali mengingat-ingat perasaannya? Bagaimana kalau yang terjadi adalah penyesalan-penyesalannya yang menyusul kemudian?
Too far? Memang. Namanya juga berandai-andai. Ini hanya bagian dari pikiran-pikiran liar remaja tanggung yang dilarang pacaran baik oleh agamanya, maupun oleh peraturan sekolahnya.
Ada sih, rasa takut itu dalam diri saya. Saya yang selalu tidak pernah bisa menyimpannya sendirian, dan selalu berapi-api ketika menceritakan pada sahabat saya tentang orang yang saya suka. Atau saya juga punya teman yang sangat bersemangat ketika kami sedang quality time berdua, menceritakan segalanya. Termasuk soal, ehm, cowok. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi di masa depan, bukan? Bisa saja saya kelak menjadi pihak mana pun. Ah, terlalu sulit dibayangkan. Semua kemungkinan yang sudah saya sebutkan bisa saja saya alami atau saya lakukan. Haha.
Tapi, guys, yasudahlahya, masa depan itu toh tetap akan menjadi misteri sampai kita tiba pada waktunya. Kalau kata teman saya sih, ya, nikmati saja masa-masa ketika sensasinya masih kamu rasakan. Atau kalau kata teman saya yang lain bisa saja situasi kamu itu bisa kamu jadikan insiprasi yang membuat kamu semakin produktif. Seperti statement teman saya itu, mungkin sebenarnya bisa diperpanjang lagi dan kalau saya rajin, voila! Jadilah novel drama yang dramatis. Haha.
Atau kamu bisa ikuti tips saya satu ini :
Katakan ini pada sahabatmu : “Nanti, kalau kenyataannya ternyata kamu yang jadi sama dia, tolong buat semua ceritaku ini tetap jadi rahasia, bahkan dari pasanganmu itu.” Dan temanmu bisa mengatakan itu juga padamu. Kalian saling berjanji untuk tetap menjaga. Karena perjanjian ini sudah pernah saya lakukan dengan sahabat saya. Minimal, untuk saat ini saya cukup tenang. ^^v kamu juga bisa mencobanya, kok.


{ Didedikasikan kepada para perempuan tangguh berhati nan cantik, teman-teman seperjuangan di kampus Islami, Prestasi, Mandiri, Foranza Sillnova.
 Terutama untuk sahabat saya yang mengeluarkan statement yang kembali saya jabarkan lagi di sini : Itqi Rahmatul Laila. Tetiba kangen sharing lagi sama kamu, qi :”
Dan saya menulis ini karena tiba-tiba teringat statemen itu setelah sekitar dua hari bersama seorang sahabat baru. AHR. Siapa tahu dia yang ‘jadi’ dengan dia.
Baiklah, daripada semakin melantur, saya cukupkan saja.}

Sekian

Sunday, October 20, 2013

Ketika Aku Bertanya Soal...


Semalam aku bertanya pada guru ngajiku. Teh Nurul namanya. 

"Bagaimana komentar teteh soal suka sama lawan jenis?"

Sudah tiga orang aku tanyai soal ini. Dengan redaksi, konteks dan situasi berbeda. Teteh satu ini menjawab :

Itu wajar. Tapi biasanya di usia sekarang, ketika suka sama seseorang itu biasanya karena kagum. Lalu ketika menemukan kekurangan orang itu, akan ilfil seketika.

Aku berpikir tentang sesuatu. Apakah hukum itu berlaku padaku? Kira-kira apa yang akan terjadi padaku? Bukankah biasanya justru orang-orang itu terbutakan ketika melihat kekurangan orang yang sisukai? Tapi aku tidak berkomentar apa-apa sementara si teteh melanjutkan kembali penjelasannya.

Jika diibaratkan hati adalah ruangan, ada sebuah ruangan yang kosong. Yang tak pernah tersentuh siapapun. Yang senantiasa terkunci. Ruang itu harus terjaga tetap kosong. Sampai suatu saat nanti tiba masa yang tepat. Di situasi yang tepat. Akan datang seseorang yang tepat yang membawa kunci tersebut.

Tapi yang namanya perasaan itu tidak boleh ditekan. Karena semakin ditekan akan semakin membuncah. Maka jalan terbaik adalah menyalurkan energi itu ke jalan yang benar. Ke kegiatan yang bermanfaat. Jangan sampai energi itu tersalurkan ke hal-hal yang merugikan sendiri. Jangan sampai perasaan-perasaan semacam ini membuat hidup kita jadi tidak nyaman. Nikmati saja yang ada. Tapi jangan terlena karena setruman-setruman itu. Karena itu syahwati. Datangnya dari syaitan.

Diskusi malam tadi lama-lama menyambung ke soal masa depan dan pernikahan karena pertanyaan teman-teman lain di dalam lingkaran kami. Dan diskusi ditutup dengan pertanyaan : "Memangnya Iffah sedang ada perasaan semacam itu?". Aku hanya menjawab dengan senyum.

Meski sebentar, aku senang tanggapan dia tidak menghakimi. Tidak menjawab dengan jawaban "jangan berlebihan", atau langsung menembak "hati-hati itu dari setan", atau ekstrim menyuruh segera berhenti.

Dua orang lainnya yang aku tanyai menjawab dengan jawaban yang menenangkan. Minimal mereka tidak menertawakan aku. Maksimal mereka memberikan solusi.

Nikmati, jalani, banyak berzikir.


Friday, October 18, 2013

Untuk Seorang Teman


Kita dipertemukan oleh-Nya melalu idealisme yang kita pegang. Melalui prinsip yang kita jaga. Melalui visi yang kita miliki. Dan kita dipersaudarakan-Nya.

Tetapi waktu itu, kau tidak ceritakan semua. Kau tak pernah mau berbagi. Satu poin penting dan fatal bagiku. Dan aku baru menyadarinya belakangan. Bahkan bukan darimu langsung. Salahku tak pernah bertanya secara terbuka. Salahku tak pernah bisa menjadi dekat denganmu. Tapi mungkin ini bukan salah siapa-siapa.

Kau membicarakan idealismemu itu. Kau membicarakan visi kita itu. Aku menghargaimu karenana pandangan-pandanganmu. Aku menghargaimu karena kau mengatakan kita memiliki cara pandang dan prinsip yang sama. Kau salah. Aku juga salah tentangmu. Ah, tak seharusnya aku kecewa. Siapalah aku ini.
Kau menemukan pilihanmu. Kau tentukan jalanmu. Itu sepenuhnya ada di tanganmu. Tetapi aku sudah kecewa. Dan bahkan bukan hanya aku yang kecewa.

Semoga kau yakin akan pilihanmu. Bukan sekadar pilihan acak karena terbawa suasana.


untuk #RO

Thursday, October 17, 2013

Potret



Pertigaan kalibata nan pikuk. Jejalan motor, mobil, bis kota, dan angkutan kota berebut lampu hijau yang sebentar-sebentar.

Barisan paling depan motor-motor tak sabar yang bahkan ada yang sampai naik trotoar. Ambil lahan orang. Lahan pejalan kaki yang memang sepi pemakai. Bahkan tutupi jalan ke kiri yang terdapat tulisan "belok kiri jalan terus".

Di belakangnya mobil dan kopaja yang lebih bijak. Tapi jua mengumpat ketika tak sempat dapat hijau. Padahal mereka hanya tertinggal satu detik. Habislah waktunya beberapa menit tunggu hijau muncul lagi.

Di trotoar pojok paling depan, penjual minuman dingin yang selalu siap sedia ketika sopir dan kondektur kopaja membutuhkan. Tak kurang, beberapa pak rokok juga mereka jajakan. Pelepas bosan tunggu sang merah.

Masih dipertigaan yang sama. Nenek buta dituntun seorang anak muda. Anak muda itu benar-benar masih muda. Badannya tegap. Tak terlihat cacat sedikitpun. Ia menuntun nenek buta itu, memegangkan tangan si nenek, menengadah mencari tangan-tangan pemurah yang mau membagi receh. Sadar apa yang janggal? Ya, mengapa bukan si anak muda yang bekerja keras. Menggunakan kekuatannya, bukan mengeksploitasi kecacatan si nenek. Tidakkah ia tahu malu?

Pertigaan kalibata nan riuh. Klakson sambung-sambungan, umpatan sahut-sahutan. Risih telinga. Panas terik pula.

Kopaja penuh sesak. Yang terus ditambahkan penumpang. Kondektur yang tak mau merugi. Kopaja tambah sesak. Ibu-ibu mulai menggerutu. Mengomeli si kondektur yang terus mengambil penumpang. Memaksa bergeser sementara tak ada lagi tempat untuk bergeser.

Sementara dalam kopaja penuh sesak itu, seorang nenek setengah pengamen setengah pengemis memaksa masuk. Mengucapkan kata-kata yang sama setiap ia naik dari bis ke bis untuk mengais receh. Tak peduli bosan para pelanggan kopaja yang sudah kali kesekian mendengar ocehan si nenek. Yang memberi balasan doa jika diberi. Miris.

Sementara beberapa ratus meterdari lampu merah, trotoar beralih fungsi. Tak hanya menjadi lahan berjualan, tetapi juga menjadi pelebaran jalan raya. Motor, angkot, kopaja, naik semua ke situ.

Pertigaan Kalibata yang hiruk pikuk. Antara peduli dan tidak. Kutandai ia dalam pengamatan singkatku. Kupotret ia dalam ingatanku. Lalu berkata, Kapan engkau sembuh?