Showing posts with label analogi. Show all posts
Showing posts with label analogi. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Aku dan Analogi

Kau tahu mengapa waktu itu aku sering membawa buku itu? Buku yang kau pernah tanyakan walau hanya sekilas. Semoga kau ingat. Waktu itu aku membawa dua buku sejenis itu. Kau tahu mengapa?

Karena aku waktu itu begitu ingin menyaingimu dalam kata-kata. Mencoba mengumpulkan larik-larik itu dan mempelajarinya. Mencoba membuat milikku sendiri.

Tapi, sekeras apa pun aku mencoba, sebanyak apa pun buku jenis itu yang kubaca, aku tidak akan pernah bisa menyaingimu. Aku tidak akan mampu.


Maka biarkan aku beranalogi saja. Aku sedang senang beranalogi.

Sepotong Kue dan Tentang Rasa Cemburu



Ketika kamu kehilangan momen yang sebenarnya bisa kamu dapatkan, kemudian orang lain mendapatkannya, adalah hal yang paling menyakitkan.

Mudahnya begini. Kamu suka sekali makan cake misalnya. Teman kamu juga sukaaa banget. Kemudian ada orang baik hati menawarkan cake itu. Kalau kalian berdua sama-sama mau, kalian bisa berbagi, masing-masing setengah. Tapi kamu lagi kenyang. Kenyang sekali. Sementara orang yang menawarkan cake itu hanya menawarkan untuk saat itu. Tidak untuk disimpan. Dengan berat, kamu harus merelakan temanmu memakan seluruhnya.

Segalanya akan jauh lebih mudah kalau temanmu itu tidak menceritakan rasa cake itu dengan maksud untuk memanas-manasimu, bukan? Tapi dia terlalu tega untuk sengaja berbuat demikian. Ia katakan di dalam cake itu ada selai strawberry yang sangat kamu suka. Rasa manisnya tidak menyengat dan tidak akan membuat mual jika dimakan sebanyak apapun. Teksturnya lembut dan tidak pernah ada cake seenak itu. Dan kamu telah kehilangan kesempatan yang entah kapan akan datang lagi. Bahkan mungkin tidak akan datang lagi.

Bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya?

Begitulah.

Kamu ingin sekali membencinya. Tapi temanmu itu biasanya baik. Kamu sudah sangat sayang padanya. Semuanya jadi serba tidak enak di kamu bukan?

Nikmati saja rasa sakit itu.

Berharaplah orang yang menawarkan cake itu mengerti rasa sakitmu, kemudian dia mendatangimu. Seorang diri. Dan hanya ada kamu. Kemudian dia memberikan cake yang jauh lebih enak, jauh lebih besar. Maka berharaplah

Sunday, December 8, 2013

Analogi



Pernah dalam kondisi kayak gini nggak?
Habis olahraga super berat, haus banget, terus di kasih minum. Yang namanya orang kehausan kan nggak cukup ya, seteguk-dua teguk. Lagi nikmat-nikmatnya ngilangin dahaga, tahu-tahu yang ngasih minum ngerebut tempat minum yang lagi kamu tenggak. Kira-kira gimana rasanya?
Itu analoginya. Kamu ngerti nggak?
(Saya sih belum pernah ngerasain ini. Tapi mungkin saya tahu gimana rasanya. Dan berdasarkan kemungkinan itu, saya mengambil situasi ini sebagai analogi)