Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Wednesday, March 22, 2017

Tamu Bapak (3)

Aku memutuskan beranjak dari ruangan kajian saat sesi tanya jawab. Rasanya semua yang disampaikan pemateri di depan tidak ada yang tertinggal di kepalaku. Tidak, aku tidak mungkin pergi dari tempat ini sekarang. Setelah ini masih harus ada evaluasi pelaksanaan. Aku hanya pergi ke kamar mandi untuk membasuh sedikit wajah yang mulai penat ini.

"Bapak tahu kamu tahu siapa yang datang tadi." kalimat itulah yang meluncur pertama kali dari mulut Bapak malam itu, saat aku sudah duduk bergabung bersama Ibu dan Bapak. Malam ketika aku harus menunggu beberapa puluh menit di pos kamling yang tidak terlalu ramai itu.

"Iya, Pak. Tadi Adek lihat motornya dan lihat ketika beliau keluar dari rumah. Bapak kenal beliau?" jawabku sambil mencoba menata ekspresi dan intonasi.

"Ya, Bapak kenal. Sejak tadi maghrib." jawab Bapak singkat.

Tapi ternyata kalimat Bapak belum selesai, "Orangnya seperti apa menurut kamu?"

Aku diam sebentar, "Beliau orang yang baik, Pak. Seorang yang kalau sudah berazzam, azzamnya itu akan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Hanya itu yang Adek tahu, Pak."

Selanjutnya pembicaraan antara aku, Bapak, dan Ibu hanyalah seputar rencanaku ke depan. Kuliahku, aktivitasku, dan beberapa rencana lain di luar kedua hal itu. Obrolan biasa saja yang sudah sering kami bicarakan juga bertiga.

"Dek, jangan telat nanti pulangnya." Begitu pesan Mas Rodhi sebelum aku berangkat tadi pagi.

Setelah berwudhu dan shalat dua rakaat, aku tidak kembali ke tempat kajian.

"Rahmi, lagi puasa nggak?" Syayma tiba-tiba datang dan duduk di sampingku yang masih dalam posisi seperti duduk tasyahud akhir. Aku cuma menggeleng.

"Hayuk beli puding coklat dingin di depan!" Tiba-tiba ia berseru dan menarik tanganku dengan semangat.

"Jadi kamu disuruh pulang cepat? Yaudah, nanti habis eval kamu pulang aja. Biar nanti tahsin aku yang sampaikan izin ke Ustazah." kata Syayma setelah kami membeli puding dan memakannya di teras masjid.

"Sebenarnya bukan itu sih masalahnya. Tapi aku justru jadi nggak mau pulang."

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Ada perasaan nggak enak, takut, dan ada dugaan-dugaan yang muncul di benak aku tapi aku nggak mau menduga-duga."

"Kamu udah lama nih nggak cerita sama aku. Pasti udah banyak cerita yang aku lewatkan."

"Iya, sih, Ma..." aku berhenti, menimbang akan melanjutkan kalimat atau tidak. "Tapi aku kayaknya belum bisa cerita sekarang."

Syayma tertawa. Geli sekali. Aku bahkan tidak tahu letak lucunya di mana.

"Kamu kayak bukan sama Syayma aja. Nggak usah kaku gitu lah. Nih lihat jidat kamu berkerut. Muka kamu tegang. Lemesin, lemesin. Jelek tau." ah, Syayma selalu tahu bagaimana harus memperlakukan aku.

Selanjutnya, pagi tanggung menjelang siang itu, kami hanya duduk di teras dalam diam. Berkutat dengan puding coklat dan pikiran masing-masing, menunggu azan zuhur.

"Mi..."

"Hm..."

"Kamu kalo ada yang ngelamar, kabarin aku ya." Aku hanya menjawabnya dengan tawa tanpa minat. Setidaknya, sekarang aku lebih siap pulang ke rumah meskipun aku tidak menceritakan apapun ke Syayma.
Mampang Prapatan, Rabu, 22 Maret 2017, 13.17 WIB

Thursday, March 16, 2017

Tamu Bapak (2)

Bapak | Gambar diambil dari sini
"Dek, besok kamu pergi?" Setelah makan malam, tiba-tiba Bapak bertanya padaku tidak biasanya. Karena defaultnya, apapun kegiatannya, setiap hari aku pasti pergi pagi kecuali hari Ahad. Ah, akhir-akhir terlalu  banyak sikap Bapak yang tidak seperti biasanya.

Tuesday, March 7, 2017

Aa'

Nenek terobsesi sama Aa'
Adek terobsesi sama Aa'
Sedikit-sedikit, "Aa' nya mana?"
Girang dikit, "Cie, Aa' ya?"
Lain waktu, "Dijemput Aa' ya?"

Atuhlah cuma gara-gara ngomong "Atuh", "mah", sama "punten" aja awalnya. Padahal sesering ngomong "monggo" sama "ndak" juga.

Atuhlah ke mana-mana juga enakan motoran sendiri. Keuntungannya, naik motor tuh nggak macet. Keuntungannya, bawa sendiri tuh nggak pegel dan masuk angin. Pengalaman dibonceng orang, sampe tujuan malah masuk angin.

Lagian...

Siapa pulak Aa' tu...

Dah lah, capek hamba dengarnya




A' dicari nenek tu.

Mampang Prapatan, Selasa, 7 Maret 2017, 21.48 WIB
Dengan penuh gregetan

Monday, March 6, 2017

Mutasi

Kata yang dulu mainstream dibicarakan setiap sudah menetap beberapa tahun di suatu kota. Dari Palu, pindah ke Pekalongan, lalu pindah ke Banjarmasin. Begitulah Abi harus memenuhi tugasnya di Ditjen Perbendaharaan. Otomatis, kami sekeluarga harus ikut Abi pindah.

Abi pertama kali ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah. Aku belum lahir. Tapi karena aku anak pertama sekaligus cucu pertama, Ummi memutuskan untuk melahirkan di Jakarta, kampung halamannya. Sejak bayi sampai TK, aku hidup di Palu. Meskipun nggak banyak yang kuingat.

Mutasi pertama Abi jatuh pada sebuah kota (sedikit) besar di sisi Utara Pulau Jawa, Pekalongan. Dan kota ini, selalu jadi kota yang paling berkesan bagi kami, terutama aku sendiri. 6 masa kanak-kanak kuhabiskan di sini. Pertama mengenal banyak hal, salah satunya persahabatan.

Menjadi keluarga nomaden bukanlah hal yang mudah. Setiap pindah, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tidak boleh punya rencana menetap, harus siap kapan saja harus kembali pindah. Harus siap kapan saja harus berpisah dengan teman-teman.

Pertengahan tahun 2006, pertama kalinya aku mengetahui kata mutasi. Dan pertama kalinya harus merasakan beratnya bersiap berpisah dengan teman-teman, guru-guru, dan tetangga. Abi pindah duluan ke Banjarmasin. Aku, Ummi, tiga adikku, dan satu bayi di perut Ummi, masih menetap di Pekalongan sampai semester berakhir. Awal tahun 2007, setelah adik terakhir lahir, semua pindah ke Banjarmasin. Kecuali aku.

Aku ikut Nenek dan Kakek di Jakarta, melanjutkan semester terakhir SD, sampai menyelesaikan MTs. Meskipun biasa, mutasi tetap bukanlah hal yang mudah bagi kami.

Sampai akhirnya Abi melihat peluang supaya tidak lagi dimutasi. Pindah jobdesc. Apalah istilahnya, aku nggak terlalu paham istilah kementerian. Jadi semacam jurnalis yang membuat Abi harus menetap di kantor pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kami akhirnya sama-sama menetap di Jakarta sampai sekarang.

Aku lupa tahun berapa, Abi kembali mencoba kesempatan yang lebih baik untuk pekerjaannya. Widyaiswara BPPK menjadi salah satu tujuannya menyelesaikan S2. Sebab, salah satu kantor BPPK ada yang bertempat di Magelang, kampung halaman Abi. Kami mulai menyusun timeline. Nanti, kalau Abi sudah punya posisi yang lebih meyakinkan (setelah lulus S3), kami akan pindah ke Magelang sebagai tujuan akhir kami.

Abi sudah bisa membeli mobil. Sudah mulai mencicil tanah di Magelang. Dan dalam waktu dekat akan mulai mencicil bangunan rumah. Kami sangat yakin, lima tahun ke depan, kira-kira semua akan selesai dan kami bisa pindah ke Magelang. Paling tidak, aku sudah selesai S1 juga. Kami sudah mulai membiasakan diri tentang fakta bahwa Jakarta-Magelang bukanlah jarak yang sangat jauh untuk ditempuh bolak-balik. Bersyukur juga sekarang sudah ada Tol Cipali yang disambung Tol Brebes sehingga kami sering memanfaatkannya untuk pergi ke Magelang saat weekend, dan kembali ke Jakarta di weekend yang sama.

Kami akan punya rumah sendiri. Milik keluarga kami sendiri. Kami akan punya kehidupan yang lebih mapan dan menetap. Kami sudah bersepakat.  Lagipula, kami rasa juga masih cukup lama. Lima tahun lagi. Mungkin aku sudah menikah terlebih dahulu. Mungkin aku nantinya menetap di Ibukota dan menjadikan Magelang sebagai tujuan pulang kampungku. Mungkin.

Tapi tiba-tiba, isu itu datang berhembus sayup. Isu yang terakhir kudengar sekitar 11 tahun yang lalu. Mutasi. Jauh lebih cepat dari estimasi waktu kami. Rumah belum dibangun. Mobil dan tanah belum lunas. Apalagi aku belum lulus S1. Apalagi lagi, aku masih sangat nyaman berada di Ibukota, meskipun dengan semua dinamikanya.

Mutasi. Kata yang bukannya traumatik bagi kami. Hanya saja kata itu sedikit mengganggu kemapanan kami. Tetangga, sahabat-sahabat, keluarga. Meskipun kami sudah bersepakat tidak akan selamanya menetap di Jakarta, tetap saja mutasi menjadi hal yang merusak timeline kami. Mengganggu rencana kami. Dan mungkin juga rencanaku.

Kami  bahkan belum tahu Abi akan dimutasi ke mana kali ini. Meskipun Abi sangat yakin akan ditempatkan di Magelang. Dan meskipun masih isu, Abi yakin akan segera terealisasi. Kami, terutama aku dan adik-adikku, masih belum bisa sepenuhnya menerima isu itu. Pura-pura tidak pernah mendengar. Bersikap seolah kita masih akan ada di sini, sampai datang betul masanya di timeline yang telah kami susun.

Kami, terutama aku, masih belum siap menerima perubahan tatanan hidup kami. Aku sepertinya belum siap kehilangan zona nyaman di sini. Dan harus bersusah payah membuat zona nyaman baru di tempat baru nanti.

Atau bolehkah ada pengecualian untuk aku sehingga aku bisa menetap di sini lebih lama? Aku harap iya.

Mampang Prapatan, Senin, 6 Maret 2017, 12.31 WIB

Tuesday, February 21, 2017

Tamu Bapak (1)

"Dek, jangan pulang dulu. Lagi ada tamu." Pesan singkat dari Bapak muncul di ponsel pintarku beberapa saat setelah aku menjejak turun dari metromini. Tepat di depan gang rumah.

"Yah, Pak, udah di depan."
"Tunggu di pos kamling aja dulu. Kalo lama, kamu ke rumah Bi Upi aja. Bapak udah bilangin."

Tumben. Nggak biasanya Bapak bersikap aneh seperti ini. Ini sudah lepas Isya'. Biasanya Bapak malah sibuk nelponin anak gadisnya yang super sibuk ini kalau belum pulang juga. Tamu?  Sering juga kok aku pulang saat masih ada tamu Bapak di rumah. Biasanya sih Mang Ojak, rival catur Bapak.

Tapi aku menurut. Berjalan dari depan gang ke pos kamling harus melewati rumah. Tidak ada Mang Ojak di kursi depan. Tempat biasa dia main catur sama Bapak sampai larut malam. Tapi...

Ada sepeda motor yang terparkir di halaman. Motor yang selalu kau gunakan menemani semua aktivitas padatmu. Motor matic biasa keluaran dua tahun lalu. Pemberian kakek, katamu, sebelum beliau meninggal Muharrom lalu. Motor yang sering juga kupinjam untuk memenuhi beberapa tugas. Mana bisa aku tidak mengenalinya.

Tamu Bapak dan motor itu, motormu. Dua hal yang tidak bisa ketemukan relasinya. Atau lebih tepatnya, aku tidak berani menghubung-hubungkannya. Bapak dan pemilik motor itu, kamu. Dua orang yang aku yakin sekali tidak punya irisan sosial apapun sebelum ini.

Menunggu di pos kamling menjadi acara paling tidak terdefinisi seumur hidupku. Berkali kulihat jam tanganku yang kali ini rasanya seperti berputar sangat lambat.

Sore tadi, selepas rapat, kamu memang segera pamit. Kami maklum, orang sibuk sepertimu pasti tidak akan menyia-nyiakan waktu produktif. "Sholat maghrib di tempat tujuan," katamu.

Sementara aku dan beberapa teman perempuan melanjutkan aktivitas dengan makan malam di cafe dekat kampus. Setelah itu baru aku pulang. Tapi tumben. Kereta tidak sepenuh biasanya. Metromini pun begitu. Jalanan lancar. Seolah mengantarku mengejar sesuatu yang tidak boleh aku lewatkan. Sedikit pun tidak curiga, hanya tidak seperti biasanya saja.

Aku masih sibuk mencerna semua kejadian hari ini ketika aku melihat pintu rumah terbuka. Tidak sulit melihat situasi rumah dari sini. Lebih mudah lagi mengenali siapa yang keluar dari pintu depan. Kamu, lalu Bapak. Bapak melihat ke arahku. Tapi tidak terlihat raut wajahnya karena mata minusku. Yang selanjutnya kulihat adalah bagian belakang motor matic merahmu yang berjalan ke arah jalan raya.

"Assalamu'alaikum," ucapku saat masuk rumah, kemudian mencium tangan Bapak. Bapak menjawab sambil tetap memandangi televisi di depannya. Tapi ketika aku mulai menaiki tangga menuju kamar, Bapak berkata,

"Dek, habis bersih-bersih, Bapak mau bicara," Bapak masih terlihat tidak peduli dengan mata yang tertuju pada televisi. Wajah Ibu yang baru keluar dari kamar pun tidak memberi petunjuk apa-apa.

Aku tidak bertanya. Tidak pula menanggapi. Tapi lima belas menit dari sekarang, aku pasti sudah akan ikut duduk bersama mereka berdua. Aku hanya tidak berani berprasangka apapun.

Mampang Prapatan, Selasa, 21 Februari 2017, 23.49 WIB

 Baca juga :
Tamu Bapak (2)
Tamu Bapak (3)
Tamu Bapak (4) - ed. Rahmi dan Syayma
 

Monday, February 13, 2017

Nyanyak Pelupa

Nyanyak orangnya pelupa. Lupa di mana letakkan dompet, lupa apakah sudah makan atau belum, bahkan pernah lupa pakai kerudung saat keluar rumah.

Baba orangnya emosional. Baba baik, tapi gampang marah. Baba mudah tersinggung, dan kalau marah besar suka destruktif, menghancurkan benda yang ada di dekatnya, semahal apapun benda itu. Sifat Baba yang satu itu membuat anak-anaknya tidak terlalu nyaman di rumah, sebal kepada Baba, meskipun mereka tahu, mereka menyayanginya.

Baba sering marah kalau Nyanyak lupa sesuatu. Pernah waktu mau pergi bersama keluarga ke tempat rekreasi, Nyanyak lupa di mana letakkan dompet. Satu jam seisi rumah kelimpungan mencari dompet itu. Baba pusing. Dia bukannya ikut mencari malah marah-marah. Situasi rumah jadi tidak enak. Akhirnya semua batal pergi ke tempat rekreasi meskipun akhirnya dompet itu ditemukan di pojokan meja makan.

Tapi mungkin beruntung bagi Baba karena Nyanyak pelupa. Nyanyak sayang sekali sama Baba. Jadi Nyanyak mudah lupa perlakuan buruk Baba ke Nyanyak. Sehebat apa pun pertengkaran mereka, Nyanyak tidak pernah mengingatnya.

Suatu malam Nyanyak bertanya pada anak-anaknya yang sedang belajar dan mengerjakan PR.
"Emangnye Baba lu pade 'tu pemarah ye?" tanya Nyanyak sambil menghitung hasil jualannya hari itu.

Anak-anaknya hanya mengernyit heran. Heran karena tiba-tiba Nyanyak bertanya demikian. Heran karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mudah dijawab seolah hanya dengan melihat wajah Baba saat sedang diam.

"Ye, Nyanyak nanya nih. Lu pade malah main pelotot-pelototan. Awas copot 'tar 'tu bola mate."

"Nyak, Nyanyak ngetes apa gimana nih?" akhirnya si sulung yang buka suara.

"Abisan Lu pade ampe segitunye ke die." polos sekali Nyanyak mereka ini.

"Nyak, Nyanyak ga inget apa kemaren Baba udah ngacurin TV kita?" protes si bungsu.

"Itu Nyanyak inget lah. Tu masih ada bangkenye. Waktu itu Baba lu pade lagi capek. Lu tau sendiri capeknye ngojek 'tu gimane. Lagian 'tu tipi kan emang udeh somplak. Tar besok Nyanyak beli lagi kalo ada rejeki." Terlalu mudah, Nyak.

"Nyak, Nyanyak kan nyerasa sendiri gimana kalo Baba udah marah. Nyanyak setiap dimarahin Baba juga malah ngomelnya ke kita. Seolah-olah saat itu Nyanyak sangat membenci Baba. Terus sekarang Nyanyak nanya kayak gitu ke kita." Yang tengah angkat bicara.

"Emang Nyanyak pernah ngomong gitu ke lu pade? Emangnya Nyanyak benci sama Baba?" dua anak Nyanyak menutup buku mereka dan pergi ke kamar masing-masing. Sebal dengan jawaban Nyanyak. Tinggal si Sulung yang kemarin baru lulus SMA yang tinggal di ruang tamu sambil membantu Nyanyak yang sudah beralih menyiangi sayuran.

"Nyak, Nyanyak jawab sendiri aja pertanyaan Nyanyak. Nyanyak yang lebih tau. Nyanyak yang lebih lama bareng-bareng Baba. Kita anak kecil nggak tau apa-apa, Nyak." pungkas si sulung. Mereka berdua masih duduk di ruang tamu cukup lama setelah itu. Tapi dalam keadaan saling diam.

Nyanyak pelupa. Nada pertanyaan Nyanyak malam itu benar-benar bertanya. Seolah-olah dia tidak mengingat sama sekali semua perlakuan yang begitu membekas di anak-anaknya. Seolah Nyanyak selalu punya ruang baru untuk Baba. Tapi seharusnya Baba bersyukur punya Nyanyak. Yang pelupa, makanya selalu melupakan perlakuan buruk Baba padanya. Yang meskipun pelupa, ia selalu mengingat bagaimana mereka semula saling mencintai dan selalu.

Dan tiga anak Nyanyak maklum. Tiga anak Nyanyak, yang meskipun kesal, tetap menyayangi Nyanyak begitu adanya. Karena Baba tidak selalu bersikap buruk. Dan karena selama Nyanyak begitu, keluarga mereka akan tetap utuh.


Masjid Ukhuwah Islamiyah, 13 Februari 2017, 17.42

Friday, June 3, 2011

AYAH



Sore hari sepulang sekolah saya pergi ke KOPINMA (koperasi sekolah saya). Saat itu saya sedang berdiri di depan kasir mengobrol dengan si teteh penjaga kasir. Tiba-tiba seorang bapak separuh baya (salah satu staf jajaran tinggi TU di sekolah saya) – kira-kira beberapa tahun lebih tua daripada ayah saya – datang ke kasir dengan membawa 6 bungkus eskrim 1500an di tangannya kemudian meminta plastik. Saya berfikir untuk apa eskrim sebanyak itu. Saya tidak berniat untuk tahu, tapi saya menduga bahwa eskrim itu untuk anak-anak beliau. Saya tiba-tiba teringat pada ayah saya. Subhanallah. Betapa mulianya ayah. Ia masih ingat untuk membawa oleh-oleh buat anak-anaknya di rumah yang menunggu kepulangannya.

Dulu, ketika saya masih berusia 3-4 tahun, ketika saya masih tinggal di Palu, setiap minggu (saya lupa hari apa), malam hari ayah (saya memanggil beliau dengan sebutan abi) saya, rutin mendatangi pengajian. Apabila keberangkatannya pada saat saya masih terjaga, saya selalu meminta di bawakan terang bulan. Dan beliau selalu menepati janji. Bahkan ketika saya sudah terlelap tidur, ayah saya tetap membangunkan saya, sekalipun itu tengah malam untuk memberikan terang bulan pesanan saya. Betapa itu sangat saya ingat sampai sekarang setelah 12 tahun berlalu.

Saya juga ingat belakangan ini – ayah saya yang seorang pegawai KPPN bagian pengembangan pegawai – sering membawa pulang tas, baju, jaket, buku, pulpen, dll dari kantornya. Dan ayah saya selalu ingat anak-anaknya.

“Kakak mau baju ini nggak?” katanya sambil menunjukkan sebuah baju berkapuchon yang bertuliskan HRD dibelakangnya. Lagi-lagi dari kantor. Saya yang ditawari mau saja. Apalagi baju itu kelihatannya enak dipakai.

Sudah tidak terhitung lagi berapa barang-barang dari kantor ayah saya yang diberikan ke anak-anaknya. Terakhir saya melihat ayah saya mengenakan sepasang sandal bermerk X – ketika menjenguk saya di asrama – yang beberapa minggu lalu belum ada.

“Wah, sendalnya X. Mau dong.” Puji saya bercanda. Tapi sebenarnya saya dari dulu selalu menginginkan sandal bermodel laki-laki.

“Mau? Kamu lagi pakai sandal, kan?” Tanya ummi. Saya bingung maksudnya apa. Apa hubungannya saya mau sandal X dengan pakai sandal. Akhirnya saya tahu bahwa maksudnya adalah menawarkan untuk bertukar sandal.

Sebenarnya kalau saya mau, saya bisa saja benar-benar bertukar sandal karena saya benar-benar mau sandal itu. Tapi betapa maruknya saya kalau saya benar-benar mengambilnya. Apalagi saya tahu kalau beberapa minggu yang lalu ayah saya tidak punya sandal. Bahkan, ketika saya lagi pulang ke rumah, saya melihat ayah saya pergi ke masjid menggunakan sandal perempuan.

Kalau sedang marah, ayah saya berkata pada kami (saya dan adik-adik saya):

“Biar, abi pakai sandal jepit biasa. Biar, abi ke kantor pakai kaos aja. Biar, abi nggak punya celana untuk ganti-ganti (celananya beberapa sudah sobek). Biar abi nggak beli baju baru. Tapi yang penting kalian bisa hidup cukup. Bisa sekolah dengan nyaman. Bisa memenuhi kebutuhan kalian.”

Masya Allah, betapa banyak pengorbanan ayah selama ini. Yang jarang kita menyadarinya. Yang jarang diungkapkan ke ‘permukaan’ dimana ibu yang sering disebut-sebut. Betapa ayah tak kalah mulianya dengan ibu. Betapa ayah juga sangat berarti.

Saya jadi teringat sebuah quote yang ditulis oleh teman saya di madding sekolah:

“Ayah bekerja sampai sakit untuk menyenangkan kita. Tapi apakah kita sudah belajar sampai sakit untuk menenangkannya.”

-Anaasiyya Siti Luthfiah-

Quote itu terasa sangat menohok. Kita yang kebanyakan di usia sekolah menengah malah menghabiskan waktu dengan hura-hura. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di sekolah hanya untuk bermain-main. Sementara pedidikan tak lagi murah. Siapa yang telah membayarkan waktu yang pada akhirnya kita sia-siakan itu? Ayah. Siapa yang membanting tulang demi masa depan kita? Ayah.

Ayah selalu ingat anak-anaknya ketika sepulang kerja. Ayah selalu ingat untuk membelikan baju baru untuk kita di malam-malam sebelum lebaran. Ayah selalu memikirkan apa yang terbaik untuk ayah kita.

Love papa.

Special post for my dad. Bambang Kismanto, or he calls him self by Ibadurrahman