Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Saturday, September 23, 2017

Catatan Sang Kontingen

Kontingen. Istilah ini bermula dari agenda jaulah Salam UI ke Gamais ITB. Harusnya sih tiap dep/bir dapat slot kursi untuk dua orang. Sementara dep/bir yang lain pada nambah kursi, bahkan sampai ada yang bela-belain berangkat terpisah dari rombongan dengan menggunakan kereta, TKK cukup satu saja yang berangkat. Ya, Iffah. Si Kepala berkelakar, "Beri saya 1 anak TKK akan saya guncangkan ITB". Duh. Dan ketika si satu-satunya perwakilan TKK ini ditagih untuk iuran keberangkatan, iseng-iseng berhadiah dikirimkanlah tagihan itu ke grup. Dan Tring! Muncul bukti transfer yang menyatakan telah membayarkan sejumlah uang yang diminta ke nomor rekening yang diminta pula. Bekal perjalanan, ceritanya. Alhamdulillah.

Sepekan kemudian, Salam UI kembali mengadakan agenda outing. Kali ini Refleksi Paruh Tahun namanya. Curiga akan kembali menjadi satu-satunya perwakilan, aku memutskan untuk tidak bilang-bilang ke siapa-siapa kalau aku berniat untuk ikut. Hanya melapor kepada cp perizinan (Fitri) sudah cukup bagiku. Toh aku juga tidak butuh tahu siapa lagi dari TKK yang akan ikut RPT. Terlihat pasti, Ibrohim sebagai kepala TKK sepertinya akan ikut. Tapi berangkat tidaknya dia, tidak berpengaruh juga terhadap keberangkatanku. Tanya-tanya sedikit, aku jadi tahu dia berniat untuk menyusul ke RPT selepas syuro TKK di Sabtu Pagi (padahal RPT dimulai Jumat malam), yang qadarullah, akhirnya beliau tidak jadi ikut.

Awalnya memang sempat galau mau berangkat atau tidak. Tapi bukan karena ada temannya atau tidak yang membuatku galau. Bukan pula karena ada yang batal berangkat. Melainkan waktu kepulangan di Ahad siangnya. Mengingat tempat yang jauh, aku tentu tidak bisa membawa motor sendiri supaya bisa pulang duluan sendiri. Padahal, Ahad sore aku ada jadwal mengajar privat. Sementara perjalanan pulang sangat mepet dengan jadwal mengajar tersebut. Tapi bismillah, akhirnya ikut rombongan menyusul di Sabtu sore yang akhirnya baru lepas landas dari Depok saat maghrib dan sampai di tujuan sekitar jam 9 malam.

Sempat tarik ulur mau masuk grup rombongan menyusul atau tidak. Karena sebenarnya jujur-jujuran, males juga diketaui orang kalau aku juga berangkat (yang notabene akhirnya satu-satunya TKK di RPT). Apalagi kalau diketahui oleh Kepala TKK sendiri. Bahkan sesaat sebelum berangkat, Widia menanyakan aku apakah aku ikut atau tidak, dan hanya kubaca. Jadilah, kali kedua jadi satu-satunya Kontingen TKK.

Memasuki paruh tahun kedua memang lebih sulit bagi kami untuk menghadiri agenda-agenda internal Salam. Sebagian besar sudah memulai perjuangan pasca kampusnya, sisanya sedang berjuang menyelesaikan kehidupan kampusnya (baca:menyelesaikan skripsi), belum kalau bentrok dengan agenda di luar dua hal tersebut. Wajar akhirnya, aku yang nggak ada kesibukan apa-apa inilah yang seringnya tersisa. Tetapi di luar itu semua, sungguh aku senang bisa berkegiatan dengan adik-adik (boleh ya sebut adik) shalih-shalihah dan membantu mereka (meskipun sering juga muncul magernya. Aasif jiddan).

Aku nimbrung di RPT dan agenda pertama yang kuikuti adalah persembahan dari PI. Diputarkanlah video dokumentasi mengenai kilas balik selama satu paruh tahun ke belakang. Dikemas apik dengan narasi yang begitu sendu ala Imam. Tidak sedikit yang menitikkan air mata. Aku merasakannya juga. Well, meskipun sosokku tidak terlihat di video itu, meskipun kontribusiku juga boleh dibilang kurang untuk agenda-agenda yang ditampilkan di video, tapi aku paham bagaimana haru-birunya perasaan para fungsionaris Salam yang pasti sangat besar rasa kepemilikannya terhadap momen-momen tersebut. Tiga setengah tahun sampai saat ini berkecimpung di Lembaga Dakwah, aku khatam bagaimana perasaan mereka. Seandainya aku jadi mereka yang ada di kilasan-kilasan memori itu, aku juga pasti akan menangis. Saat itu aku memang tidak ikut menangis. Tapi aku memandang ke sekeliling. Melihat yang lain saling merangkul, menepuk bahu, atau ada pula yang dengan sok kuatnya menghapus air matanya sambil tertawa dan berkata "Ane nggak nangis, Ane kan kuat." Melihat pemandangan seperti itu saja cukup membuatku merinding merasakan sedikit rasa yang mereka tumpahkan. Dalam hati, aku mencoba bertelepati dengan orang-orang yang ada di ruangan, sembari berdoa kepada Allah. Semoga Allah tambahkan kekuatan mereka. Semoga Allah ikatkan hati-hatj mereka. Semoga Allah istiqomahkan mereka dalam kebaikan-kebaikan. Semoga Allah husnulkhotimahkan amanah mereka.

"Kemarin kan semua bidang udah tampil, Fah. Tinggal TKK yang belum. Pokoknya kamu harus tampil juga nanti." kira-kira begitu kalimat Fitri entah malam itu, atau besok paginya. Udah panik aja, tapi alhamdulillah nggak disuruh. Yang ada malah ttp dapet hadiah richoco nabati segepok yang harusnya katanya buat TKK taoi berhubung TKK yang datang hanya diriku seorang, akhirnya kumakan beberapa dan sisanya kubagikan. Ini yang aku bilang di grup TKK, "Nggak tampil aja dapat hadiah."

Setelah acara seru sehari-semalam itu (iya, acaranya sebenernya dua hari dua malam, tapi aku kan cuma ikut sehari semalam) ditutup, kegalauan yang sempat hilang, muncul lagi. Maghrib itu aku harus mengajar. Takut-takut, aku coba izin sama orang tua murid untuk terlambat. Meskipun nggak kebayang juga kalau tetap harus berangkat bakal kayak gimana. Perjalanan dari lokasi ke Depok 3,5 jam, dari Depok ke tempat ngajar satu jam, dan harus mengajar selama dua jam. Tepar pasti! Dan Allah Maha Baik, orang tua murid menjawab dengan sangat bijak, me-reschedule jadwal hari itu jadi besoknya. Aku bisa beristirahat dengan tenang di kamar kos malam itu. Alhamdulillah. Kalau kata Fata, "Allah tau kok kalo lu seneng beginian."

Yah, begini aja memang catatan perjalanan sang kontingen TKK. Belum bisa menjadi citra, contoh, dan perwakilan yang baik bagi TKK memang. Tapi mudah-mudahan membawa kebahagiaan tersendiri juga bagi teman-teman, adik-adik shalihat (kurang kenal sama yg ikhwan. Yang akhawat aja masih banyak yang belum kukenal) di Salam UI 20. Semoga Allah meridhoi niat baik dan ikhtiar kita semua.

Villa Permata, Sabtu, 23 September 2017
Ya, aku saat ini sedang berada kembali di tempat RPT sepekan yang lalu.
Catatan ini dibuat untuk Salamenulis Ed. RPT, makanya isinya sebagian besar tentang RPT. Catatan tentang jaulah ke Gamais ITB, akan dibuat menyusul kalau mood
.

Friday, September 15, 2017

Malu-Malu Rindu

Pada denting rindu kesekian ini, akhirnya aku belajar sesuatu bernama ketenangan dan kelapangan hati.
Aku belajar bahwa waktu tidak hanya mampu menyembuhkan luka, tapi juga mampu meredam rindu.
Aku meyakini bahwa rindu bukanlah hutang yang sudah jatuh tempo. Bukan pula kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi saat ini juga.
Kesabaran dan kedewasaan lah yang menyempurnakan keseluruhan kisah. Membungkus rindu jadi tidak lagi malu-malu. Pada akhirnya.

Thursday, August 10, 2017

Rahasia

Setiap orang pasti punya rahasia kan? Rahasia yang bahkan kepada Tuhannya ia kabarkan dengan berbisik. Yang bahkan terkadang, dirinya sendiri tidak berani mendengar rahasia itu. Setiap orang pasti punya sisi terdalam. Baik itu ketakutan, kesedihan, atau mungkin bisa saja hal-hal meyenangkan baginya yang tidak pernah ia bagikan ke siapapun.
Setiap orang punya masanya sendirian. Bahkan merasa diri sendiri pun tidak bisa diajak kompromi. Pengkhianatan terbesar justru dilakukan oleh diri sendiri. Lalu harus kepada siapa lagi ia menaruh percaya?
Pada tekanan yang tidak lagi mampu ditahan, sementara tumpah  tidak ada lagi tempat untuk mengalirkan saking rendahnya. Menengadah pun malu saking hinanya. Berkaca pada diri sendiri tak terpantul saking gelapnya. Menghitam kelam sekelilingnya.
Oke, ralat, mungkin tidak setiap orang pernah mengalaminya. Karena ia tahu, ini adalah hukuman baginya. Dan hukuman hanya berlaku bagi orang-orang yang benar-benar bersalah dalam hidupnya.
Seiba-ibanya ia memohon pada Tuhannya. Ampun-Nya yang begitu luas selama ini telah diabaikannya.
22.40
Ia selalu menanti kembalimu

Wednesday, July 19, 2017

Lelucon

Sungguh sudah sangat biasa baginya. Sudah sangat bisa memahami ketika di balik punggung sana ada yang tertawa, entah itu terbahak atau terkikik sekalipun, ia tahu bahwa tawa itu adalah tentang dirinya.

Bertahun menyandang predikat cewek aneh sudah bukan hal yang mengganggu pikirannya. Ia hanya ingin hidup untuk dirinya sediri. Ia sudah tidak lagi peduli seberapa keras tawa sekumpulan orang di seberang sana, yang jelas-jelas sedang menertawakannya.

Benarkah?

Pada masanya, ia menemukan konsep dirinya. Yang ia lakukan adalah mendekati kerumunan yang seketika menghentikan tawa mereka, memasang wajah was-was, takut-takut ia marah. Tapi ia justru ikut duduk, dan menyusul tertawa. Ah, peduli setan, ia tahu ia hanya berubah menjadi orang aneh tipe yang lain.

Ada masanya ketika ia memanipulasi otaknya untuk berpikir bahwa lelucon dan tawa-tawa itu adalah apresiasi untuknya. Bentuk penerimaan mereka terhadapnya. Caranya untuk berbaur dengan mereka.

Tapi kadang, otaknya korslet juga. Bingung dengan semua manipulasi yang telah ia lakukan pada otaknya.

Masa berikutnya, ia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang tadinya ia pikir berasal dari golongan orang-orang yang sering menertawakannya. Tapi ternyata, orang itu mampu memahami keanehannya. Mampu menebak aksinya yang sering kali ia sendiri tidak mampu menebak. Orang itu, tidak menertawakannya. Setidaknya, sejauh pengetahuannya.

Tapi ternyata... Dibalik kepeduliannya, orang itu hanyalah orang yang sama. Orang yang sama dengan sekumpulan manusia di pinggir jalan situ, yang tertawa ketika ia lewat. Tertawa ketika ia berbicara. Bukan karena lucu, melainkan karena cara berpikirnya yang aneh. Ah orang itu hanya berpura-pura terlihat dewasa.

Sungguh sudah sangat biasa baginya. Pada akhirnya, orang itu ia kembalikan pada posisinya. Posisi orang-orang biasa lainnya, yang ikut membuat lelucon tentang dirinya. Posisi yang tidak terlalu mempengaruhi hidupnya.

Ia berjalan memunggungi tawa yang masih terdengar. Sudah biasa. Sudah sangat biasa. Ia tidak marah, tidak pula merasakan apapun yang lain. Ia merasa sudah cukup memikirkan itu semua.

Tapi sekali lagi... Benarkah?

Rumah, Rabu, 19 Juli 2017, berberapa saat setelah tengah hari.
Seandainya aku dapat memeluknya, membuka semua tabir rasanya, menampung semua rahasianya. Tapi... 

Friday, June 9, 2017

Ternyata

Kamu tidak tahu seberapa sedang hancur leburnya hatinya ketika kamu berkata sedikit keras terhadapnya. Ternyata ia sedang berada di titik terentannya sehingga kata-katamu semakin menghancurkannya.

Kamu tidak tahu seberapa besar beban masalah yang sedang ditanggungnya ketika kamu menilainya sedikit tajam. Ternyata ia sudah menyalahkan dirinya sendiri sepanjang hari sehingga penilaianmu semakin membuatnya merasa gagal.

Kamu tidak tahu dia sudah bersabar sebelum akhirnya kamu pecahkan kesabarannya karena ketidaksabaranmu terhadapnya. Ternyata ia sudah banyak menahan diri sehingga tekanan darimu membuatnya meledak dan semakin terluka karena ia merasa gagal mengendalikan kesabarannya.

Ternyata dia tengah menyimpan sesuatu. Sesuatu yang tidak seorang pun dia beri tahu. Bahkan untuk bercerita pada dirinya sendiri pun ia takut ada yang mendengarkan.

Ternyata dia tengah meredam pilu sendunya luka jiwanya. Patah hatinya berkeping yang dengan gemetar ia rangkai kembali susah payah.

Ternyata dia tengah membangun tanggul-tanggul yang menopang kekuatannya. Membendung kesedihannya. Menekan amarahnya.

Ia bahagia tapi tidak bahagia. Langkah ringannya tak siratkan kalut pikirannya. Tawa renyahnya tidak suarakan lengking nestapanya. Binar cemerlang matanya memang meredup. Tapi mungkin kamu tidak sepeduli itu untuk menyadarinya. Ternyata, kamu tidak banyak tahu tentangnya.

Kamu tidak tahu, betapa sedang hancur leburnya hatinya saat kau tudingkan jari telunjukmu untuk menghakiminya. Kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya. 

Sampai kamu berada di posisinya. Sampai kamu merasakannya sendiri.

Home, a while after midnight

Friday, June 2, 2017

Ketakutan yang Memakanmu Perlahan



Sampai kapan? Sampai kapan mau berlari terus? Sampai kapan mau menunda terus?

Tidak ada satu pun di antara kita yang tahu apa yang ada di balik pintu itu. Bahkan mendekat saja kau enggan. Jangankan membukanya.

Kau bukannya punya waktu selamanya. Tapi kau terus menghindar seolah tidak ada batas waktu bagimu.

Aku tahu benar rasa takutmu. Tapi bahkan menunjukkan sedikit wajah cemas saja kau tak berani. Seolah kalau sedikit saja rasa cemas itu hadir di wajahmu, kecemasan itu akan membinasakanmu bulat-bulat.

Kau sehatkah?

Kau membayangkan sesal yang akan kamu tanggung. Kau membayangkan melihat dirimu menangis sesenggukan sampai gila, membayangkan semua beban yang akan kau tanggung dengan sesal. Kau membayangkan sampai kegilaan itu datang lebih cepat. Kau telah gila duluan sebelum waktumu benar-benar habis.

Sampai kapan? Sampai waktumu benar-benar habis? Sampai kapan kau akan menghabiskan waktu dengan hidup dalam pengalihan?

Di pojok sini aku mematung, memandangimu. Menangis tanpa suara, tanpa ekspresi. Memandangi siluetmu di seberang sana yang mematung, juga tanpa ekspresi.

Di ruang sendiri ini, hanya ada aku, kamu, dan ketakutan yang memenuhi ruangan. Menghimpit nafas kita. Mengunci ruang gerak kita. Mendesak dari dalam dada, memaksa membuncah keluar. Mencoba meledakkan kepala-kepala kita.

Sampai kapan? Kumohon jangan jawab pertanyaan retoris ini. Tapi lakukanlah sesuatu.

Rumah, 2 Juni 2017

Sunday, May 21, 2017

Overthinking vs Ignorant

"Kadang gue tuh suka sedih, kenapa gue overthinking banget jadi orang. Sama makanan overthinking, sama orang, sama segala sesuatu."

"Yaudah sih, overthinking overthinking aja. Semakin kamu mikirin kenapa kamu orang yang overthinking, semakin kamu sedang overthinking terhadap ke-overthinking-an kamu. Aku juga overthinking kok... (terputus)"

"Ah, nggak! Lo mah cuek orangnya. Cuek banget. Gue sebenernya suka (berteman-red) sama orang-orang yang cuek."

"Oke ralat, somehow, aku orang yang overthinking juga kok, dalam beberapa hal tertentu"

Salah satu potongan percakapan malam tadi di warung kopi. I let you guess, yang mana yang kata-kataku yang mana yang bukan...

Ya, akulah the "somehow" one. Kayak aku emang sedang dalam keadaan overthinking terhadap sesuatu yang akhirnya membuat aku mengeluarkan pernyataan bahwa aku adalah orang yang juga overthinking. Melihat capture-an peristiwa di sekitar saat itu saja membuatku tidak bisa menilai diriku sendiri secara utuh. Lalu disadarkan pada penilaian dari orang lain bahwa aku adalah orang yang super cuek.

Somehow aku ngerasa, dia ada benarnya juga. Tapi nyatanya nggak sepenuhnya benar juga. Atau lebih tepat disebutkan bahwa aku mencoba untuk (terlihat) cuek pada hal-hal yang sebenarnya sangat mengganjal dan mengganggu pikiran. Mencoba (dan sering berhasil) melupakan hal-hal yang apabila pikirannya terus dilanjutkan, akan menghasilkan sikap-sikap canggung yang terpaksa harus kulakukan. Karena pada tataran sikap, aku selalu gagal menutupi suasana hati. Lalu aku merasa, hal yang lebih mudah adalah mempengaruhi ingatan (dengan cara melupakan sesuatu), sehingga ingatan itu tidak mempengaruhi suasana hati, sehingga suasana hati itu tidak mempengaruhi sikap, sehingga aku tidak melakukan hal-hal canggung yang akan sangat kubenci jika terpaksa harus kulakukan.

Kadang, menjadi orang yang cuek (plus pelupa) adalah hal yang sangat kusyukuri. Aku nggak perlu repot-repot menutupi suasana hati karena takut canggung (dalam kasus apapun). Aku nggak perlu repot-repot menyembunyikan kekesalan lama-lama. Aku nggak perlu repot-repot menutupi rasa malu lama-lama. Karena aku sudah lupa.

Tapi kadang nyesel juga karena keterusan jadi orang yang over cuek. Jadi nggak peduli sekitar, padahal kalo kata tes MBTI, aku ini orang ESFJ (The Consul). Jadi sering teringat sama sekitar setelah semua terlambat. Jadi sering ngerasa bersalah karena nggak lebih banyak tahu tentang teman dekat daripada si teman itu mengerti aku.

Well, secuek-cueknya aku, benar kan ada overthinking-nya juga. Paling nggak overthinking tentang seberapa cuek aku.
Masih di kosan, Minggu, 21 Mei 2017

Saturday, May 20, 2017

Ah Elah, Fah, Gitu Doang!

Malam ini aku pulang dalam keadaan seluruh tubuh masih gemeteran. Terutama suara. Bukan kelelahan. Iya sih lelah, tapi cuma sedikit. Kondisi ini lebih banyak hasil grogi berlebih yang justru muncul pasca suatu hal yang ketika aku melakukannya, rasa gugup akan menyerang seluruh tubuhku.

Biasanya, orang grogi kalau akan menghadapi sesuatu, terus setelah semua berlalu, ia akan lega dan kembali seperti sedia kala. Tapi aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa aku nggak bisa membiarkan diriku duduk tenang, merasakan kelegaan, lalu melupakan rasa nervous yang baru saja berlalu. Efeknya, aku akan merasakan kelelahan yang luar biasa, sama lelahnya seperti setelah beraktivitas fisik seharian. Aku nggak yakin bagian mana yang salah.

Di kehidupan sehari-hariku, aku adalah orang yang talkative. Seperti bisa mengeluarkan semua kata yang terlintas dalam pikiranku, dengan begitu saja. Tapi semua akan berubah 180 derajat kalau aku harus berbicara di atas panggung. Panggung seperti apa pun. Berbicara tentang apa pun. Seringkali, kalau aku sedang rajin dan cukup siap, aku akan menuliskan poin-poin yang harus kukatakan. Kalau lebih rajin lagi, bahkan sampai narasinya aku tulis di kertas kecil. Tapi, bagaimanapun persiapannya, setelah naik panggung, semuanya pasti buyar. Termasuk ingatan untuk membuka teks yang sudah disiapkan. Sampai-sampai seringkali harus mengulang-ulang "رب اشرح لي صدري و يسر لي أمري و احلل عقدة من لساني يفقهوا قولي"  berulang kali supaya bisa sedikit tenang.

Aku kenal seseorang yang di kesehariannya tidak banyak bicara, tetapi kalau sudah berbicara di depan, bisa seolah akan mengeluarkan semua kata yang ada di kamus. Sering aku bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa aku nggak bisa seperti itu.

Aku kenal seseorang yang di kesehariannya memang cukup banyak bicara. Jadi ketika dia dengan lihai memainkan diksi di depan banyak orang, aku tidak lagi heran. Aku lebih lagi mempertanyakan. Kenapa aku...

Ya, gugup yang kubawa pulang malam ini, sedikit banyak dari sana. Setelah harus berbicara sedikiiiit sekali. Dan kalau kamu tahu apa yang tadi aku bicarakan di depan, kamu pasti akan bilang, "ahelah gitu doang". Tapi itu tidak pernah menjadi "gitu doang" bagiku.

Begitu ditutup dengan salam, tidak ada yang namanya "lega". Yang ada tangan gemetaran. Kaki nggak bisa diem. Dan jantung masih berdebar-debar. Sampai waktunya pulang pun suara masih terdengar gemetar. Pikiran masih berputar-putar di depan sana. Ada yang salahkah? Ada yang kurang kah? Ada yang terlalu cepat kah? Semakin banyak daftar pertanyaan yang terlintas di pikiran, semakin rasanya ingin menangis.

Oke, itu tadi. Kalau biasanya aku tidur untuk meredakan jantung yang masih berdebar-debar, kaki yang masih goyang-goyang nggak bisa diem, kali ini, inilah terapiku. Menuliskan semuanya. Besok, semua akan kembali seperti sedia kala. Besok, aku tidak akan mengingat kegugupan hari ini. Besok, aku akan baik-baik saja. Nantinya, kalau dirasa tulisan ini justru semakin meresahkan diriku sendiri, aku akan hapus.

Haha, curhatnya jadi panjang. Maaf harus membuatmu membaca ini (siapa tahu ada yang beneran baca). Salam hangat, cheers .
Kosan, Sabtu, 20 Mei 2017

Tuesday, April 4, 2017

Belum Sempat

Pengen pake banget nge-post lagi. Tapi lagi nggak sempat. Atau memang tidak menyempatkan diri :(

Monday, March 27, 2017

Nyasar

Sebagai seorang Judging (Karakter J pada ESFJ), nyasar bukanlah hal favorit bagiku. Bahkan sesepele nyasar di tempat parkir yang baru pertama kali kumasuki adalah hal yang sebisa mungkin diantisipasi. Judging adalah kecenderungan karakter untuk sticked pada plan. Prefer mempersiapkan segala sesuatu (sebisa mungkin) dengan cermat daripada harus bersikap fleksibel terhadap kemungkinan yang akan dihadapi di depan. Being flexible with plan is so not me.

Sejak dibolehkan bawa motor sendiri ke mana-mana awal tahun 2014, aku punya cita-cita untuk menyusuri jalanan Jakarta by motor. Dikendarai sendiri tentunya, bukan by grab/gojek. Itulah salah satu yang memotivasi aku untuk punya SIM segera meskipun akhirnya baru terwujud di awal tahun 2016. Hmm. Jadi selama dua tahun bawa motor nggak punya SIM? Hehe. Tidak untuk ditiru

Tapi, karena ketakutan (yang berkaitan dengan karakter Judging) ditambah sedikit faktor kesibukan, sampai sekarang cita-cita mulia(?) itu belum dapat terwujud. Yah, paling jauh cuma berani sampai Pasar Rebo. Selebihnya cuma menyusuri Jalan Pasar Minggu Raya, Jalan Lenteng Agung, hingga UI setiap hari sampai mabok. Sampai-sampai, saking hafalnya, kadang kalo lagi error, suka nggak sadar tiba-tiba udah sampe Mampang lagi aja.

Tapi siang kemarin berbeda.

Aku justru menyasarkan diri sampai ke Jatinegara tanpa sekali pun melihat Maps. Sepulang DS di Tanah Tinggi, aku mencoba-coba jalan pulang hanya mengandalkan papan petunjuk arah dan rambu-rambu lalu lintas. Yang seharusnya di Salemba aku belok kanan, aku ketinggalan belokan sehingga akhirnya memutuskan lurus. Sampai Kampung Melayu, aku belum juga berani mengambil belokan. Akhirnya sampailah aku di Jatinegara. Hampir saja aku lurus terus sampai ke Bekasi seandainya aku tidak melihat motor sebelumku putar balik ke arah Pusat Batu Akik. Intinya aku mencari jalan menuju Cawang. Karena kalau sudah sampai Cawang, aku sudah tahu jalan tanpa harus melihat papan petunjuk arah.

Nggak murni nyasar juga sebenarnya. Nyasar di Jakarta tuh masih gampang nyari jalan balik. Banyak papan petunjuk arah yang cukup bisa memandu pengendara sampai ke tujuan asal tahu nama daerah sedikit-sedikit. Seenggaknya aku jadi tahu di mana itu riilnya Stasiun Jatinegara. Selama ini cuma tahu dari peta rute KRL. Jadi tahu juga bahwa jalan di sisi Inner Ring Road dari Cawang sampai Pancoran itu macetnya luar biasa sama mobil-mobil besar maupun kecil. Jadi tahu tembusan jalan lewat Pengadegan dari Cawang sampai ke stasiun Kalibata.

Intinya, nyasar kali ini disponsori oleh Cita-cita yang tertunda. Yah, walaupun belum bisa merepresentasi #ExploreJakarta yang kucita-citakan, alhamdulillah bisa nambah rute sedikiiiit sekali daerah Jakarta Timur. Next time, mau banget nyasar di daerah Jakarta Utara. Tapi katanya serem karena banyak truk besar ya? 

Jadi, kamu mau #ExploreJakarta dan nyasar bareng aku? Aku tunggu >.<
Mampang Prapatan, Senin, H-61 Ramadhan 1438 H, 11.55 WIB

Tuesday, March 7, 2017

Aa'

Nenek terobsesi sama Aa'
Adek terobsesi sama Aa'
Sedikit-sedikit, "Aa' nya mana?"
Girang dikit, "Cie, Aa' ya?"
Lain waktu, "Dijemput Aa' ya?"

Atuhlah cuma gara-gara ngomong "Atuh", "mah", sama "punten" aja awalnya. Padahal sesering ngomong "monggo" sama "ndak" juga.

Atuhlah ke mana-mana juga enakan motoran sendiri. Keuntungannya, naik motor tuh nggak macet. Keuntungannya, bawa sendiri tuh nggak pegel dan masuk angin. Pengalaman dibonceng orang, sampe tujuan malah masuk angin.

Lagian...

Siapa pulak Aa' tu...

Dah lah, capek hamba dengarnya




A' dicari nenek tu.

Mampang Prapatan, Selasa, 7 Maret 2017, 21.48 WIB
Dengan penuh gregetan

Monday, March 6, 2017

Mutasi

Kata yang dulu mainstream dibicarakan setiap sudah menetap beberapa tahun di suatu kota. Dari Palu, pindah ke Pekalongan, lalu pindah ke Banjarmasin. Begitulah Abi harus memenuhi tugasnya di Ditjen Perbendaharaan. Otomatis, kami sekeluarga harus ikut Abi pindah.

Abi pertama kali ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah. Aku belum lahir. Tapi karena aku anak pertama sekaligus cucu pertama, Ummi memutuskan untuk melahirkan di Jakarta, kampung halamannya. Sejak bayi sampai TK, aku hidup di Palu. Meskipun nggak banyak yang kuingat.

Mutasi pertama Abi jatuh pada sebuah kota (sedikit) besar di sisi Utara Pulau Jawa, Pekalongan. Dan kota ini, selalu jadi kota yang paling berkesan bagi kami, terutama aku sendiri. 6 masa kanak-kanak kuhabiskan di sini. Pertama mengenal banyak hal, salah satunya persahabatan.

Menjadi keluarga nomaden bukanlah hal yang mudah. Setiap pindah, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tidak boleh punya rencana menetap, harus siap kapan saja harus kembali pindah. Harus siap kapan saja harus berpisah dengan teman-teman.

Pertengahan tahun 2006, pertama kalinya aku mengetahui kata mutasi. Dan pertama kalinya harus merasakan beratnya bersiap berpisah dengan teman-teman, guru-guru, dan tetangga. Abi pindah duluan ke Banjarmasin. Aku, Ummi, tiga adikku, dan satu bayi di perut Ummi, masih menetap di Pekalongan sampai semester berakhir. Awal tahun 2007, setelah adik terakhir lahir, semua pindah ke Banjarmasin. Kecuali aku.

Aku ikut Nenek dan Kakek di Jakarta, melanjutkan semester terakhir SD, sampai menyelesaikan MTs. Meskipun biasa, mutasi tetap bukanlah hal yang mudah bagi kami.

Sampai akhirnya Abi melihat peluang supaya tidak lagi dimutasi. Pindah jobdesc. Apalah istilahnya, aku nggak terlalu paham istilah kementerian. Jadi semacam jurnalis yang membuat Abi harus menetap di kantor pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kami akhirnya sama-sama menetap di Jakarta sampai sekarang.

Aku lupa tahun berapa, Abi kembali mencoba kesempatan yang lebih baik untuk pekerjaannya. Widyaiswara BPPK menjadi salah satu tujuannya menyelesaikan S2. Sebab, salah satu kantor BPPK ada yang bertempat di Magelang, kampung halaman Abi. Kami mulai menyusun timeline. Nanti, kalau Abi sudah punya posisi yang lebih meyakinkan (setelah lulus S3), kami akan pindah ke Magelang sebagai tujuan akhir kami.

Abi sudah bisa membeli mobil. Sudah mulai mencicil tanah di Magelang. Dan dalam waktu dekat akan mulai mencicil bangunan rumah. Kami sangat yakin, lima tahun ke depan, kira-kira semua akan selesai dan kami bisa pindah ke Magelang. Paling tidak, aku sudah selesai S1 juga. Kami sudah mulai membiasakan diri tentang fakta bahwa Jakarta-Magelang bukanlah jarak yang sangat jauh untuk ditempuh bolak-balik. Bersyukur juga sekarang sudah ada Tol Cipali yang disambung Tol Brebes sehingga kami sering memanfaatkannya untuk pergi ke Magelang saat weekend, dan kembali ke Jakarta di weekend yang sama.

Kami akan punya rumah sendiri. Milik keluarga kami sendiri. Kami akan punya kehidupan yang lebih mapan dan menetap. Kami sudah bersepakat.  Lagipula, kami rasa juga masih cukup lama. Lima tahun lagi. Mungkin aku sudah menikah terlebih dahulu. Mungkin aku nantinya menetap di Ibukota dan menjadikan Magelang sebagai tujuan pulang kampungku. Mungkin.

Tapi tiba-tiba, isu itu datang berhembus sayup. Isu yang terakhir kudengar sekitar 11 tahun yang lalu. Mutasi. Jauh lebih cepat dari estimasi waktu kami. Rumah belum dibangun. Mobil dan tanah belum lunas. Apalagi aku belum lulus S1. Apalagi lagi, aku masih sangat nyaman berada di Ibukota, meskipun dengan semua dinamikanya.

Mutasi. Kata yang bukannya traumatik bagi kami. Hanya saja kata itu sedikit mengganggu kemapanan kami. Tetangga, sahabat-sahabat, keluarga. Meskipun kami sudah bersepakat tidak akan selamanya menetap di Jakarta, tetap saja mutasi menjadi hal yang merusak timeline kami. Mengganggu rencana kami. Dan mungkin juga rencanaku.

Kami  bahkan belum tahu Abi akan dimutasi ke mana kali ini. Meskipun Abi sangat yakin akan ditempatkan di Magelang. Dan meskipun masih isu, Abi yakin akan segera terealisasi. Kami, terutama aku dan adik-adikku, masih belum bisa sepenuhnya menerima isu itu. Pura-pura tidak pernah mendengar. Bersikap seolah kita masih akan ada di sini, sampai datang betul masanya di timeline yang telah kami susun.

Kami, terutama aku, masih belum siap menerima perubahan tatanan hidup kami. Aku sepertinya belum siap kehilangan zona nyaman di sini. Dan harus bersusah payah membuat zona nyaman baru di tempat baru nanti.

Atau bolehkah ada pengecualian untuk aku sehingga aku bisa menetap di sini lebih lama? Aku harap iya.

Mampang Prapatan, Senin, 6 Maret 2017, 12.31 WIB

Saturday, April 26, 2014

Aku, Dia, dan Almamater Kami


Mau ngenalin seorang kakak kelas
Anaknya baiik banget. Pertama tau sih pas MOS MTs dulu. Dia jadi kakak terfavorit, loh. Anak OSIS yang aktif banget deh di mts dulu. Sering ikut lomba-lomba juga. Pinter. Dan pas dia lulus MTs dia dibicarain guru-guru karena berhasil masuk IC.

Tidak lama, aku nyusul masuk IC juga. Eh, ketemu lagi deh. Ternyata aku masuk ke kelas X-2. Dulu dia kelas X-2. Well, track record aku di IC nggak sebagus track record dia. Iyalah, organisatoris satu ini aktif banget. Supel. Temennya banyak. Aku? Di IC mah biasa-biasa aja. Nilai akademis biasa-biasa aja. Organisasi biasa-biasa aja. Pertemanan juga biasa-biasa aja.

Lulus aliyah dia masuk UI. Setelah itu nggak banyak berita yang aku denger. Dan setahun berikutnya, aku nyusul dia lagi ke UI. Beda fakultas, sih. Tapi jaket sama-sama kuning. Sekali-dua pernah lah ketemu di kereta pas mau pulang.

Sekarang? Aku dan dia sama-sama apply ke suatu asrama. Nggak sengaja lihat nama dia di daftar nama yang lolos tahap 1. Ketemu saat tes, dan sekilas terpikir, kami menyandang 3 almamater yang sama.

Saat pengumuman peserta yang lolos tahap 2, namaku ada di sana. Juga namanya. Satu tahap lagi. Satu tahap lagi.

Kalau apply yang satu ini kami sama-sama beruntung, apa artinya semua kebetulan ini ?

Ikhtiar dan doa mulai dikuatkan. Empat tahun kami satu almamater, mengapa tidak sekalian ditambah dua tahun berikutnya?

Berikan yang terbaik, Allah..

Bismillah

Dan siapakah kakak shalihah satu ini? Naylah Muna

Monday, January 13, 2014

Let It Be atau Let It Flow?

“Lebih setuju Let It Be atau Let it Flow?”
Ini untuk kamu yang memilih untuk berhenti berharap. Memilih untuk sadar posisi dan sadar diri. Mencatut kata-kata saya sendiri : sekeras apapun saya berusaha menghilangkan batas, saya tetap tidak bergerak ke mana-mana. Untuk kamu yang sudah cukup puas dengan posisimu sekarang.

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan teman saya suatu malam. Lagi-lagi bicara soal hati. Waktu itu teman saya menyarankan saya menulis lagi. Seolah-olah sebelumnya saya sangat rajin menulis. Padahal saya menulis tergantung mood saya. Kemudian dia menyinggung-nyinggung soal galau (aih, galau lagi, galau lagi). Katanya, saya banyak menulis saat saya sedang sering galau sebelumnya.

Sekarang sih, saya lebih suka nyadar diri. Setelah sms si-dia malam itu (sudah agak lama kalau coba diingat-ingat), saya mencoba lebih banyak menahan  diri, lebih banyak mencoba bersikap biasa, dan lebih memosisikan diri tentunya. Apalagi berharap, buang aja deh jauh-jauh.

Ditanya demikian, saya hanya menjawab itu pilihan yang sulit. Karena menurut saya dua frasa itu adalah kondisi yang sebenarnya berdampingan. Saya sih berkaca pada kondisi saya sekarang ini.

Ketika tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah apa pun, atau lebih tepatnya tidak ingin mengubah apa pun, biarkan saja frasa pertama itu berlaku, Let it be. Yasudahlahya, biarin aja semuanya begini. Mau gimana lagi?

Lalu apa kamu akan baik-baik saja? Iya, lah. Jantungmu nggak akan tiba-tiba berhenti, kan kalau kamu sudah kehabisan harapan soal ini. Ah, masih banyak orang kok di dunia ini. Waktu kamu juga masih banyak. Yah, untuk sekarang, Let it flow ajalah. Biarkan hatimu tetap beresonansi. Biarkan feromonmu tetap bereaksi.

Makanya, Let It Be dan Let It Flow itu tidak bisa dipilih. Adalah sebuah keniscayaan sekaligus konsekuensi ketika kamu memilih untuk tidak mengubah apapun, kamu harus menerima semuanya mengalir dulu. Kalau kata di novel-novel, biarkan waktu yang menjawab. Sekarang urusannya ada pada dirimu sendiri untuk tetap menjaga hatimu, menikmati dulu anugerah Tuhan yang tidak pernah kamu minta itu. Saya sudah memilih dan mencoba menjalankan konsekuensi itu, dan saya baik-baik saja. :)  J

Bagaimana Kalau Nanti...



(*Peringatan : tulisan ini akan beraroma dramatis dan soooo sinetron.)
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah berjodoh dengan si-spesial itu?"

Begitu kira-kira selintas pikiran yang disuarakan teman saya suatu ketika, dulu semasa Aliyah. Waktu itu, ah, namanya juga anak SMA (atau Aliyah), lagi masa-masanya ngomongin soal teman cowok. Apalagi sekolah kami berasrama. Setiap hari bertemu, keponya juga maksimal. Komplit deh.
Tradisi anak asrama juga, rahasia urusan hati, akan jadi rahasia anak satu angkatan. Namanya juga tinggal satu 'rumah'. Makan bareng, belajar bareng, main bareng, tidur juga bareng (tentunya perempuan sama perempuan, laki-laki sama laki-laki, ya). Sulit sekali (kalau tidak bisa dibilang mustahil, karena memang ada beberapa orang yang luar biasa tertutup urusan ini) menyimpan cerita itu untuk diri sendiri.
Tapi, meskipun hampir satu angkatan tau, akan selalu ada orang tertentu yang paling mengerti, bukan? Di mana-mana juga begitu. Tidak hanya berlaku untuk anak asrama saja. Selalu ada orang tertentu yang bisa dijadikan tempat curhat, atau partner berbagi cerita. Seorang teman yang bisa tetap terjaga semalaman untuk berbagi cerita. Selalu ada orang tertentu yang menjadi orang pertama yang tahu.
Ah, saya ingat. Saat kelas dua, ada pelajaran Aqidah Akhlaq tentang futuristik. Seluruh siswa ditugaskan membuat peta hidup dari usia nol tahun sampai usia tujuh puluh tahun. Isi peta hidup dari nol tahun sampai usoa kami saat itu adalah momen-momen penting yang telah terjadi di hidup kami. Sementara unuk usia berikutnya berisi tentang rencana-rencana kami ke depannya. Target-target besar kami, cita-cita kami. Termasuk kapan menikah, kapan punya anak, dan rencana-rencana besar lain.
Saya rasa, ini adalah awal mula pembiaraan yang selalu terasa hangat di angkatan. Menikah. Uuu, rasanya terlalu futuristik? Menurut kami tidak. Saat teman-teman di luar sekolah kami membicarakan pacar atau istilah sejenis, kami berbeda. Ini latar belakang mengapa teman saya bisa sampai mengeluarkan statement yang sudah saya tuliskan di awal. Alasan mengapa kata-kata yang keluar bukan jadi seperti ini :
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah pacaran dengan si-spesial itu?"
Karena apa yang akan terjadi kalau statement pertama benar-benar terjadi, akan jauh lebih kompleks daripada kalau yang terjadi adalah ketika kata berjodoh itu diganti dengan kata pacaran.
Lalu teman saya itu mulai berasumsi, ketika menikah, pasti banyak hal yang tidak lagi menjadi rahasia, bukan? Anggap sekarang kamu adalah seseorang yang ‘jadi’ dengan orang yang pernah mendapat tempat paling special di hati sahabatmu. Dan bukankah tidak lucu kalau suatu ketika kamu mengatakan pada pasangan seumur hidupmu itu : “Dulu si ini suka sama kamu, loh. Setiap saat dia cerita pasti tentang kamu. Blablabla…”
Mungkin bagi kamu dan pasanganmu itu akan terdengar biasa saja kalau sama-sama mengerti kondisinya, dan sama-sama tidak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagaimana dengan harga diri sahabatmu itu? Atau kamu jadi merasa bersalah berkepanjangan pada sahabatmu. Khawatir sahabatmu itu masih memiliki perasaan yang sama, tetapi merelakan semuanya demi kebahagiaanmu? 
Atau bisa saja terjadi kemungkinan yang lebih parah. Jadi ceritanya ternyata pasangan kamu itu ternyata dulunya juga suka sama sahabat kamu. Everything will still be okay if pasangan kamu bukan tipe orang yang berpikir terlalu dalam tentang masa lalunya itu. Tapi bagaimana kalau yang terjadi adalah pasanganmu itu kembali mengingat-ingat perasaannya? Bagaimana kalau yang terjadi adalah penyesalan-penyesalannya yang menyusul kemudian?
Too far? Memang. Namanya juga berandai-andai. Ini hanya bagian dari pikiran-pikiran liar remaja tanggung yang dilarang pacaran baik oleh agamanya, maupun oleh peraturan sekolahnya.
Ada sih, rasa takut itu dalam diri saya. Saya yang selalu tidak pernah bisa menyimpannya sendirian, dan selalu berapi-api ketika menceritakan pada sahabat saya tentang orang yang saya suka. Atau saya juga punya teman yang sangat bersemangat ketika kami sedang quality time berdua, menceritakan segalanya. Termasuk soal, ehm, cowok. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi di masa depan, bukan? Bisa saja saya kelak menjadi pihak mana pun. Ah, terlalu sulit dibayangkan. Semua kemungkinan yang sudah saya sebutkan bisa saja saya alami atau saya lakukan. Haha.
Tapi, guys, yasudahlahya, masa depan itu toh tetap akan menjadi misteri sampai kita tiba pada waktunya. Kalau kata teman saya sih, ya, nikmati saja masa-masa ketika sensasinya masih kamu rasakan. Atau kalau kata teman saya yang lain bisa saja situasi kamu itu bisa kamu jadikan insiprasi yang membuat kamu semakin produktif. Seperti statement teman saya itu, mungkin sebenarnya bisa diperpanjang lagi dan kalau saya rajin, voila! Jadilah novel drama yang dramatis. Haha.
Atau kamu bisa ikuti tips saya satu ini :
Katakan ini pada sahabatmu : “Nanti, kalau kenyataannya ternyata kamu yang jadi sama dia, tolong buat semua ceritaku ini tetap jadi rahasia, bahkan dari pasanganmu itu.” Dan temanmu bisa mengatakan itu juga padamu. Kalian saling berjanji untuk tetap menjaga. Karena perjanjian ini sudah pernah saya lakukan dengan sahabat saya. Minimal, untuk saat ini saya cukup tenang. ^^v kamu juga bisa mencobanya, kok.


{ Didedikasikan kepada para perempuan tangguh berhati nan cantik, teman-teman seperjuangan di kampus Islami, Prestasi, Mandiri, Foranza Sillnova.
 Terutama untuk sahabat saya yang mengeluarkan statement yang kembali saya jabarkan lagi di sini : Itqi Rahmatul Laila. Tetiba kangen sharing lagi sama kamu, qi :”
Dan saya menulis ini karena tiba-tiba teringat statemen itu setelah sekitar dua hari bersama seorang sahabat baru. AHR. Siapa tahu dia yang ‘jadi’ dengan dia.
Baiklah, daripada semakin melantur, saya cukupkan saja.}

Sekian

Wednesday, January 1, 2014

Jawaban Dari Sebuah Jawaban




Untuk kesekian kalinya aku menulis lagi-lagi soal ini
Ini 2014, men. Dan aku masih terperangkap dalam dunia yang kubuat sendiri. Dalam rasa sakit yang kutoreh sendiri.
Tapi percayalah, teman. Aku bukan orang yang suka mengingat ingat rasa sakit itu. Aku bukan hanya tidak suka. Aku bahkan terkadang tidak mampu mengulang sakit yang pernah kurasakan sendiri. Ini soal mengikhlaskan mungkin. Atau mungkin soal melupakan.
Sebenarnya aku sedang tidak berminat menulis di sini. Tapi kau temanku. Aku tidak akan membiarkanmu terperangkap di dalam rasa bersalahmu kalau itu behubungan dengan aku.
Sila diperiksa kembali kapan aku menuliskan suara hatiku itu. 10 Desember 2013 (kalau tulisan itu yang kau maksud). Itu sudah hampir sebulan. Dan apa peduliku soal kecocokan kalian atau kebersamaan kalian. Karena sekeras apapun aku berusaha menghilangkan batas, aku tetap tidak bergerak kemana-mana (kalau kau mengerti maksudku). Posisi aku sekarang, sudah cukup aku syukuri. Bagaimana posisi orang lain(termasuk kamu) akan aku coba untuk tidak kupedulikan. Tidak kupedulikan bukan dalam arti aku tidak menganggap ada. Tapi menanamkan pada diriku sendiri sebuah konsep. Tahu diri. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa.
Soal aku mengeluh saat itu, hanya luapan sesaat. Dan sengaja kubuat analogi supaya tetap berlaku selamanya, tidak kadalurasa. Tidak hanya untuk keadaanku saat itu. Mungkin untuk keadaan jutaan orang di luar sana yang juga merasakan hal serupa. Terlalu terlambat meminta maaf sekarang. Sudah lama kumaafkan. Mungkin sejak aku selesai menuliskan tulisan itu. Atau mungkin aku menyadari kalau itu bukan salahmu. Hanya murni kesalahanku.
Tawaranmu untuk berdamai : aku TOLAK.
Karena kita tidak pernah berperang. Hanya aku. Yang berperang pada diriku sendiri. Mungkin sudah saatnya aku berdamai pada diriku sendiri. Berdamai pada gumaman hatiku, gumaman pikiranku. Tentang semuanya. Termasuk tentang kamu.