Monday, January 13, 2014

Bagaimana Kalau Nanti...



(*Peringatan : tulisan ini akan beraroma dramatis dan soooo sinetron.)
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah berjodoh dengan si-spesial itu?"

Begitu kira-kira selintas pikiran yang disuarakan teman saya suatu ketika, dulu semasa Aliyah. Waktu itu, ah, namanya juga anak SMA (atau Aliyah), lagi masa-masanya ngomongin soal teman cowok. Apalagi sekolah kami berasrama. Setiap hari bertemu, keponya juga maksimal. Komplit deh.
Tradisi anak asrama juga, rahasia urusan hati, akan jadi rahasia anak satu angkatan. Namanya juga tinggal satu 'rumah'. Makan bareng, belajar bareng, main bareng, tidur juga bareng (tentunya perempuan sama perempuan, laki-laki sama laki-laki, ya). Sulit sekali (kalau tidak bisa dibilang mustahil, karena memang ada beberapa orang yang luar biasa tertutup urusan ini) menyimpan cerita itu untuk diri sendiri.
Tapi, meskipun hampir satu angkatan tau, akan selalu ada orang tertentu yang paling mengerti, bukan? Di mana-mana juga begitu. Tidak hanya berlaku untuk anak asrama saja. Selalu ada orang tertentu yang bisa dijadikan tempat curhat, atau partner berbagi cerita. Seorang teman yang bisa tetap terjaga semalaman untuk berbagi cerita. Selalu ada orang tertentu yang menjadi orang pertama yang tahu.
Ah, saya ingat. Saat kelas dua, ada pelajaran Aqidah Akhlaq tentang futuristik. Seluruh siswa ditugaskan membuat peta hidup dari usia nol tahun sampai usia tujuh puluh tahun. Isi peta hidup dari nol tahun sampai usoa kami saat itu adalah momen-momen penting yang telah terjadi di hidup kami. Sementara unuk usia berikutnya berisi tentang rencana-rencana kami ke depannya. Target-target besar kami, cita-cita kami. Termasuk kapan menikah, kapan punya anak, dan rencana-rencana besar lain.
Saya rasa, ini adalah awal mula pembiaraan yang selalu terasa hangat di angkatan. Menikah. Uuu, rasanya terlalu futuristik? Menurut kami tidak. Saat teman-teman di luar sekolah kami membicarakan pacar atau istilah sejenis, kami berbeda. Ini latar belakang mengapa teman saya bisa sampai mengeluarkan statement yang sudah saya tuliskan di awal. Alasan mengapa kata-kata yang keluar bukan jadi seperti ini :
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah pacaran dengan si-spesial itu?"
Karena apa yang akan terjadi kalau statement pertama benar-benar terjadi, akan jauh lebih kompleks daripada kalau yang terjadi adalah ketika kata berjodoh itu diganti dengan kata pacaran.
Lalu teman saya itu mulai berasumsi, ketika menikah, pasti banyak hal yang tidak lagi menjadi rahasia, bukan? Anggap sekarang kamu adalah seseorang yang ‘jadi’ dengan orang yang pernah mendapat tempat paling special di hati sahabatmu. Dan bukankah tidak lucu kalau suatu ketika kamu mengatakan pada pasangan seumur hidupmu itu : “Dulu si ini suka sama kamu, loh. Setiap saat dia cerita pasti tentang kamu. Blablabla…”
Mungkin bagi kamu dan pasanganmu itu akan terdengar biasa saja kalau sama-sama mengerti kondisinya, dan sama-sama tidak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagaimana dengan harga diri sahabatmu itu? Atau kamu jadi merasa bersalah berkepanjangan pada sahabatmu. Khawatir sahabatmu itu masih memiliki perasaan yang sama, tetapi merelakan semuanya demi kebahagiaanmu? 
Atau bisa saja terjadi kemungkinan yang lebih parah. Jadi ceritanya ternyata pasangan kamu itu ternyata dulunya juga suka sama sahabat kamu. Everything will still be okay if pasangan kamu bukan tipe orang yang berpikir terlalu dalam tentang masa lalunya itu. Tapi bagaimana kalau yang terjadi adalah pasanganmu itu kembali mengingat-ingat perasaannya? Bagaimana kalau yang terjadi adalah penyesalan-penyesalannya yang menyusul kemudian?
Too far? Memang. Namanya juga berandai-andai. Ini hanya bagian dari pikiran-pikiran liar remaja tanggung yang dilarang pacaran baik oleh agamanya, maupun oleh peraturan sekolahnya.
Ada sih, rasa takut itu dalam diri saya. Saya yang selalu tidak pernah bisa menyimpannya sendirian, dan selalu berapi-api ketika menceritakan pada sahabat saya tentang orang yang saya suka. Atau saya juga punya teman yang sangat bersemangat ketika kami sedang quality time berdua, menceritakan segalanya. Termasuk soal, ehm, cowok. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi di masa depan, bukan? Bisa saja saya kelak menjadi pihak mana pun. Ah, terlalu sulit dibayangkan. Semua kemungkinan yang sudah saya sebutkan bisa saja saya alami atau saya lakukan. Haha.
Tapi, guys, yasudahlahya, masa depan itu toh tetap akan menjadi misteri sampai kita tiba pada waktunya. Kalau kata teman saya sih, ya, nikmati saja masa-masa ketika sensasinya masih kamu rasakan. Atau kalau kata teman saya yang lain bisa saja situasi kamu itu bisa kamu jadikan insiprasi yang membuat kamu semakin produktif. Seperti statement teman saya itu, mungkin sebenarnya bisa diperpanjang lagi dan kalau saya rajin, voila! Jadilah novel drama yang dramatis. Haha.
Atau kamu bisa ikuti tips saya satu ini :
Katakan ini pada sahabatmu : “Nanti, kalau kenyataannya ternyata kamu yang jadi sama dia, tolong buat semua ceritaku ini tetap jadi rahasia, bahkan dari pasanganmu itu.” Dan temanmu bisa mengatakan itu juga padamu. Kalian saling berjanji untuk tetap menjaga. Karena perjanjian ini sudah pernah saya lakukan dengan sahabat saya. Minimal, untuk saat ini saya cukup tenang. ^^v kamu juga bisa mencobanya, kok.


{ Didedikasikan kepada para perempuan tangguh berhati nan cantik, teman-teman seperjuangan di kampus Islami, Prestasi, Mandiri, Foranza Sillnova.
 Terutama untuk sahabat saya yang mengeluarkan statement yang kembali saya jabarkan lagi di sini : Itqi Rahmatul Laila. Tetiba kangen sharing lagi sama kamu, qi :”
Dan saya menulis ini karena tiba-tiba teringat statemen itu setelah sekitar dua hari bersama seorang sahabat baru. AHR. Siapa tahu dia yang ‘jadi’ dengan dia.
Baiklah, daripada semakin melantur, saya cukupkan saja.}

Sekian

No comments:

Post a Comment