Kalo kata sarah, nggak usah move on kalo emang belum mau. Iya sih, itu prinsip aku dari dulu. Aku berhenti kapanpun aku mau. Karena itu nggak berpengaruh terhadap siapa pun. Tapi aku bukannya nggak mau. Mau mah mau banget. Tapi kok makin usaha, makin sakit.
Kalo kata sarah lagi, bersaing aja dengan sehat. Aku bahkan nggak tau bersaing dengan siapa. Tapi aku tau, aku udah kalah. Lagian itu bukan aku banget. Bersaing-bersaing. Bukannya karena aku nggak kompetitif atau takut kalah. Ya gimana. Belum belum udah kalah. Lagian ini bukan soal persaingan. Ini soal mean to be dan doesn't mean to be.
Heran. Urusan kayak beginian kan remeh banget. Di dunia ini banyak masalah besar yang bisa dipikirin, tapi mikirin diri sendiri aja gak selesai-selesai. Egois amat.
Tapi ya gimana mau mikirin negara apalagi bumi yang katanya sudah penuh dengan sampah plastik, makanya ada kampanye anti sedotan plastik. Mikirin dan ngurus satu orang aja gak bener. Diri sendiri.
Dulu aku punya tagline "dua bulan". Temen-temen deket di kampus dulu, tau apa maksudnya. Eh ini sekarang udah hampir setahun. Ga ada tanda-tanda mau kelar. Iya, nantangin sih soalnya. Ga siap pergi jadinya.
Jadi ibarat kata nih kayak lagi nginep di hotel. Kan udah rapi-rapi. Baju-baju udah masuk koper lagi. Udah mandi juga, udah rapi tinggal pergi aja. Tp masih guling-guling di kasur. Masih leyeh-leyeh. Eh tiba-tiba dipaksa keluar karena waktunya udah abis. Secara persiapan sih udah lama siap pergi. Tapi hati ga siap. Lagi nyaman-nyamannya kok. Semua dilempar keluar. Ya emang mau pergi juga pasti. Tapi ga siap pergi secepet ini. Gitu aja. Terus masih berdiri diam depan pintu. Pengen banget balik lagi, ngetok-ngetok mohon-mohon. Tp ga punya uang juga buat perpanjang masa tinggal. Kemaren aja dapetnya promo. Padahal mah pergi tinggal pergi. Karena tau sejak awal itu kamar hotel bukan tujuan akhir. Tempat transit aja lah.
Eh terus tiba-tiba Muhammad ngirimin kaligrafi tulisan al quran. Arra'd ayat 28. Kan kayak disindir gitu aku. Galau karena kurang iman nih. Aduh...
Eh terus tiba-tiba sarah ngirimin link lagu. Judulnya let her go. Dari passenger. Eh tapi dia ganti liriknya jadi let him go. Yah, kan yang go aku. Bukan him. Tapi kenapa liriknya pas banget. Kan jadi sebel. Apalagi di bagian. Only know you've been high when you feeling low. Sama bagian well you see her when you fall asleep, but never to touch never to keep, cos you love her too much and dive too deep. Sama bagian hoping one day you make a dream last, but dreams come slow and they go so fast.
Eh terus jadi inget kata-kata yang kata sarah pernah dipake buat negur dia. Hati-hati, itu ambisi. Hhhh... Aku lelah sama diriku sendiri.
Dan biarkan gumam itu tertahan diujung lidah, tak terucapkan. Tapi jangan biarkan gumam itu tertahan di ujung jari, tak tertuliskan.
Friday, March 8, 2019
Pertama
Kali ini, untuk pertama kalinya sepanjang yang dia mampu ingat, ia tidak punya kekuatan untuk keluar dari pusaran yang ia buat sendiri.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia tak mampu mengangkat kakinya untuk pergi. Meski semua sudah rapi dikemas.
Kali ini, untuk pertama kalinya, ia menangis ingin dicegah, tanpa mampu mengatakan keinginannya. Padahal logikanya mengatakan ia harus pergi.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia menyadari kebodohan-kebodohannya. Tentang dongeng-dongeng yang ia ciptakan sendiri di kepalanya.
Kali ini, untuk pertama kalinya dalan hidupnya, ia menyesal karena telah jatuh cinta pada seseorang.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia tak mampu mengangkat kakinya untuk pergi. Meski semua sudah rapi dikemas.
Kali ini, untuk pertama kalinya, ia menangis ingin dicegah, tanpa mampu mengatakan keinginannya. Padahal logikanya mengatakan ia harus pergi.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia menyadari kebodohan-kebodohannya. Tentang dongeng-dongeng yang ia ciptakan sendiri di kepalanya.
Kali ini, untuk pertama kalinya dalan hidupnya, ia menyesal karena telah jatuh cinta pada seseorang.
Saturday, December 29, 2018
Thursday, December 27, 2018
Tidak ada judul untuk kita, kita bukan siapa-siapa
Ada isyarat yang disembunyikan dalam tawa-tawa yang dipaksakan
Ada rindu pada jarak yang sengaja diciptakan
Ada perih di balik tawa masing-masing dengan yang lain
Ada kata "dia" yang sebenarnya bermakna "kamu"
Topeng-topeng yang dipasang
Untuk menutupi rasa yang tidak pada waktunya
Dinding-dinding beku yang dibangun
Untuk melindungi isi yang rapuh
Khawatir melekat selamanya menjadi bagian diri
Lupa akan sebab mengapa ia terpasang
Tapi dibuka pun untuk apa
Kita belum siap untuk saling menemukan
Kita berdiri saling memunggungi
Berjalan saling menjauhi
Tapi berharap bertemu di satu titik
Setelah mengelana keliling dunia
Ada rindu pada jarak yang sengaja diciptakan
Ada perih di balik tawa masing-masing dengan yang lain
Ada kata "dia" yang sebenarnya bermakna "kamu"
Topeng-topeng yang dipasang
Untuk menutupi rasa yang tidak pada waktunya
Dinding-dinding beku yang dibangun
Untuk melindungi isi yang rapuh
Khawatir melekat selamanya menjadi bagian diri
Lupa akan sebab mengapa ia terpasang
Tapi dibuka pun untuk apa
Kita belum siap untuk saling menemukan
Kita berdiri saling memunggungi
Berjalan saling menjauhi
Tapi berharap bertemu di satu titik
Setelah mengelana keliling dunia
Wednesday, October 17, 2018
Mental Merasa Memiliki Beban Paling Berat
Kadang kita terjebak dalam peran masing-masing. Terpenjara dalam tugas yang kita anggap sebagai beban. Sehingga seringnya kita tidak sempat sowan sejenak, melihat saudara kita dengan perannya yang lain.
Seringnya kita melihat dunia ini dan semua dinamikanya dari sudut pandang kita. Meminta excuses dan rukhshah atas dasar kerepotan kita. Kemudian menyalahkan orang lain yang tidak bisa mengerti kita.
Padahal kita lupa. Bahwa setiap kita memiliki jatah masing-masing. Dengan segala proses dan naik-turun sensasinya. Emosi seringkali ikut bermain dan menguji keikhlasan kita. Sudahkah benar niat-niat kita? Sudahkah kitapun memahami orang lain?
Dan mungkin kita luput bahwa di luar lingkar peran kita, ada peran-peran lain yang juga memiliki tanggung jawab sepadan. Di wajah saudara kita mungkin tidak terlihat gurat keletihan. Tetapi bukan berarti peran mereka lebih ringan.
Bahwa mereka ada bukan untuk mengerjakan bagian kita, perlu kita ingat. Dan bahwa mereka ada untuk membersamai kita dan saling menopang, perlu kita tanamkan dalam-dalam pada default mindset kita. Dan bahwa setiap peran berbeda, tidak akan pernah bisa kita bandingkan ringan-beratnya dengan indikator kita dan beban yang kita tampung, perlu kita luruskan baik-baik.
Dan kepekaan yang kita harapkan tumbuh dari saudara kita, sudahkah kita mengakomodasi mereka dengan empati kita? Sudahkah mereka terpenuhi haknya sebagai saudara kita?
Aku berlindung dari perasaan memiliki beban yang paling berat.
Tumblr, 10 November 2016
Monday, September 24, 2018
Episode 14 : Epilog
Seandainya hidup bisa berjalan seperti cerita. Bermula di mana kita ingin ia bermula. Berakhir di mana kita ingin ia berakhir. Tapi...
Begitulah hidup.
Begitulah hidup.
Sunday, September 23, 2018
Episode 13 : Pertemuan-Pertemuan
Hidup adalah serangkaian pertemuan. Sejak pertama kali membuka mata, bertemu dengan orang baru, sampai kembali menutup mata, adalah rangkaian pertemuan yang kadang di antaranya saling menjalin. Jika pada akhirnya aku dipertemukan denganmu, itu pasti karena jalinan-jalinan hidup telah mengarahkannya demikian. Jika pada akhirnya pun aku dipisahkan darimu, itu pun karena telah arahnya demikian.
Pertemuan-pertemuan itulah yang mendewasakan kita. Tidak ada yang merugi. Tidak ada yang perlu disesali.
Pertemuan-pertemuan itulah yang mendewasakan kita. Tidak ada yang merugi. Tidak ada yang perlu disesali.
Subscribe to:
Posts (Atom)