Sunday, January 24, 2010

Sahabat yang Pergi


Hh.. aku membanting tubuhku ke atas springbedku yang empuk. Kubiarkan sepatuku masih menempel di kakiku. Kubiarkan pula tas sekolahku tergeletak tak berdaya di samping tempat sampah. Aku melepas jilbab putihku lalu menyalakan kipas angin dan membiarkan anginnya memainkan rambutku.

”Cukup, Ras! Hentikan semua permintaan maafu itu! Aku sudah muak dengan semua ini. Kalau kumaafkan kau akan mengulanginya lagi! Aku sudah hafal sifat-sifatmu itu.” masih terngiang kata-kataku sendiri pagi tadi saat Laras menghampiriku untuk meminta maaf. Begitu pula siangnya sepulang sekolah. Tak ada kata maaf baginya! Aku sudah terlampau kecewa. Pikiranku melayang ke masa lalu. Memutar memori tiga minggu lalu. Saat aku memutuskan persahabatan kami.

***

”Ras,” sapaku pagi itu. Saat itu sedang isirahat sekolah. Yang dipanggil tidak menjawab. Mungkin suaraku tidak terdengar.

”Ras!” aku mengulangi dengan suara lebih keras. Menurutku itu sudah cukup untuk terdengar Laras. Tapi dia malah berlari ke arah Bilqis sambil tertawa-tawa. Aku memanggil-manggil dengan suara yang lebih keras. Tapi ia tak menghiraukan.

Itu terus berlangsung di hari-hari berikutnya. Seminggu sebelum hari itu Bilqis sakit cacar air. Selama seminggu ia tak masuk sekolah. Dan selama itu pula aku dan Laras selalu bersama. Jajan bareng, main bareng, bahkan berangkat sekolah bareng. Setiap istirahat Laras mendatangi mejaku dan mengajak ke kantin. Kami selalu main bareng, ketawa bareng, dan saling curhat.

Tapi sejak Bilqis kembali sekolah, Laras seakan lupa sama aku. Walaupun kami masih berangkat sekolah bareng, di sekolah, Laras nggak pernah peduli sama aku. Aku tidak suka sifatnya yang satu itu. Itu yang mebuatku marah sama dia. Akhirnya aku menjauhinya.

Seminggu setelah Bilqis kembali sekolah, aku tidak pernah berangkat sekolah bareng Laras lagi. Sebisa mungkin aku menghindari Laras, Pagi hari, aku berusaha berangkat lebih pagi dari biasanya supaya tidak bareng Laras. Ketika di sekolah Laras menyapaku pun aku pura-pura tidak mendengarnya.

Siangnya Laras mencegatku, ”Lla, tadi kok nggak berangkat bareng?”

”Lagi pengen berangkat pagi.” jawabku sekenanya.

”Kamu marah ya, Lla?” tanyanya.

”Pikir aja sendiri!” semburku lalu langsung masuk ke dalam angkot yang baru berhenti. Diangkot itu tinggal ada satu tempat duduk. Yaitu di bagian depan. An sekarang sudah aku tempati sehingga Laras tidak bisa mengikutiku. Mau tidak mau dia harus menunggu angkot berikutnya. Emangnya enak ?!

Keesokan harinya Laras tidak menyapaku sama sekali. Biasanya kalau tahu aku marah, Laras buru-buru mengemis meminta maaf. Tapi sekarang dia justru nyuekin aku. Aku bertambah marah.

Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati Bilqis. Aku akan mencoba untuk menjauhkan Bilqis dari Laras dan bermain dengannya. Supaya Laras tahu bagaimana sakitnya dicuekin. Tapi situasi tetap sama. Tidak ada sama sekali permintaan maaf dari Laras.

Seminggu setelah itu Bilqis pindah sekolah dan juga pindah rumah. Papi Bilqis yang diplomat itu dipindahtugaskan ke Australia. Mau tidak mau Bilqis dan maminya ikut pindah ke sana. Bukan masalah juga bagi Bilqis. Dari kecil Bilqis sudah dibiasakan oleh papi-maminya berbicara menggunakan bahasa Inggris di rumahnya.

Baru setelah itu Laras mendekati aku dan merengek-rengek minta maaf. Hebat banget ya dia?! Setelah tidak ada teman dia baru minta mau minta maaf. Dia kira nggak sakit apa diperlakukan seperti ini?! Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati sama sikapnya. Aku bertekad untuk tidak memaafkan Laras.

***

Aku sadari sejak aku menjauh dari Laras, keceriaan juga seolah hilang dariku. Aku jadi jarang tertawa. Kalaupun ada yang lucu, paing aku hanya tersenyum. Aku lebih memilih untuk membaca buku daripada bergabung dengan teman-teman yang lain di kantin ketika istirahat. Aku juga tidak lagi memedulikan apa yang Laras kerjakan. Emang gua pikirin?!

”Sya, boleh mama masuk?” sahutan mama dari depan pintu kamarku menyadarkanku dari lamunanku. Aku ingin menolak, tapi aku nggak enak ngomongnya.

”Iya, masuk aja, ma. Nggak dikunci kok.” seruku.

”Aduh, anak mama ini kok belum ganti baju? Mana sepatunya belum dilepas, lagi. Ini tasnya kok ditaruh disini..” mulai deh cerwetnya.

”Lagi males, ma. Ntar aja Sya beresin.” kataku malas-malasan. Mama duduk di tepi tempat tidurku.

”Sya, mama perhatiin kok akhir-akhir ini setiap pulang sekolah kamu malas-malasan kayak gini sih? Biasanya main sama Laras,” tutur mama, ”lagi marahan ya? Kok kalau berangkat sekolah nggak bareng lagi?”

”Sya lagi banyak urusan di sekolah, ma. Berangkatnya harus pagi-pagi. Dan siangnya pasti capek berat, ma. Males main.” jawabku tak menatap mama. Takut kalau mama tahu kalau aku berbohong.

”Ya udah. Jangan lupa ganti baju dan beresin kamar, ya.” kata mama sebelum keluar dari kamarku. Huft... aku kebanyakan melihat kebelakang sehingga tidak peduli sama semua urusan yang ada di depan. Laras itu masa lalu. Aku nggak peduli lagi sama dia.

***

Pulang sekolah aku langsung melangkah pulang. Tapi di tengah perjalanan Laras mencegatku.

”Lla, maafin aku dong.” pintanya sambil menarik tanganku. Kutepiskan tangannya. Aku mendorong tubuhnya dan berlari saat dia lengah karena terkejut. Laras memanggil-manggilku dari belakang. Lalu terdengar jeritan. Itu suara Laras! Aku menengok ke belakang. Laras terjatuh dengan kepala bersimbah darah karena terbentur trotoar. Ia terserempet motor. Aku panik.

”Laras!” aku nggak peduli darahnya mengotori rok sekolahku. Kuhentikan sebuah taksi yang lewat. Dengan dibantu oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, aku mengangkat Laras ke dalam taksi lalu meluncur ke UGD terdekat. Kurogoh tasku untuk mencari HP. Aku menelepon rumah Laras dan menceritakan kalau Laras kecelakaan, kemudian menelepon mama.

Laras dilarikan ke UGD sebuah rumah sakit. Ia sedang ditangani oleh petugas-petugas UGD itu. Tak lama kemudian orang tua Laras dan mama datang. Mereka terlihat panik dan menanyakan penyebab kejadian.

Aku menunduk. Kalau dirunut dari awal, akulah penyebab semua ini. Laras terserempet motor karena mengejarku yang tidak mau memaafkannya tadi. Seandainya tadi aku langsung memaafkannya, tak mungkin ada kejadian seperti ini.

Aku menganti pakaian sekolahku yang bersimbah darah dengan baju yang dibawa mama. Kami menunggu Laras dengan geisah. Lalu dokter keluar dari UGD itu.

“Nona Laras mengalami gegar otak di sebelah kiri dan belakang. Lengan atas tangan kanannya patah. Ia harus menjalani perawatan intensif. Bisa diurus di bagian administrasi.” Tutur sang dokter kepada mama Laras yang khawatir akan keadaan anak semata wayangnya itu.

“Terima kasih, dok.” Ujar mama Laras.

”Ya, sama-sama. Saya permisi dulu.”

Hari itu juga Laras dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Aku menungguinya sampai sore. Sorenya dengan berat hati aku pulang ke rumah. Laras koma. Entah sampai kapan. Aku jadi semakin merasa bersalah. Ya Allah, tolong selamatkan Laras.

***

Pagi harinya aku pergi ke rumah sakit. Untunglah hari ini hari Sabtu. Sekolah libur dan aku bisa menunggui Laras seharian. Ketika sampai di kamar perawatan Laras, mama Laras menyapaku.

”Pagi Syakilla.”

”Pagi, tante. Gimana kabar Laras? Apa dia udah sadar?” tanyaku.

“Tadi pagi Laras sudah sadar. Sekarang ia sedang tidur. Pengaruh obat. Lla, tolong jaga Laras, ya. Tante mau pulang dulu.” pesan tante Zira, mama Laras. Aku mengangguk.

Tak lama setelah tante Zira dan om Adri, papa Laras, pergi, Laras membuka matanya.

”Lla, kamu udah maafin aku?” itu kata-kata pertamanya pagi itu. Aku tersenyum dan mengangguk sambil berkata, ”ya.”

”Makasih ya, Lla.” katanya, ”aku emang salah, Lla. Nggak seharusnya aku lupain kamu begitu aja waktu ada Bilqis.”

”Ya udah, lah. Itu udah lewat. Sekarang aku yang minta maaf karena kamu jadi kayak gini gara-gara aku.”

”Sudahlah, Lla. Ini semua memang sudah takdir hidup aku.” jawabnya. Aku tersenyum dan memeluknya.

”Lla,” kata Laras ketika aku melepas pelukanku, ”tolong bilangin sama mama dan papaku, ya. Bilangin kalau aku minta maaf dan ngucapin terima kasih. Bilang juga terima kasih sama mama kamu yang udah baik banget sama aku dan menganggap aku anaknya. Makasih ya, Lla, udah mau jadi sahabatku. Maafin aku kalau aku sering bikin kamu marah dan BT. Aku ngantuk, Lla. Aku mau tidur. Kayaknya aku akan tidur nyenyak sekali. Jangan ganggu aku ya, Lla.” aku hanya mengangguk dan membantunya menarik selimut. Dan dengan cepat Laras terlelap.

Tiba-tiba perasaanku berubah jadi nggak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Ada apa ini? Maafin aku, Ras. Aku udah bikin kamu jadi kayak gini. Untung aja kamu nggak hilang ingatan. Kamu pasti sembuh, kok, Ras. Kita bisa ketawa dan curhat kayak dulu lagi. Bisikku dalam hati.

Aku memandangi monitor pendeteksi detak jantung. Dan tiba-tiba garis-garis yang ada di monitor berubah menjadi lurus. Secepat kilat aku memanggil dokter dan suster yang segera menuju kamar Laras. Aku diminta menunggu di luar. Sambil menunggu, aku menelepon tante Zira dan om Adri lalu menelepon mama. Tak lama mereka datang dan menanyakan keadaan Laras. Setelah aku jelaskan mereka terlihat sangat panik dan khawatir.

Beberapa menit kemudian dokter keluar dari kamar Laras dengan raut wajah yang sulit ditebak. Beginikah tampang semua dokter jenis ini?

”Maaf..” hanya sepenggal itu, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi dan hendak dikatakan dokter itu, ”Laras tidak bisa diselamatkan. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi tetap saja semua adalah kehendak Yang Di Atas.”

”Laras!” aku berlari menerobos masuk ke kamar perawatan Laras. Sebelumnya kulihat tante Zira pingsan. Ia pasti sangat sedih karena anak semata wayangnya itu harus pergi terlebih dahulu. Dengan air mata berlinang aku memanggil-manggil nama Laras. Walau kutahu itu pasti sia-sia. Laras tidak mungkin bangun kembali.

Jasad itu pucat. Selukis senyum tipis terbentuk di bibirnya yang juga pucat.

”Maafkan aku, Ras.” bisikku.

”Semoga semua kebaikan dan amalmu di terima Allah, Ras. Selamat jalan sahabatku.” doaku dalam hati.

***

Gundukan tanah itu masih berwarna merah. Bunga-bunga segar masih tertabur diatasnya. Dibawah situ ada jasad sahabatku. Orang yang paling kusayangi setelah mama. Selamat jalan, Laras. Maafkan aku. Selamat jalan sahabatku.

Aku melangkah pulang dengan mata membengkak. Aku harus mengubur semua mimpi untuk ketawa bareng Laras lagi, mengubur janji kita yang akan selalu bersama untuk meraih kesuksesan.


Jakarta, 19 Januari 2010






















No comments:

Post a Comment