Wednesday, April 5, 2017

Panglima dan Asisten Juru Masak (2)

“Aku sedih…” katamu.

“Banyak orang dapur yang ditarik untuk ikut dalam pertempuran. Hanya karena di dapur terlihat sudah lengang, tidak ada pekerjaan, dan terlihat seperti tidak ada apa-apa. Padahal, bukankah mereka tahu bahwa pekerjaan kita di sini masih banyak?” Masih katamu.

Aku mengerti. Setelah koki utama ikut pergi dan terlahir kembali sebagai panglima utama, satu persatu awak dapur ikut pergi. Ditugaskan ke berbagai wilayah. Kini, teman terdekatku harus ikut pergi juga.

“Dear, kita ini orang dapur.
Tapi tidak ada salahnya kita ikut bergabung ke medan pertempuran
Setidaknya kita juga sering ikut latihan fisik meski di barisan belakang
Setidaknya kepergianmu dengan persenjataan yang sudah dilengkapinya
Setidaknya tidak jauh berbeda antara pedang dan pisau daging
Toh kalian tidak pergi selamanya, Toh kalian tidak pergi sejauh jarak tak hingga
Pekerjaan kita sudah berlangsung selama masa persiapan, pun saat ini kita sudah dibantu alat
Jadi tidak ada salahnya kalau mereka menarik awak-awak tebaik dapur untuk turut serta
Aku pun harus siap jika tiba-tiba saja diminta berjaga di baris paling belakang, meski tanpa pedang bahkan zirah, mengedarkan air-air minum kepada para pejuang yang mungkin lupa akan rasa haus mereka
Tenanglah,
Dapur masih tetap bisa mengepul, aku yang hanya tukan bersih-bersih dapur ini tidak pernah sendirian, masih ada orang.” Kataku.


Namun tidak pernah sempat terucap kepadamu. Aku sudah melihatmu berlari dengan zirah dan busur panahmu. Siap bergabung bersama pasukan yang dibentuk oleh sang Panglima. Aku berjaga di sini menunggumu, dia, dan juga kalian semua, pulang dengan kabar kemenangan yang besar.

Aku masih termenung ketika kamu sudah menghilang dari jarak pandangku. Sampai akhirnya aku sadar,

Ah, masih ada masakan di kuali yang harus aku periksa.

No comments:

Post a Comment