Wednesday, May 16, 2018

Episode 4 : Sweet Rendezvous 2

I live my life. Setelah momen patah hati untuk yang kesekian kalinya, aku lebih mudah menikmati hidup. Lebih mudah melupakan duka. Lebih menikmati setiap tawa dan menyerap sedikit kesedihan hanya untuk formalitas karena aku masih manusia. Waktu-waktu berat itu telah berlalu dan aku, sejak dulu, tidak pernah berlama-lama dalam patah hati. Tapi sepertinya aku belum ingin kembali jatuh cinta.

Sampai aku bertemu denganmu. Membuatku menyadari bahwa aku tetap aku. Yang dapat dengan mudah jatuh karena senyuman. Atau sedikit perhatian. Atau sedikit kebersamaan. Atau bahkan aku bisa jatuh juga karena pengabaian. Orang yang sangat mengenalku, pasti mengerti.

Malam sudah hampir memasuki fase sendu. Aku sudah bersiap pulang ketika kamu datang tanpa ancang-ancang. Sukses membuatku gugup bukan kepalang. Pertemuan yang tidak kuekspektasikan.

Tuesday, May 15, 2018

Episode 3 : Sweet Rendezvous 1

Berlalunya waktu, aku lupa bahwa aku masih menyimpan tanya yang belum terjawab.

Sampai pada suatu malam aku menyadari bahwa aku mulai merindu adalah saat seorang teman menyebutkan namamu. Aku menunggumu malam itu, meski tanpa ekspektasi. Tapi kamu tidak juga datang. Kecewa? Belum. Perasaan ini masih begitu halus untuk mampu membuatku kecewa.

Kita masih punya banyak waktu. Masih tanpa ekspektasi, aku rela menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya. Kita pasti masih punya kesempatan yang lain.

Sampai kesempatan itu tiba, aku masih sanggup bertahan dalam ekspektasi nol. Titik di mana belum ada yang perlu dikhawatirkan. Titik di mana belum ada yang perlu dipertimbangkan.

Episode 2 : Pertemuan Kedua

Tidak pernah ada perkenalan resmi antara kita. Aku menyebutkan nama, kamu menyebutkan nama. Ah cliché dan tidak perlu. Yang ada adalah pesan singkat pertama darimu yang menawarkan makanan untukku.

Pada pertemuan kedua ini lah aku memulai banyak hal meskipun pertanyaan-pertanyaan yang kubawa pulang belum juga menemukan jawaban. Tetapi aku belum jatuh cinta. Dua pertemuan ternyata tidak cukup bagiku.

Dan satu kalimat peringatan hati-hati dari seorang teman justru telah membawaku masuk lebih jauh semakin mendekat pada bahaya.

Monday, May 14, 2018

Episode 1 : Pertemuan Pertama

Aku bukan seorang yang percaya akan konsep cinta pada pandangan pertama. Setidaknya untuk diriku sendiri. Aku lebih suka mengakui pepatah jawa yang mengatakan bahwa cinta tumbuh karena terbiasa. Terbiasa membicarakan hobi yang sama, terbiasa ngobrol lewat pesan singkat WhatsApp, terbiasa membicarakan organisasi, terbiasa mengelola acara bersama, terbiasa mengalami nasib yang sama, atau bahkan sekadar terbiasa memikirkan dirinya tanpa orang tersebut tahu.

Maka ketika aku mengingat kali pertama aku melihatmu, aku dapat menilai bahwa saat itu aku tidak langsung jatuh cinta. Meskipun setelahnya, aku membawa pulang banyak pertanyaan tentangmu yang kupikirkan sampai berhari-hari. Dari sanalah, aku terbiasa memikirkanmu.

Friday, February 2, 2018

TKK UI 2017 : No Farewell

After a year full of hard works and hard laughs...
I've written about our togetherness and farewell here
Tapi kata seorang teman, No Farewell! Ini video yang dia editkan.

Padamu atas kerja-kerja kita, our inside jokes, kesalahpahaman, dan kebesaran hatimu, terima kasih telah ada jauh lebih indah dari yang dibayangkan di awal. Tentangmu, kulangitkan doa menembus ruang dan waktu. Kemarin, saat ini, dan hari-hari esok ke depan.

Tabir Cahaya



Pada hari ketika mendung terbuka dan
                                   cahaya matahari menyelisip di sela-selanya
              menyerupai tabir cahaya.
                            Pada hari itu, kulihat
                                                        binar keyakinan di matamu yang selama ini
                                       tertutup kabut.
                   Tapi kamu selayaknya cahaya.
   Bisa dilihat, tapi tak teraih.
                                            Maka ketika seseorang mampu
                           menyingkap kabut itu, ia
                                                   pasti akan selamanya berarti
                                 bagimu. Dan aku telah gagal.
                                                                          Dan pada hari ini,
                       ribuan langkah sejak itu, aku telah menemukan
                                     cahaya baru. Pada binar yang
                                                         tertuju lurus padaku.
                Menghujam ke dalam diri. Aku telah
                                           sampai pada tujuanku.

Berbahagialah



Berbahagialah. Karena aku juga berbahagia dalam kesyukuran.

Di depan nanti, akan ada momen yang akan tidak bisa kita saling hadiri. Seberbahagia apa pun. Sepenting apa pun.

Bukan karena kita tidak lagi saling menganggap penting satu sama lain. Tapi karena mungkin, itu adalah poin dari kedewasaan dan keniscayaan perputaran waktu

Kala jalan yang kita pijak tidak lagi beririsan. Bisa jadi bersisian. Bisa jadi terpisah di persimpangan.

Kala variabel dalam hidup terus bertambah, tidak hanya satu atau dua, tapi berlipat-lipat banyaknya.

Kehadiran akan menjadi barang mewah yang tetap harus disyukuri ketika kita tidak mampu memilikinya, sekeras apapun usahanya

Sekali lagi, berbahagialah

Megamendung, Suatu hari di awal Januari

Dedicated to saudara-saudariku yang telah memasuki gerbang 'dunia nyata'. Nyata tantangannya, nyata perjuangannya.


Note: bukan dokumentasi sendiri. Kontributor: Toni, Widia, dan para paparazi grup kalangan terbatas