Kali ini, untuk pertama kalinya sepanjang yang dia mampu ingat, ia tidak punya kekuatan untuk keluar dari pusaran yang ia buat sendiri.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia tak mampu mengangkat kakinya untuk pergi. Meski semua sudah rapi dikemas.
Kali ini, untuk pertama kalinya, ia menangis ingin dicegah, tanpa mampu mengatakan keinginannya. Padahal logikanya mengatakan ia harus pergi.
Kali ini, untuk pertama kalinya ia menyadari kebodohan-kebodohannya. Tentang dongeng-dongeng yang ia ciptakan sendiri di kepalanya.
Kali ini, untuk pertama kalinya dalan hidupnya, ia menyesal karena telah jatuh cinta pada seseorang.
Dan biarkan gumam itu tertahan diujung lidah, tak terucapkan. Tapi jangan biarkan gumam itu tertahan di ujung jari, tak tertuliskan.
Friday, March 8, 2019
Saturday, December 29, 2018
Thursday, December 27, 2018
Tidak ada judul untuk kita, kita bukan siapa-siapa
Ada isyarat yang disembunyikan dalam tawa-tawa yang dipaksakan
Ada rindu pada jarak yang sengaja diciptakan
Ada perih di balik tawa masing-masing dengan yang lain
Ada kata "dia" yang sebenarnya bermakna "kamu"
Topeng-topeng yang dipasang
Untuk menutupi rasa yang tidak pada waktunya
Dinding-dinding beku yang dibangun
Untuk melindungi isi yang rapuh
Khawatir melekat selamanya menjadi bagian diri
Lupa akan sebab mengapa ia terpasang
Tapi dibuka pun untuk apa
Kita belum siap untuk saling menemukan
Kita berdiri saling memunggungi
Berjalan saling menjauhi
Tapi berharap bertemu di satu titik
Setelah mengelana keliling dunia
Ada rindu pada jarak yang sengaja diciptakan
Ada perih di balik tawa masing-masing dengan yang lain
Ada kata "dia" yang sebenarnya bermakna "kamu"
Topeng-topeng yang dipasang
Untuk menutupi rasa yang tidak pada waktunya
Dinding-dinding beku yang dibangun
Untuk melindungi isi yang rapuh
Khawatir melekat selamanya menjadi bagian diri
Lupa akan sebab mengapa ia terpasang
Tapi dibuka pun untuk apa
Kita belum siap untuk saling menemukan
Kita berdiri saling memunggungi
Berjalan saling menjauhi
Tapi berharap bertemu di satu titik
Setelah mengelana keliling dunia
Wednesday, October 17, 2018
Mental Merasa Memiliki Beban Paling Berat
Kadang kita terjebak dalam peran masing-masing. Terpenjara dalam tugas yang kita anggap sebagai beban. Sehingga seringnya kita tidak sempat sowan sejenak, melihat saudara kita dengan perannya yang lain.
Seringnya kita melihat dunia ini dan semua dinamikanya dari sudut pandang kita. Meminta excuses dan rukhshah atas dasar kerepotan kita. Kemudian menyalahkan orang lain yang tidak bisa mengerti kita.
Padahal kita lupa. Bahwa setiap kita memiliki jatah masing-masing. Dengan segala proses dan naik-turun sensasinya. Emosi seringkali ikut bermain dan menguji keikhlasan kita. Sudahkah benar niat-niat kita? Sudahkah kitapun memahami orang lain?
Dan mungkin kita luput bahwa di luar lingkar peran kita, ada peran-peran lain yang juga memiliki tanggung jawab sepadan. Di wajah saudara kita mungkin tidak terlihat gurat keletihan. Tetapi bukan berarti peran mereka lebih ringan.
Bahwa mereka ada bukan untuk mengerjakan bagian kita, perlu kita ingat. Dan bahwa mereka ada untuk membersamai kita dan saling menopang, perlu kita tanamkan dalam-dalam pada default mindset kita. Dan bahwa setiap peran berbeda, tidak akan pernah bisa kita bandingkan ringan-beratnya dengan indikator kita dan beban yang kita tampung, perlu kita luruskan baik-baik.
Dan kepekaan yang kita harapkan tumbuh dari saudara kita, sudahkah kita mengakomodasi mereka dengan empati kita? Sudahkah mereka terpenuhi haknya sebagai saudara kita?
Aku berlindung dari perasaan memiliki beban yang paling berat.
Tumblr, 10 November 2016
Monday, September 24, 2018
Episode 14 : Epilog
Seandainya hidup bisa berjalan seperti cerita. Bermula di mana kita ingin ia bermula. Berakhir di mana kita ingin ia berakhir. Tapi...
Begitulah hidup.
Begitulah hidup.
Sunday, September 23, 2018
Episode 13 : Pertemuan-Pertemuan
Hidup adalah serangkaian pertemuan. Sejak pertama kali membuka mata, bertemu dengan orang baru, sampai kembali menutup mata, adalah rangkaian pertemuan yang kadang di antaranya saling menjalin. Jika pada akhirnya aku dipertemukan denganmu, itu pasti karena jalinan-jalinan hidup telah mengarahkannya demikian. Jika pada akhirnya pun aku dipisahkan darimu, itu pun karena telah arahnya demikian.
Pertemuan-pertemuan itulah yang mendewasakan kita. Tidak ada yang merugi. Tidak ada yang perlu disesali.
Pertemuan-pertemuan itulah yang mendewasakan kita. Tidak ada yang merugi. Tidak ada yang perlu disesali.
Episode 12 : Undangan 2
Paket berisi 1000 undangan dari percetakan baru saja tiba ketika seorang kurir sampai di depan rumah. Ia mengantarkan satu buah undangan atas namaku sebagai penerima.
Sekarang di atas meja telah tergeletak tiga buah undangan dengan tanggal berdekatan. Aku memandangi ketiganya sambil tersenyum maklum. Begitulah hidup. Jalin menjalin ceritanya tidak akan dapat kita mengerti sampai satu persatu terkuak misterinya.
Begitulah hidup. Kita tidak pernah benar-benar memutuskan. Aku pernah merasa begitu yakin, kemudian memutuskan. Meski pada akhirnya akhir cerita tidak berjalan seperti keputusanku. Kamu, dan banyak orang lain di bumi ini juga pasti pernah mengalaminya.
Pada undangan pertama, aku memandangi namaku di dalamnya. Waktu yang akhirnya membisikiku nama yang selama ini menjadi misteri. Dan nama itu bukan namamu. Karena namamu tertulis di atas undangan silver yang baru saja datang. Tentu dengan nama seseorang yang telah menjadi pilihanmu. Sementara undangan satu lagi yang berada di atas meja sudah datang sejak kemarin. Dengan nama 'that sweet lil girl' with another guy.
Begitulah hidup.
Sekarang di atas meja telah tergeletak tiga buah undangan dengan tanggal berdekatan. Aku memandangi ketiganya sambil tersenyum maklum. Begitulah hidup. Jalin menjalin ceritanya tidak akan dapat kita mengerti sampai satu persatu terkuak misterinya.
Begitulah hidup. Kita tidak pernah benar-benar memutuskan. Aku pernah merasa begitu yakin, kemudian memutuskan. Meski pada akhirnya akhir cerita tidak berjalan seperti keputusanku. Kamu, dan banyak orang lain di bumi ini juga pasti pernah mengalaminya.
Pada undangan pertama, aku memandangi namaku di dalamnya. Waktu yang akhirnya membisikiku nama yang selama ini menjadi misteri. Dan nama itu bukan namamu. Karena namamu tertulis di atas undangan silver yang baru saja datang. Tentu dengan nama seseorang yang telah menjadi pilihanmu. Sementara undangan satu lagi yang berada di atas meja sudah datang sejak kemarin. Dengan nama 'that sweet lil girl' with another guy.
Begitulah hidup.
Subscribe to:
Posts (Atom)