Dan biarkan gumam itu tertahan diujung lidah, tak terucapkan. Tapi jangan biarkan gumam itu tertahan di ujung jari, tak tertuliskan.
Sunday, January 31, 2021
Tuesday, January 5, 2021
Monday, September 14, 2020
Kabar
Pada satu kali lagi kesempatan, entah yang keberapa, kudapati kembali kabar serupa. Sama seperti kabar-kabar terdahulu.
Bohong kalau bilang hati ini tidak terpengaruh. Tapi setidaknya ada satu hal yang selesai. Yaitu pertanyaan dalam benak. Tidak lagi tebak-tebak.
Lebih mudah untuk beranjak tersebab tertutupnya jalan, daripada terus berjalaan tetapi bertanya-tanya, bukan? Tanya tentang apakah jalan ini akan membawa ke tujuan, atau hanya berujung buntu dan putar balik.
Tapi sesal? Tidak ada dalam kamusku. Semua itu adalah pengalaman rasa yang akan membuatku kaya dan semakin kuat. Karena apa yang diciptakan untuk tidak terjadi, tidak bisa dimanipulasi untuk terjadi.
Akan datang masanya. Akan datang masanya.
Thursday, October 31, 2019
Cerita Tentang Waktu yang Lalu
Mari bercerita tentang apa yang kita rasa di waktu yang lalu
Tentang puisi-puisi yang pernah tertulis di atas kertas-kertas sisa
Maupun puisi yang hanya sampai pada pikiran-pikiran nyalang tengah malam
Mari kita cerita tentang waktu yang dulu
Pada pesan-pesan yang tidak sampai langsung pada gawai kita
Pada isyarat yang hanya terbang melayang di belantara maya
Pada senyum yang tersembunyi di balik layar satu sama lain
Waktu memang telah berlalu, kita mendewasa
Kita pernah begitu muda dan tergila-gila
Tanpa tahu cara menyampaikan rasa
Dalam diam yang kita jaga masing-masing
Waktu telah berlalu dan kita mendewasa
Kita bercerita bukan untuk saling kembali
Aku bersyukur kita tidak menemukan jalan pada satu sama lain
Menyelamatkan kita dari kegilaan masa muda
Waktu telah berlalu dan kita mendewasa
Dari masa lalu kita belajar
Bahwa saling merasa, belum tentu bisa saling menemukan
Terima kasih atas segenggam bunga yang telah kau mekarkan di hatiku
Meski waktu telah berlalu dan kita mendewasa
Mari kita bercerita tentang waktu yang lalu
Tuesday, October 29, 2019
Buah Tangan
Dari tas selempang yang dititipkan, kita bertemu
Dan pada guliran piring di atas meja makan, aku terhenti dari pusaranku
Lalu pada setangkap gambar, aku terpikat
Dan pada bayangan yang jatuh diujung kakiku, aku terbiasa
Aku tahu ini hanya akan menjadi rasa yang selewat
Yang gugur setangkai setangkai bersama hari hari yang berlalu pasca perpisahan
Lalu kisah ini abadi pada aksara
Menjadi buah tangan sebuah perjalanan singkat
Sesingkat waktu gugurnya
Monday, October 14, 2019
Akhir Tahun Ketiga
Awal tahun 2018 adalah masa-masa skip kehadiran pada pencapaian-pencapaian teman-temanku. Waktu itu aku sedang mengikuti sebuah camp selama 3 pekan dan harus melewatkan sidang-sidang skripsi teman-temanku. Terutama teman-teman yang selama setahun ke belakang saatu itu selalu bersamaku dalam kerja-kerja organisasi. Aku menuliskan tentang itu di sini
Sedih? Pasti. Tapi saat itu aku sudah melihat bahwa itu hanya awal dari fase dewasa yang sebenarnya. Ketika kita tidak lagi punya kesempatan untuk menghadiri saat-saat bahagia teman-teman dari masa lalu. Bukan karena tidak lagi berteman. Karena kita sudah punya kehidupan sendiri yang bisa jadi jauh berbeda ketukan tempo. Mereka menjejak saat kita sedang terawang. Kau mengerti kan maksudku?
Akhir tahun 2018 juga aku banyak melewatkan milestone berikutnya. Pernikahan. Berapa banyak undangan yang harus berbalas kata maaf dariku. Berapa banyak foto bersama yang tidak kuhadiri. Dari yang lokasinya jauh, sampai yang lokasinya dekat. Saat itu jadwalku sangat bergantung pada jadwal orang yang kutemani
Kecewa? Jangan tanya. Tapi begitulah prioritas membawa kita pada pilihan sulit.
Akhir 2019, aku mendapati sebuah undangan pernikahan dan kembali teringat pada akhir tahun-akhir tahun dua tahun terakhir.
Maka sekali lagi aku harus katakan, berbahagialah. Jika raga tidak bisa tersampaikan hadir pada hari bahagiamu, semoga doa-doa yang kuutus cukup kuat untuk menembus langit. Doa-doa atas kebahagiaanmu dan atas nama persahabatan.
Tertanda,
Iffah
Newbie adult
Wednesday, September 18, 2019
Dua Tahun Abin
"Kamu nggak capek, Bin? Ini udah mau dua tahun and you keep telling the same story."
Yang ditanya cuma tertawa kecil.
"Dan ini nggak kayak kamu yang biasanya. Aku kenal kamu dari zaman maba dan kamu nggak pernah menceritakan orang yang sama lebih dari tiga bulan." Abin cuma melirik.
"Oke, ada sih yang sampai setengah tahun. Tapi kan cuma sekali." Disa meralat pernyataannya.
"Dis, you know me. Aku akan move on pada waktunya kok."
"Tapi Bin, kamu pernah kepikiran nggak sih, kenapa nggak kamu perjuangkan aja instead of kamu nungguin saat yang tepat untuk move on?"
Hening.
"No, thank you. That's so not me."
Disa memandang Abin prihatin.
"Don't look at me that way. Aku bahagia kok. Dan aku yakin akan datang waktunya aku akan sempurna."
Disa mengenang obrolannya dengan Abin sebulan yang lalu. Dan begitulah rencana yang telah disetting untuk Abin. Disa hanya mampu memandang kagum pada kekuatan Abin yang tidak pernah dia sangka.
Di sinilah Disa sekarang, di dalam ruang rias pengantin, sesaat setelah terdengar kalimat "Saya terima nikahnya Abin Syamsa dengan maskawin tersebut, tunai." Mengalir air mata Disa dengan kebahagiaan yang membuncah. Sahabat mana yang tidak bahagia.
"Disa, aku yang akad kok kamu yang nangis? Tenang, habis ini kamu kok!" Goda Abin jenaka.
"Aku kira, Gaza hanya akan jadi cerita tiga bulan kamu seperti cerita-cerita yang lain."
Disa mengiringi Abin memasuki ruang akad, menuju seorang laki-laki yang namanya tidak pernah absen dari cerita Abin dua tahun terakhir ini.
Seminggu setelah pertemuan Disa dan Abin sebulan yang lalu, Disa mendapati chat whatsapp dari Abin.
"Disa, bisa bantu aku menyiapkan akad dan resepsi sederhana tiga pekan lagi?"
"Hah! Mendadak banget. Siapa yang mau nikah emang?"
"Aku,"
"Demi apa?! Sama siapa?!"
"Gaza, Dis..."
"Aku ke rumah kamu sekarang! Dan kamu harus cerita selengkap-lengkapnya. Jangan ada yang ketinggalan. Tunggu!" Saat itu juga Disa tancap gas ke rumah Abin.
Disa tidak pernah mengenal Gaza secara personal. Hanya tahu dari cerita-cerita Abin dan foto-foto instagram yang ditunjukkan oleh Abin.
Disa juga tidak pernah menyangka bahwa seorang Abin yang mudah jatuh hati, akan bertahan demikian lama pada satu nama saja. Mungkin, dua tahun kemarin adalah training bagi Abin untuk mencintai satu orang saja sepanjang sisa hidupnya.
Belakangan, Disa menyadari bahwa Abin benar. Ia tidak perlu memperjuangkan Gaza. Karena yang benar-benar mencintainya akan memperjuangkannya. Itu yang selama dua tahun ini tidak Abin ketahui. Bahwa sebenarnya Gaza tengah memperjuangkan Abin. Tanpa perlu cara-cara sok romantis menjanjikan harapan. Tanpa perlu kata-kata manis melambungkan rasa. Hanya perlu waktu untuk sampai pada langkah nyata.
"Makasih ya Dis. Udah jadi temen aku yang paliiing ngerti." Disa mengangguk dan melepaskan gandengan tangannya. Seolah melepas kepergian Abin untuk selamanya. "Aku tetep Abin yang sama kok. Kita tetap sahabat kok."
Disa menyeka sedikit air matanya. Tersenyum lebar pada Abin. "Selamat ya, Bin."