Friday, September 21, 2018

Episode 11 : Keputusan

Setelah perdebatan panjang dengan diri, berkali-kali merinci plus dan minus, berdiskusi dengan beberapa orang terdekat. Aku akhirnya memutuskan.

Setelah rangkaian kalimat yang berujung kursor berkedip selesai diketik, hening sejenak menyeruak sampai ke setiap sendiku. Menyusul tanda titik muncul, lalu, "send".

Telah muncul di layar kalimat panjangku dengan penutup "Ya, aku bersedia." Secepat itu terkirim, secepat itu aku melihat tanda "dibaca".

Aku telah membuat keputusan.

Episode 10 : Undangan 1

Pada akhirnya kita pasti akan menyebar undangan juga. Entah dengan nama kita bersamaan, atau masing-masing dengan nama yang lain. Tapi aku tidak menyukai candaan yang mendahului takdir. Sekalipun aku berharap candaan itu akan terwujud jadi kenyataan.

Yang aku tidak sukai adalah ketika kuncup-kuncup harap yang mulai layu, seperti disirami air segar, merekah perlahan. Yang aku tidak sukai adalah membayangkan hal sebaliknya setelah harapanku terkembang sempurna. Dan yang paling aku benci adalah ketika kamu mengatakan itu hanya untuk memberikan harapan semu. Salahku kah?

Dan seperti biasa, tanyaku tidak pernah berbalas jawab. Layar ponsel hanya menampilkan baris kalimat dengan kursor berkedip di ujungnya. Hening, kemudian terhapus kembali satu-satu.

Kuganti saja dengan candaan lain seolah aku tidak terpengaruh kalimat sebelumnya.

Sunday, September 16, 2018

Episode 9 : Aku Bukan Ancaman

Tidak pernah enak berada di tengah. Meskipun hanya rasa dan bukan kehadiran fisik. Aku tidak akan pernah berada di tengah kalian. Aku tidak akan pernah bisa menyusul ketertinggalanku. Tidak akan bisa.

Jadi duduklah di sampingnya, tenangkan ia. Aku siap mundur kapan saja.

Tuesday, May 29, 2018

Episode 8 : Kamu atau Bukan Kamu?

Apa yang lebih menyakitkan daripada rasa yang terpaksa dimatikan sebelum ia berbunga? Dan aku dengan sesadar-sadarnya, paham bahwa ini bukan soalan aku pantas atau tidak pantas. Tapi lebih mendasar lagi yaitu tentang aku atau bukan aku, dan tentang kamu atau bukan kamu.

Setelah puluhan hitungan aku menghitung dalam hati, menunggu sampainya aku pada pertemuan berikutnya denganmu, aku sempat hampir lupa. Tapi tepat sedetik sebelum aku benar-benar lupa, kamu harus datang bersamaan dengan kembalinya semua file-file yang hampir saja membusuk di recycle bin memori otakku. Apalah, aku tidak peduli dengan analogi yang berantakan. Yang aku peduli adalah garis pikiran rasionalku yang berantakan.

Kalau saja aku tahu apakah semua perjalanan ini adalah tentang kamu atau bukan, aku tentu akan bisa memutuskan untuk terus berjalan, meski harus menunggu ratusan bahkan ribuan hitungan pertemuan lagi, atau berhenti dan melangkah mundur meski senyumanmu terus menghantui langkah mundurku.

Kalau saja aku tahu apakah semua perjalananmu adalah tentang aku atau bukan, aku tentu akan bisa memutuskan akan bertahan meski ada yang harus keberatan atau bahkan tidak suka, atau mundur teratur meski aku hanya bersaing dengan diriku sendiri.

Kenyataannya aku tidak tahu.

Dan aku memang masih berharap pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Merindukan temu-temu tanpa rencana dengan nol ekspektasi. Manis. Sebelum semuanya berubah menjadi getir.

Saturday, May 19, 2018

Episode 7 : Pertemuan yang Terlambat

Mau berapa kali pun aku mengutuki keadaan, ia tidak akan pernah berubah. Mau berapa kali aku bertanya tanpa jawab, kenyataan tidak akan berganti. Nyatanya, dia lebih dahulu bertemu denganmu.

Dalam hidup, mungkin kita sering merasakan waktu-waktu yang tidak tepat. Tidak tepatnya waktu kehadiran kita, tidak tepatnya waktu kemunculan seseorang, tidak tepat waktu mengutarakan sesuatu, tidak tepat waktu bertemu dengan seseorang. Dan sederet missed timing yang kamu mungkin juga pernah rasakan.

Mungkin aku tidak seharusnya berada di sini. Atau berada saat ini. Tapi apa aku bisa mundur lagi ke garis start dan mencoba mencari jalan lain?

Sepertinya, sekalipun aku punya kesempatan untuk kembali ke semula, aku tidak yakin akan mengambil jalan lain. Menurutmu bagaimana?

Friday, May 18, 2018

Episode 6 : Sweet 'Lil Girl

There's this girl. Sweet as candy. Yang perlahan sudah seperti adikku sendiri. Yang selalu ada.

She talks a lot. Mostly about you. Aku baru saja kenal dia dan masih harus banyak beradaptasi dengan gayanya, lakunya, dan moodnya. Tapi satu yang kuyakini benar, posisimu di hatinya bukan posisi main-main. Aku nggak tau yang seperti apa, tapi aku tidak akan bisa menembus dinding itu.

Malam itu, di atas motor yang membawa kami pulang, kutanyakan padanya tapi tidak kutemukan jawab. Hanya kesimpulan sepihak yang kudapatkan dan penguatan atas dugaanku saja.

Dan pada malam yang sama, di atas motor yang sama, aku menangis karenamu untuk yang pertama kalinya. Dan tentang bagaimana ini semua bisa menjadi sangat halus dan sulit kunafikan. Titik air mata yang jatuh begitu saja. Tanpa kompromi.

Episode 5 : Sweet Rendezvous 3

Kamu akhirnya datang. Tanpa permisi. Seperti kamu yang tiba-tiba datang ke dalam hidupku tanpa kamu tahu bahwa kedatanganmu mengimprovisasi hidupku.

Seperti malam itu, saat aku hampir selesai berkemas, kedatanganmu membuatku tidak ingin segera beranjak. Membuatku mencari cara untuk tetap tinggal lebih lama.

Kita tidak banyak bicara malam itu. Tapi aku memperhatikan setiap jawabanmu dalam perbincanganmu dengan orang lain. Aku merekam setiap data yang terungkap darimu.

Dan ternyata, pertemuan yang tanpa ekspektasi terasa jauh lebih manis dari yang kupikir. Semacam kejutan ulang tahun sebelum harinya.