Friday, October 18, 2013

Untuk Seorang Teman


Kita dipertemukan oleh-Nya melalu idealisme yang kita pegang. Melalui prinsip yang kita jaga. Melalui visi yang kita miliki. Dan kita dipersaudarakan-Nya.

Tetapi waktu itu, kau tidak ceritakan semua. Kau tak pernah mau berbagi. Satu poin penting dan fatal bagiku. Dan aku baru menyadarinya belakangan. Bahkan bukan darimu langsung. Salahku tak pernah bertanya secara terbuka. Salahku tak pernah bisa menjadi dekat denganmu. Tapi mungkin ini bukan salah siapa-siapa.

Kau membicarakan idealismemu itu. Kau membicarakan visi kita itu. Aku menghargaimu karenana pandangan-pandanganmu. Aku menghargaimu karena kau mengatakan kita memiliki cara pandang dan prinsip yang sama. Kau salah. Aku juga salah tentangmu. Ah, tak seharusnya aku kecewa. Siapalah aku ini.
Kau menemukan pilihanmu. Kau tentukan jalanmu. Itu sepenuhnya ada di tanganmu. Tetapi aku sudah kecewa. Dan bahkan bukan hanya aku yang kecewa.

Semoga kau yakin akan pilihanmu. Bukan sekadar pilihan acak karena terbawa suasana.


untuk #RO

Thursday, October 17, 2013

Aku dan Kotak Besi Besar Bergerak

Aku dalam kotak besi besar bergerak. Pagi ini sepi. Entah aku yang berangkat terlalu pagi, atau alam sedang berserikat membantuku. Kotak besi besar bergerak ini pernah memuat banyak orang, beragam asal dan latar belakang, beragam misi dan tujuan. 

Kotak besi besar bergerak, antara Blok M dan Kampung Rambutan. Melaju cepat membelah udara pagi yang sudah dianggap siang oleh pengguna Jakarta. Melawan arah arus rombongan massa kuda-kuda besi yang berjejal menuju pusat kota.

Kotak besi besar bergerak ini. Hanya ada satu orang di setiap pasang kursi. Dua pasang kursi kosong. Dan hanya ada satu anak sekolahan di barisan kursi paling belakang.

Kotak besi besar bergerak. Ditemani sepoi angin dari lubang di kotak besi besar bergerak ini. Menghembus dengan perlahan, menyadarkan insan-insan yang nyaris jatuh terlelap. Masih sepagi ini. Atau justru membuat mereka bertambah rileks dan semakin jatuh terlelap dalam mimpinya. Tempat tujuan mereka masih jauh. Masih cukup waktu untuk terlelap sejenak.

Kotak besi besar bergerak membelah dari Selatan ke Timur. Manusia naik dan turun bergantian. Menambah pundi-pundi receh sang pengemudi dan seorang kondektur. Pundi-pundi yang masih harus dikurangi pungutan di sana-sini. Uang rokok untuk si ini dan si itu. Dan yang tersisa di kantong mereka di akhir hari belum tentu cukup untuk menghidupi anak-istrinya.

Kotak besi besar bergerak. Sesekali naik orang lain yang mencoba menumpang mencari sambungan nyawa. Sekedar untuk pengganjal perut malam ini mungkin. Bermodalkan gitar bekas yang dibeli di pasar loak. Atau tabuhan buatan sendiri dari bekas paralon dan bekas ban dalam. Atau hanya bermodalkan wajah memelas dan cerita hidup yang mengenaskan. Mereka mencoba mengumpulkan keping-keping kehidupan yang tersimpan di kantong-kantong tebal celana perlente.

Kotak besi besar bergerak pagi ini yang aku naiki. Kala angin masih sepoi membelai. Kala embun masih segar menyesap. Kiri-kanan jalan toko mulai buka. Depan belakang jalan belum banyak kuda besi melintas dan menyalip. Dan  aku masih punya waktu dan konsentrasi untuk merenung sejenak. Sampai aku disadarkan oleh bunyi palang naga besi. Aku harus turun di sini.

Sementara si kotak besi besar bergerak. Kembali melanjutkan penjelajahannya membelah Jakarta dari Selatan ke Timur dan dari Timur ke Selatan.

Potret



Pertigaan kalibata nan pikuk. Jejalan motor, mobil, bis kota, dan angkutan kota berebut lampu hijau yang sebentar-sebentar.

Barisan paling depan motor-motor tak sabar yang bahkan ada yang sampai naik trotoar. Ambil lahan orang. Lahan pejalan kaki yang memang sepi pemakai. Bahkan tutupi jalan ke kiri yang terdapat tulisan "belok kiri jalan terus".

Di belakangnya mobil dan kopaja yang lebih bijak. Tapi jua mengumpat ketika tak sempat dapat hijau. Padahal mereka hanya tertinggal satu detik. Habislah waktunya beberapa menit tunggu hijau muncul lagi.

Di trotoar pojok paling depan, penjual minuman dingin yang selalu siap sedia ketika sopir dan kondektur kopaja membutuhkan. Tak kurang, beberapa pak rokok juga mereka jajakan. Pelepas bosan tunggu sang merah.

Masih dipertigaan yang sama. Nenek buta dituntun seorang anak muda. Anak muda itu benar-benar masih muda. Badannya tegap. Tak terlihat cacat sedikitpun. Ia menuntun nenek buta itu, memegangkan tangan si nenek, menengadah mencari tangan-tangan pemurah yang mau membagi receh. Sadar apa yang janggal? Ya, mengapa bukan si anak muda yang bekerja keras. Menggunakan kekuatannya, bukan mengeksploitasi kecacatan si nenek. Tidakkah ia tahu malu?

Pertigaan kalibata nan riuh. Klakson sambung-sambungan, umpatan sahut-sahutan. Risih telinga. Panas terik pula.

Kopaja penuh sesak. Yang terus ditambahkan penumpang. Kondektur yang tak mau merugi. Kopaja tambah sesak. Ibu-ibu mulai menggerutu. Mengomeli si kondektur yang terus mengambil penumpang. Memaksa bergeser sementara tak ada lagi tempat untuk bergeser.

Sementara dalam kopaja penuh sesak itu, seorang nenek setengah pengamen setengah pengemis memaksa masuk. Mengucapkan kata-kata yang sama setiap ia naik dari bis ke bis untuk mengais receh. Tak peduli bosan para pelanggan kopaja yang sudah kali kesekian mendengar ocehan si nenek. Yang memberi balasan doa jika diberi. Miris.

Sementara beberapa ratus meterdari lampu merah, trotoar beralih fungsi. Tak hanya menjadi lahan berjualan, tetapi juga menjadi pelebaran jalan raya. Motor, angkot, kopaja, naik semua ke situ.

Pertigaan Kalibata yang hiruk pikuk. Antara peduli dan tidak. Kutandai ia dalam pengamatan singkatku. Kupotret ia dalam ingatanku. Lalu berkata, Kapan engkau sembuh?

Wednesday, October 16, 2013

Keretaku

Pagi. Kereta depok jam 9 pagi, sepi. Berangkat dari stasiun yang akan terus kudatangi empat tahun ke depan. Seandainya ada cara lain.

Dan keretaku terus melaju. Meninggalkan serpihan-serpihan waktu yang serasa melambat. Karena aku...


Rindu

Mampang Dini Hari : Sepi Pengunjung

Jakarta, pukul 00.10 dini hari


Malam hari aku terbangun. Haus. Aku malas berperang dengan pasukan kakiempat yang sedang merajai dapur. Aku malas angkat senjata untuk mengusir mereka supaya aku dapat mengusir hausku.

Sambil mengenakan jaket rapat-rapat, kubuka kunci gerbang perlahan. Sementara aku membuka pintu, terdengar deru dua buah motor. Habis bersenang-senang mereka. Entah mereka dari mana. Biasa, beberapa remaja laki-laki menghabiskan malam panjang mereka di bangku depan counter pulsa sambil meneguk bergelas-gelas kopi dan menghisap berbatang-batang rokok. Tak kurang alunan musik yang kadang menyentak garang, kadang mengalun melankolis. Mereka melihatku keluar rumah. Aku kenal mereka, mereka kenal aku.

Dengan agak ragu aku melangkahkan kaki menuju jalan raya. Misiku satu. Mencari penjual minum yang ada dalam radius sependek mungkin. Gentar sedikit. Dengar cerita orang malam di Jakarta yang keras. Tapi aku baik-baik saja sampai di rumah. Sementara manusia-manusia muda di belakangku berbisik-bisik membicarakanku. Heran mungkin. Atau bisa jadi khawatir. Apa yang kulakukan selarut ini.

Jalan Buncit Raya sepi. Sesekali melintas motor-motor berkecepatan tinggi. Mungkin pekerja lembur yang ingin segera sampai rumah. Atau perantau-perantau yang baru pulang libur lebaran dan besok sudah mulai beraktivitas. Aku merapatkan jaket pada tubuhku yang diterpa angin akibat kecepatan motor yang melintas.

Di kanan jalan, gedung-gedung kantor sudah sepi. Tutup. Gelap. Tinggal satpam-satpam dalam pos yang mungkin sedang tertidur pula karena terbawa suasana malam yang sepi. Di trotoarnya berserak sampah botol dan plastik. Mungkin sisa-sisa pesta penghuni pinggir jalan. Atau mungkin sisa pelepas lelah para pekerja kasar. Semua tinggal sisanya saja.

Tapi ada pula yang masih bekerja selarut ini. Mereka menarik gerobak yang kini mulai penuh muatan. Isinya kardus, plastik, dan benda kering yang tak terpakai. Mereka mengais sisa-sisa yang ditinggalkan parapetugas kebersihan yang mengambil kantung-kantung sampah pukul 10.30 tadi. Yang mungkin memang sengaja mereka tinggalkan. Berbagi rezeki istilahnya. Sesekali mereka berhenti di pelataran gedung yang tak berpagar. Beristirahat. Mungkin mereka mengharapkan tidur nyenyak di kasur yang nyaman. Atau mungkin mereka bahkan tak pernah membayangkannya.

Akhirnya aku menemukan sebuah warug minuman. Penjualnya seorang ibu-ibu yang menjawab pertanyaanku dengan tidak bersemangat. Terlihat sekali kantung matanya pertanda lelah. Mungkin ia sudah biasa berjualan sampai selarut ini. Tapi lelah itu pasti terlihat. Mungkin ia juga bosan. Mungkin juga iri pada orang-orang yang kini terlelap.

Mampang dini hari. Tak banyak yang kutemui. Sisi-sisi glamor dan ramai mungkin sudah habis di kemang, di menteng, atau di daerah gemerlap lain. Sepi di sini. Yang terlihat sisi-sisi lain Jakarta. Pekerja (entah kantor mana yang tetap bekerja di hari libur ini) yang sedang ngaso di warung untuk minum kopi. Menghilangkan kantuk sebentar karena mereka mungkin harus memacu kuda besinya lebih jauh lagi. Sampai Depok, Bekasi, atau Bogor.

Atau para penjual makanan yang mendorong gerobak mereka dari pasar. Mungkin hari ini mereka sedang kurang laku. Karena orang sedang ramai menyate hasil sembelihan pagi tadi. Atau anak kos sengaja merapel makan mereka sampai besok pagi. Karena malas beranjak dari kamar, mumpung libur. Atau memang sengaja mengirit pengeluaran.

Mampang dini hari, sepi sampai aku kembali masuk ke dalam gang rumah. Langsung kembali terlihat gerombolan yang tadi berbisik tentang aku. Yang menyelenggarakan hiruk-pikuk ala mereka. Biarkan saja mereka habiskan masa senggang dan muda mereka dengan sia. Sampai saatnya mereka menyesal bahwa mereka tak banyak lakukan perubahan. Selama mereka tidak membawa perempuan jalanan ke situ, selama mereka tidak mengganggu tidur nyenyak para warga, biarkan saja.

Sebelum aku masuk rumah salah seorangnynya memanggilku. "habis beli apa fah?" aku hanya menunjukkan botol minuman yang kusembunyikan dalam lengan jaket yang besar. Kemudian segera masuk. Sementaa mereka kembali melanjutkan keramaian mereka sendiri. Sementara mulai radius lima meter dari mereka semua sudah sepi. Tinggal pasukan kakiempat yang sesekali melintas. bergerilya mencati sisa makanan yang lupa dibuang oleh pemilik sebelumnya.

Mampang, dini hari, sepi pengunjung. Dan empat setengah jam dari sekarang, jalanan yang kosong itu akan berubah menjadi lautan kendaraan yang berebut tempat di pusat kota sana. Beruntung aku bukan bagian dari mereka. Aku akan menghindar sejauh mungkin dari chaos itu. Menuju arah asal kebanyakan dari mereka. Depok.

Mungkin lain waktu aku akan menyempatkan kembali keluar selarut ini untuk memotret jalanan sepi pengunjung ini.

Resonansi

Kau tanya apa tujuanku
Dibuat bingung aku
Kau tanya apa visiku
Kelimpungan aku
Kau tanya apa bekalku
Terpojok aku

Aku tak miliki apapun tuk raya
Aku tak kuasai apapun tuk bangga
Aku tak pahami apapun tuk kaya

Aku hanya punya asa
Dan sebuah visi abstrak
Yang bahkan aku tak mampu urai
Dan segenggam prinsip
Yang akan terus kugenggam

Dan karena aku berresonansi
Dalam hening malam pekat
Entah apa aku fikirmu
Entah bagaimana diriku komentarmu

Dan karena aku berresonansi
Dalam gamang dan kabur
Entah bagaimana resonansimu
Entah bagaimana getaranmu

Dan karena aku berresonansi
Tanpa sebab, begitu saja
Dan karena aku berresonansi
Dengan tanpa alasan, apa adanya

Karena begitulah fitrahnya

Antara aku dan kamu

Tuesday, September 25, 2012

Suara Untukmu - Para Pemimpin Dunia


Wahai para manusia yang berada di puncak dunia
Dimanakah kalian berada saat tragedy itu terjadi?
Ribuan nyawa melayang sia-sia
Ribuan nyawa melayang dengan kekejian
Kau juluki dirimu pemimpin dunia
Tapi pemimpin apa namanya yang tidak punya nurani
Mana dunia lebih baik yang selalu kau gemborkan?
Ide provokatif untuk kepentinganmu semata
Myanmar, 2012. Sekelompok golongan disisihkan di Rohingya. Umat islam yang diperlakukan demikian. Entah karena berbeda, karena ketakutan yang berlebihan, karena iri, atau karena politik. Tapi kami yakin kau lebih mengetahui. Kau tak tergerak sedikitpun. Kau tak melakukan apapun. Mana peranmu untuk dunia yang lebih baik? Mana hati nuranimu?
Kau propagandakan hak asasi manusia dan kebebasan. Tapi kau tetap melakukan penyisihan pada segolongan kelompok yang menurutmu lemah dan berbeda pandang. Kau punya kuasa. Kau bisa lakukan apapun pada siapapun. Pada dunia. Tapi kau lupa satu hal. Lupa untuk menilik hati nuranimu.