Seperti sebuh film yang begitu kamu hafal jalan ceritanya. Begitu kamu sukai salah satu bagiannya
Kemudian suatu saat kamu memutarnya ulang
Bagian favoritmu itu tiba-tiba menghilang
Kamu memutar film itu di pemutar lain
Bagian itu masih ada
Kamu memutarnya dalam memorimu sendiri, dan kamu pun tidak yakin benar bagian itu pernah ada
Sampai perlahan
Kamu mulai melupakan bagian itu
Bingkai-bingkai cerita mulai pudar dari memorimu
Kamu pun hampir yakin bahwa bagian itu memang tidak pernah ada
Kemudian kamu melewati sebuah toko televisi
Dengan televisi-televisi layar datar berukuran besar di balik kacanya
Mereka terus memutar film yang telah hampir kau lupakan itu
Dan bagian itu, bagian favoritmu, ada di sana
Kamu mulai memutarnya dalam memorimu
Dan benar, ia ada di sana
Kamu memastikan kembali dan kamu memutarnya di rumah
Dan bagian itu tetap ada
Lalu kamu mulai pusing
Marah tapi tidak tahu marah pada siapa
Bingung tapi tidak tahu harus bertanya pada siapa
Lalu jadilah
Tanya itu kamu simpan sendirian
Sampai...
Film itu tidak lagi menjadi kesukaanmu
Kepingan ceritanya berdebu di satu sudut gelap
Dan kamu tidak lagi peduli
Apakah bagian itu,
Pernah ada
Atau
Tidak
Dan seperti itulah!
Dan biarkan gumam itu tertahan diujung lidah, tak terucapkan. Tapi jangan biarkan gumam itu tertahan di ujung jari, tak tertuliskan.
Thursday, October 9, 2014
Thursday, September 4, 2014
Bukan Hanya Kau
Kau begitu bersemangat menceritakan
Bagaimana caranya berbicara padamu
Bagaimana dia mencandaimu sehingga kau tersipu
Bagaimana kau begitu terpengaruh oleh kata-katanya
Kau begitu penasaran
Ingin mengetahui latar belakangnya
Bagaimana alur berpikirnya
Bagaimana jalan yang dipilihnya
Kau begitu bahagia
Kau lebih banyak tertawa
Kau menjadi sering membelanya
Kau menjadi berbeda di hadapannya
Kau mengendap-endap di belakangnya
Tanpa sepengetahuannya, kau baca tulisan-tulisannya
Kau jelaskan padaku
Aku yang menemanimu mengikutinya
Adalah aku yang pura-pura menjadi biasa
Adalah aku yang bersikap sok polos
Dan aku pula yang memerhatikan dari jauh
Saat obrolan kalian muncul di grup
Saat aku menemanimu berbicara dengannya
Saat aku menjadi penengah yang tidak perlu
Saat aku hanya semakin terlihat bodoh di depan kalian
Karena bukan hanya kau
Yang berubah menjadi berbeda
Yang menyimpan banyak tanya
Tentangnya
Bukan hanya kau
Entah sejak kapan ini bermula
Bagaimana caranya berbicara padamu
Bagaimana dia mencandaimu sehingga kau tersipu
Bagaimana kau begitu terpengaruh oleh kata-katanya
Kau begitu penasaran
Ingin mengetahui latar belakangnya
Bagaimana alur berpikirnya
Bagaimana jalan yang dipilihnya
Kau begitu bahagia
Kau lebih banyak tertawa
Kau menjadi sering membelanya
Kau menjadi berbeda di hadapannya
Kau mengendap-endap di belakangnya
Tanpa sepengetahuannya, kau baca tulisan-tulisannya
Kau jelaskan padaku
Aku yang menemanimu mengikutinya
Adalah aku yang pura-pura menjadi biasa
Adalah aku yang bersikap sok polos
Dan aku pula yang memerhatikan dari jauh
Saat obrolan kalian muncul di grup
Saat aku menemanimu berbicara dengannya
Saat aku menjadi penengah yang tidak perlu
Saat aku hanya semakin terlihat bodoh di depan kalian
Karena bukan hanya kau
Yang berubah menjadi berbeda
Yang menyimpan banyak tanya
Tentangnya
Bukan hanya kau
Entah sejak kapan ini bermula
Tuesday, August 26, 2014
Tentang Aksaramu
Beraninya kau
Mengacak-acak hati yang rapuh
Dengan kata-kata memabukkan
Tapi tak tertafsirkan
Teganya kau
Mengabadikan kekacauan hatiku
Dalam bait-bait yang membuai
Seolah kau rasakan yang sama
Bukan tentang aku tidak bisa berhenti terlena
Bukan pula tentang rasa yang tak jua usai
Tapi tentang tanya yang terus menggelayut
Di salah satu ruang yang sebagian besar isinya
telah kupindahkan
Pernahkah ada aku di sana?
Di salah satu sudut terkecil pikiranmu
Apakah itu aku,
yang pernah menjadi jalan cerita dalam aksaramu?
Atau hanya imajinasiku,
Buah dari harapanku yang palsu
...
*suatu hari, di pertengahan Oktober. kali ini mungkin sudah titik.
...
Mengacak-acak hati yang rapuh
Dengan kata-kata memabukkan
Tapi tak tertafsirkan
Teganya kau
Mengabadikan kekacauan hatiku
Dalam bait-bait yang membuai
Seolah kau rasakan yang sama
Bukan tentang aku tidak bisa berhenti terlena
Bukan pula tentang rasa yang tak jua usai
Tapi tentang tanya yang terus menggelayut
Di salah satu ruang yang sebagian besar isinya
telah kupindahkan
Pernahkah ada aku di sana?
Di salah satu sudut terkecil pikiranmu
Apakah itu aku,
yang pernah menjadi jalan cerita dalam aksaramu?
Atau hanya imajinasiku,
Buah dari harapanku yang palsu
...
*suatu hari, di pertengahan Oktober. kali ini mungkin sudah titik.
...
Saturday, April 26, 2014
Aku, Dia, dan Almamater Kami
Mau ngenalin seorang kakak kelas
Anaknya baiik
banget. Pertama tau sih pas MOS MTs dulu. Dia jadi kakak terfavorit, loh. Anak OSIS
yang aktif banget deh di mts dulu. Sering ikut lomba-lomba juga. Pinter. Dan pas
dia lulus MTs dia dibicarain guru-guru karena berhasil masuk IC.
Tidak lama,
aku nyusul masuk IC juga. Eh, ketemu lagi deh. Ternyata aku masuk ke kelas X-2.
Dulu dia kelas X-2. Well, track record aku di IC nggak sebagus track record
dia. Iyalah, organisatoris satu ini aktif banget. Supel. Temennya banyak. Aku? Di
IC mah biasa-biasa aja. Nilai akademis biasa-biasa aja. Organisasi biasa-biasa
aja. Pertemanan juga biasa-biasa aja.
Lulus aliyah
dia masuk UI. Setelah itu nggak banyak berita yang aku denger. Dan setahun
berikutnya, aku nyusul dia lagi ke UI. Beda fakultas, sih. Tapi jaket sama-sama
kuning. Sekali-dua pernah lah ketemu di kereta pas mau pulang.
Sekarang? Aku dan
dia sama-sama apply ke suatu asrama. Nggak sengaja lihat nama dia di daftar
nama yang lolos tahap 1. Ketemu saat tes, dan sekilas terpikir, kami menyandang
3 almamater yang sama.
Saat pengumuman
peserta yang lolos tahap 2, namaku ada di sana. Juga namanya. Satu tahap lagi. Satu
tahap lagi.
Kalau apply
yang satu ini kami sama-sama beruntung, apa artinya semua kebetulan ini ?
Ikhtiar dan
doa mulai dikuatkan. Empat tahun kami satu almamater, mengapa tidak sekalian
ditambah dua tahun berikutnya?
Berikan yang
terbaik, Allah..
Bismillah
Dan siapakah
kakak shalihah satu ini? Naylah Muna
Monday, March 31, 2014
Tuesday, March 18, 2014
Menghitung
aku menghitung dari satu sampai sepuluh
tekadku, cukup sampai sepuluh
satu, dua, tiga
aku mengerti
kuncup yang merekah
sesuatu sedang berbunga
cantik sekali
kemudian empat dan lima
bunga itu
kian hari kian indah
mahkotanya terbentang anggun
nyaris sempurna
ketika hitungan enam dan tujuh
ia mekar sudah
bersama ronanya
purna cantiknya
purna anggunnya
tapi apa yang terjadi
di hitungan delapan dan sembilan?
warnanya meluruh
bersama mahkotanya yang luluh
juga kelopaknya yang lepas satu satu
dan di hitungan ke sepuluh
aku berharap
bisakah aku mengulang kembali dari satu?
Tuesday, March 11, 2014
Nostalgia
Ini tentang gemuruh yang masih terdengar
Tentang mata yang merah lalu memanas
Aku menyusuri kembali setiap aksara
Aku menekuri satu persatu memori
Aku pernah begitu terbuai
Aku pernah begitu damai
Biarkan aku memeluk ingatan
Tentang rasa yang pernah begitu indah
Biarkan aku mendekap kenangan
Tentang suasana yang pernah begitu damai
Yang sebenarnya adalah
Tidak pernah ada kenangan yang nyata
Hanya aku
Yang merangkai ceritera dan khayal
Tentang bunga yang merekah
Tentang pelangi seusai badai
Tentang kupu-kupu
Tentang istana
Ini tentang setetes air yang bergulir di ujung nostalgia
Tentang terbangun dari mimpi yang begitu melena
Friday, March 7, 2014
...
Tuesday, March 4, 2014
Aku bilang jangan
Di sana kau rupanya
Terkurung dalam asa yang hampa
Terjebak dalam ekspektasi yang membuai
Limbung
Begitu ternyata ceritanya
Puing-puing harap
Yang kau bangun setiap satu bata aksara
Tapi kau dan harga dirimu
Aku melihatmu
Terkurung dalam sebuah kotak kaca
Pengap juga kedap
Dia melihatmu tapi kau rapi dalam topengmu
Dia memerhatikanmu tapi tak ada suara
Dan jadilah kalian sama-sama buta
Orang bilang berhenti
Aku bilang jangan
Karena aku ingin kau berjuang sedikit lagi
Dan setiap kau merasa hampir bosan
Aku ingin kau terus berjuang
Sedikit lagi
Terkurung dalam asa yang hampa
Terjebak dalam ekspektasi yang membuai
Limbung
Begitu ternyata ceritanya
Puing-puing harap
Yang kau bangun setiap satu bata aksara
Tapi kau dan harga dirimu
Aku melihatmu
Terkurung dalam sebuah kotak kaca
Pengap juga kedap
Dia melihatmu tapi kau rapi dalam topengmu
Dia memerhatikanmu tapi tak ada suara
Dan jadilah kalian sama-sama buta
Orang bilang berhenti
Aku bilang jangan
Karena aku ingin kau berjuang sedikit lagi
Dan setiap kau merasa hampir bosan
Aku ingin kau terus berjuang
Sedikit lagi
Monday, February 17, 2014
Rumah
"Ini tentang sesuatu yang perlahan berhenti
Sangat perlahan
Sampai aku hampir tidak sadar ketika
Sesuatu itu telah benar-benar berhenti
Dan semoga ini telah benar-benar berhenti..."
Rumah itu akan direnovasi (lagi). Pemilik rumah
bermaksud menambah satu ruangan lagi. Meskipun satu ruang yang dibangun belum
terlalu lama itu sudah ditinggal penghuninya, sang pemilik rumah tidak ingin
ruangan itu diisi oleh orang lain. Ah, meskipun sudah terlalu banyak ruang di
rumah itu yang juga sama kosongnya, ia tetap bersikeras membangun satu lagi
ruang baru. Setiap ruangan memiliki warna dan aroma tersendiri. Ia tidak ingin
kehilangan warna dan aroma itu.
Penghuni yang lama itu telah ia usir secara
halus. Karena ia tahu, dia sudah tidak lagi nyaman tinggal di situ tapi terlalu
sopan untuk mengatakan hal-hal menyakitkan semacam perpisahan.
Penghuni baru sudah menunggu di teras depan.
Sudah seminggu ia bermalam di sana. Menunggu rumah itu benar-benar kosong.
Karena meskipun berisi banyak ruangan, udara di rumah itu hanya cukup untuk
satu orang. Dan kini ia harus benar-benar bergegas. Membenahi perabotannya,
memastikan tidak ada yang tertinggal dari penghuni sebelumnya. Meskipun itu
terlalu berat untuknya. Sangat berat.
Tapi tetap ada satu ruangan. Jauh lebih besar
dari ruangan-ruangan lainnya. Yang tetap terkunci rapat. Hanya ia yang memiliki
kuncinya. Rutin ia bersihkan ruangan itu dari debu-debu. Tetap ia perbarui
wanginya. Dan selalu ia rawat kesyahduannya. Sampai suatu saat nanti ia
menemukan orang yang tepat untuk menghuni ruangan itu. Mungkin bukan sekarang,
bukan untuk si penghuni baru yang sudawh seminggu bermalam di teras itu. Tapi
segala kemungkinan lain bisa saja terjadi. Ia tidak pernah tahu.
"... tapi kalau ternyata memang belum berhenti
Pukul saja aku
Biar aku sadar
Biar aku terbangun
Dari buaian mimpi beraroma tuak itu"
Monday, January 13, 2014
Let It Be atau Let It Flow?
“Lebih setuju Let It Be atau Let it Flow?”
Ini untuk kamu yang memilih untuk berhenti
berharap. Memilih untuk sadar posisi dan sadar diri. Mencatut kata-kata saya
sendiri : sekeras apapun saya berusaha menghilangkan batas, saya tetap tidak
bergerak ke mana-mana. Untuk kamu yang sudah cukup puas dengan posisimu
sekarang.
Pertanyaan di atas adalah pertanyaan teman saya
suatu malam. Lagi-lagi bicara soal hati. Waktu itu teman saya menyarankan saya
menulis lagi. Seolah-olah sebelumnya saya sangat rajin menulis. Padahal saya
menulis tergantung mood saya. Kemudian dia menyinggung-nyinggung soal galau
(aih, galau lagi, galau lagi). Katanya, saya banyak menulis saat saya sedang
sering galau sebelumnya.
Sekarang sih, saya lebih suka nyadar diri.
Setelah sms si-dia malam itu (sudah agak lama kalau coba diingat-ingat), saya
mencoba lebih banyak menahan diri, lebih
banyak mencoba bersikap biasa, dan lebih memosisikan diri tentunya. Apalagi
berharap, buang aja deh jauh-jauh.
Ditanya demikian, saya hanya menjawab itu pilihan
yang sulit. Karena menurut saya dua frasa itu adalah kondisi yang sebenarnya
berdampingan. Saya sih berkaca pada kondisi saya sekarang ini.
Ketika tidak ada yang bisa dilakukan untuk
mengubah apa pun, atau lebih tepatnya tidak ingin mengubah apa pun, biarkan
saja frasa pertama itu berlaku, Let it be. Yasudahlahya, biarin aja semuanya
begini. Mau gimana lagi?
Lalu apa kamu akan baik-baik saja? Iya, lah.
Jantungmu nggak akan tiba-tiba berhenti, kan kalau kamu sudah kehabisan harapan
soal ini. Ah, masih banyak orang kok di dunia ini. Waktu kamu juga masih
banyak. Yah, untuk sekarang, Let it flow ajalah. Biarkan hatimu tetap
beresonansi. Biarkan feromonmu tetap bereaksi.
Makanya, Let It Be dan Let It Flow itu tidak bisa
dipilih. Adalah sebuah keniscayaan sekaligus konsekuensi ketika kamu memilih
untuk tidak mengubah apapun, kamu harus menerima semuanya mengalir dulu. Kalau
kata di novel-novel, biarkan waktu yang menjawab. Sekarang urusannya ada pada
dirimu sendiri untuk tetap menjaga hatimu, menikmati dulu anugerah Tuhan yang
tidak pernah kamu minta itu. Saya sudah memilih dan mencoba menjalankan konsekuensi itu, dan saya baik-baik saja. :) J
Bagaimana Kalau Nanti...
(*Peringatan : tulisan ini
akan beraroma dramatis dan soooo sinetron.)
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah berjodoh dengan si-spesial itu?"
Begitu kira-kira selintas pikiran
yang disuarakan teman saya suatu ketika, dulu semasa Aliyah. Waktu itu, ah,
namanya juga anak SMA (atau Aliyah), lagi masa-masanya ngomongin soal teman
cowok. Apalagi sekolah kami berasrama. Setiap hari bertemu, keponya juga
maksimal. Komplit deh.
Tradisi anak asrama juga,
rahasia urusan hati, akan jadi rahasia anak satu angkatan. Namanya juga tinggal
satu 'rumah'. Makan bareng, belajar bareng, main bareng, tidur juga bareng
(tentunya perempuan sama perempuan, laki-laki sama laki-laki, ya). Sulit sekali
(kalau tidak bisa dibilang mustahil, karena memang ada beberapa orang yang luar
biasa tertutup urusan ini) menyimpan cerita itu untuk diri sendiri.
Tapi, meskipun hampir satu
angkatan tau, akan selalu ada orang tertentu yang paling mengerti, bukan? Di
mana-mana juga begitu. Tidak hanya berlaku untuk anak asrama saja. Selalu ada
orang tertentu yang bisa dijadikan tempat curhat, atau partner berbagi cerita.
Seorang teman yang bisa tetap terjaga semalaman untuk berbagi cerita. Selalu
ada orang tertentu yang menjadi orang pertama yang tahu.
Ah, saya ingat. Saat kelas
dua, ada pelajaran Aqidah Akhlaq tentang futuristik. Seluruh siswa ditugaskan
membuat peta hidup dari usia nol tahun sampai usia tujuh puluh tahun. Isi peta
hidup dari nol tahun sampai usoa kami saat itu adalah momen-momen penting yang
telah terjadi di hidup kami. Sementara unuk usia berikutnya berisi tentang
rencana-rencana kami ke depannya. Target-target besar kami, cita-cita kami.
Termasuk kapan menikah, kapan punya anak, dan rencana-rencana besar lain.
Saya rasa, ini adalah awal
mula pembiaraan yang selalu terasa hangat di angkatan. Menikah. Uuu, rasanya
terlalu futuristik? Menurut kami tidak. Saat teman-teman di luar sekolah kami
membicarakan pacar atau istilah sejenis, kami berbeda. Ini latar belakang
mengapa teman saya bisa sampai mengeluarkan statement yang sudah saya tuliskan
di awal. Alasan mengapa kata-kata yang keluar bukan jadi seperti ini :
"Bagaimana kalau teman yang selama ini kamu ceritakan tentang seseorang yang dispesialkan hatimu, ternyata kelak malah pacaran dengan si-spesial itu?"
Karena apa yang akan
terjadi kalau statement pertama benar-benar terjadi, akan jauh lebih kompleks
daripada kalau yang terjadi adalah ketika kata berjodoh itu diganti dengan kata
pacaran.
Lalu teman saya itu mulai
berasumsi, ketika menikah, pasti banyak hal yang tidak lagi menjadi rahasia,
bukan? Anggap sekarang kamu adalah seseorang yang ‘jadi’ dengan orang yang
pernah mendapat tempat paling special di hati sahabatmu. Dan bukankah tidak
lucu kalau suatu ketika kamu mengatakan pada pasangan seumur hidupmu itu : “Dulu si ini suka sama
kamu, loh. Setiap saat dia cerita pasti tentang kamu. Blablabla…”
Mungkin bagi kamu dan
pasanganmu itu akan terdengar biasa saja kalau sama-sama mengerti kondisinya,
dan sama-sama tidak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagaimana dengan harga
diri sahabatmu itu? Atau kamu jadi merasa bersalah berkepanjangan pada
sahabatmu. Khawatir sahabatmu itu masih memiliki perasaan yang sama, tetapi
merelakan semuanya demi kebahagiaanmu?
Atau bisa saja terjadi
kemungkinan yang lebih parah. Jadi ceritanya ternyata pasangan kamu itu
ternyata dulunya juga suka sama sahabat kamu. Everything will still be okay if
pasangan kamu bukan tipe orang yang berpikir terlalu dalam tentang masa lalunya
itu. Tapi bagaimana kalau yang terjadi adalah pasanganmu itu kembali
mengingat-ingat perasaannya? Bagaimana kalau yang terjadi adalah
penyesalan-penyesalannya yang menyusul kemudian?
Too far? Memang. Namanya
juga berandai-andai. Ini hanya bagian dari pikiran-pikiran liar remaja tanggung
yang dilarang pacaran baik oleh agamanya, maupun oleh peraturan sekolahnya.
Ada sih, rasa takut itu
dalam diri saya. Saya yang selalu tidak pernah bisa menyimpannya sendirian, dan
selalu berapi-api ketika menceritakan pada sahabat saya tentang orang yang saya
suka. Atau saya juga punya teman yang sangat bersemangat ketika kami
sedang quality time berdua, menceritakan segalanya. Termasuk soal, ehm, cowok.
Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi di masa depan, bukan? Bisa saja saya
kelak menjadi pihak mana pun. Ah, terlalu sulit dibayangkan. Semua kemungkinan
yang sudah saya sebutkan bisa saja saya alami atau saya lakukan. Haha.
Tapi, guys, yasudahlahya,
masa depan itu toh tetap akan menjadi misteri sampai kita tiba pada waktunya.
Kalau kata teman saya sih, ya, nikmati saja masa-masa ketika sensasinya masih
kamu rasakan. Atau kalau kata teman saya yang lain bisa saja situasi kamu itu
bisa kamu jadikan insiprasi yang membuat kamu semakin produktif. Seperti
statement teman saya itu, mungkin sebenarnya bisa diperpanjang lagi dan kalau
saya rajin, voila! Jadilah novel drama yang dramatis. Haha.
Atau kamu bisa ikuti tips
saya satu ini :
Katakan ini pada sahabatmu
: “Nanti, kalau kenyataannya
ternyata kamu yang jadi sama dia, tolong buat semua ceritaku ini tetap jadi
rahasia, bahkan dari pasanganmu itu.” Dan temanmu bisa mengatakan itu juga
padamu. Kalian saling berjanji untuk tetap menjaga. Karena perjanjian ini sudah
pernah saya lakukan dengan sahabat saya. Minimal, untuk saat ini saya cukup
tenang. ^^v kamu juga bisa mencobanya, kok.
{ Didedikasikan kepada para perempuan tangguh berhati nan cantik,
teman-teman seperjuangan di kampus Islami, Prestasi, Mandiri, Foranza Sillnova.
Terutama untuk sahabat saya yang mengeluarkan
statement yang kembali saya jabarkan lagi di sini : Itqi Rahmatul Laila. Tetiba
kangen sharing lagi sama kamu, qi :”
Dan saya menulis ini
karena tiba-tiba teringat statemen itu setelah sekitar dua hari bersama seorang
sahabat baru. AHR. Siapa tahu dia yang ‘jadi’ dengan dia.
Baiklah, daripada semakin
melantur, saya cukupkan saja.}
Sekian
Wednesday, January 1, 2014
Jawaban Dari Sebuah Jawaban
Untuk kesekian kalinya aku menulis lagi-lagi soal
ini
Ini 2014, men. Dan aku masih terperangkap dalam
dunia yang kubuat sendiri. Dalam rasa sakit yang kutoreh sendiri.
Tapi percayalah, teman. Aku bukan orang yang suka
mengingat ingat rasa sakit itu. Aku bukan hanya tidak suka. Aku bahkan
terkadang tidak mampu mengulang sakit yang pernah kurasakan sendiri. Ini soal
mengikhlaskan mungkin. Atau mungkin soal melupakan.
Sebenarnya aku sedang tidak berminat menulis di
sini. Tapi kau temanku. Aku tidak akan membiarkanmu terperangkap di dalam rasa
bersalahmu kalau itu behubungan dengan aku.
Sila diperiksa kembali kapan aku menuliskan suara
hatiku itu. 10 Desember 2013 (kalau tulisan itu yang kau maksud). Itu sudah
hampir sebulan. Dan apa peduliku soal kecocokan kalian atau kebersamaan kalian.
Karena sekeras apapun aku berusaha menghilangkan batas, aku tetap tidak
bergerak kemana-mana (kalau kau mengerti maksudku). Posisi aku sekarang, sudah
cukup aku syukuri. Bagaimana posisi orang lain(termasuk kamu) akan aku coba
untuk tidak kupedulikan. Tidak kupedulikan bukan dalam arti aku tidak
menganggap ada. Tapi menanamkan pada diriku sendiri sebuah konsep. Tahu diri.
Aku tahu, aku bukan siapa-siapa.
Soal aku mengeluh saat itu, hanya luapan sesaat.
Dan sengaja kubuat analogi supaya tetap berlaku selamanya, tidak kadalurasa.
Tidak hanya untuk keadaanku saat itu. Mungkin untuk keadaan jutaan orang di
luar sana yang juga merasakan hal serupa. Terlalu terlambat meminta maaf
sekarang. Sudah lama kumaafkan. Mungkin sejak aku selesai menuliskan tulisan
itu. Atau mungkin aku menyadari kalau itu bukan salahmu. Hanya murni
kesalahanku.
Tawaranmu untuk berdamai : aku TOLAK.
Karena kita tidak pernah berperang. Hanya aku.
Yang berperang pada diriku sendiri. Mungkin sudah saatnya aku berdamai pada
diriku sendiri. Berdamai pada gumaman hatiku, gumaman pikiranku. Tentang
semuanya. Termasuk tentang kamu.
Subscribe to:
Posts (Atom)