Wednesday, February 22, 2017

Orang-orang Populer

"Kok kamu bisa suka sama dia sih? Dia kan nggak cakep."

"Kamu serius suka sama dia?"

"Apa sih yang kamu lihat dari dia? Dia kan nggak populer."

Pertanyaan-pertanyaan itu dulu sekali kamu sering dapatkan dari teman-teman terdekatmu. Beberapa kali kamu jatuh suka pada orang yang berbeda, kesemuanya adalah orang yang tidak sama sekali populer, tampang biasa-biasa saja, intelegensinya juga sama biasanya. Tentang mengapa, hanya kamu yang tahu.

"Yah, kan aku juga biasa-biasa aja. Nggak cakep juga, apalagi populer." Biasanya begitu caramu membela diri.

"Aku lagi suka sama orang nih. Namanya..." ini ceritamu beberapa bulan yang lalu. Aku cuma menanggapinya dengan tersenyum. Yang berbeda kala itu adalah, kamu menyebutkan satu nama yang walaupun tidak terlalu populer, tapi tidak juga bisa disepelekan.

Anak itu punya sekelompok cewek pengagum rahasia. Meskipun tidak terlalu rahasia. Bahkan mereka pernah melabrak beberapa perempuan yang dekat dengannya karena aktif di organisasi yang sama. Waktu itu aku khawatir kamu kena labrak juga.

Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan perasaan itu hilang. Ceritamu berganti lagi. Dan kali ini lebih lagi. Ia jauh lebih populer dari yang sebelumnya.

Dalam satu forum saja, ada beberapa pasang mata yang memancarkan aura pengharapan padanya. Termasuk kamu. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Meskipun tidak sering juga kamu menatapnya, dan mereka pun, tapi aku tahu. Kali ini kamu bersaing dengan lebih banyak orang daripada segerombolan cewek tukang labrak kemarin.

"Jadi suka sama yang nggak populer, nggak boleh. Suka sama yang populer juga nggak boleh. Kenapa salah terus sih?" kamu mulai protes. Mencuri bisik padaku di sela-sela rapat sore itu.

"Bukan gitu sih maksudnya. Aku nggak melarang kok. Aku cuma ngasih tau kalo dia, dia, dan dia juga suka sama anak itu." aku menyebut beberapa nama.

"Aku nggak peduli. Aku suka aja kok. Nggak berharap apa-apa. Eh berharap sih. Tapi kalopun nggak keturutan juga aku biasa aja. Eh gimana sih. Pokoknya begitu." Ah, kamu malah bingung sendiri.

Aku melanjutkan catatanku. Tapi pikiranku masih terganggu. Kamu sekarang memang semakin populer. Walau memang tidak relevan juga sebenarnya menghubungkan kedua hal itu. Orang yang tidak populer pun berhak punya perasaan terhadap siapa saja. Apa karena itu seleramu berubah?
Pun sebenarnya menurutku ini bukan soal selera. Perasaan dan selera bukan hal yang ekuivalen. Tidak sebanding. Dan aku juga yakin kamu tidak menyadari popularitasmu yang sedang naik itu.

Tapi tunggu...

Tatapan macam apa itu yang barusan dia layangkan padamu. Sesaat memang. Tapi aku melihatnya dengan terang dan nyata. Bukan jenis tatapan yang biasa saja. Duh, bagaimana mendefinisikannya, aku kurang ahli dalam hal ini. Aku hanya tahu begitu saja.

Aku memandang wajahmu sekali lagi. Lekat.

Ah, aku mengerti. Ini ternyata bukan soal populer-tidak populer.

"Ada apa, sih?" heranmu.

"Tidak, tidak ada apa-apa." sepertinya ini cukup aku simpan saja sendiri.
Mampang Prapatan, Rabu, 22 Februari 2017, 14.43 WIB

Tuesday, February 21, 2017

Tamu Bapak (1)

"Dek, jangan pulang dulu. Lagi ada tamu." Pesan singkat dari Bapak muncul di ponsel pintarku beberapa saat setelah aku menjejak turun dari metromini. Tepat di depan gang rumah.

"Yah, Pak, udah di depan."
"Tunggu di pos kamling aja dulu. Kalo lama, kamu ke rumah Bi Upi aja. Bapak udah bilangin."

Tumben. Nggak biasanya Bapak bersikap aneh seperti ini. Ini sudah lepas Isya'. Biasanya Bapak malah sibuk nelponin anak gadisnya yang super sibuk ini kalau belum pulang juga. Tamu?  Sering juga kok aku pulang saat masih ada tamu Bapak di rumah. Biasanya sih Mang Ojak, rival catur Bapak.

Tapi aku menurut. Berjalan dari depan gang ke pos kamling harus melewati rumah. Tidak ada Mang Ojak di kursi depan. Tempat biasa dia main catur sama Bapak sampai larut malam. Tapi...

Ada sepeda motor yang terparkir di halaman. Motor yang selalu kau gunakan menemani semua aktivitas padatmu. Motor matic biasa keluaran dua tahun lalu. Pemberian kakek, katamu, sebelum beliau meninggal Muharrom lalu. Motor yang sering juga kupinjam untuk memenuhi beberapa tugas. Mana bisa aku tidak mengenalinya.

Tamu Bapak dan motor itu, motormu. Dua hal yang tidak bisa ketemukan relasinya. Atau lebih tepatnya, aku tidak berani menghubung-hubungkannya. Bapak dan pemilik motor itu, kamu. Dua orang yang aku yakin sekali tidak punya irisan sosial apapun sebelum ini.

Menunggu di pos kamling menjadi acara paling tidak terdefinisi seumur hidupku. Berkali kulihat jam tanganku yang kali ini rasanya seperti berputar sangat lambat.

Sore tadi, selepas rapat, kamu memang segera pamit. Kami maklum, orang sibuk sepertimu pasti tidak akan menyia-nyiakan waktu produktif. "Sholat maghrib di tempat tujuan," katamu.

Sementara aku dan beberapa teman perempuan melanjutkan aktivitas dengan makan malam di cafe dekat kampus. Setelah itu baru aku pulang. Tapi tumben. Kereta tidak sepenuh biasanya. Metromini pun begitu. Jalanan lancar. Seolah mengantarku mengejar sesuatu yang tidak boleh aku lewatkan. Sedikit pun tidak curiga, hanya tidak seperti biasanya saja.

Aku masih sibuk mencerna semua kejadian hari ini ketika aku melihat pintu rumah terbuka. Tidak sulit melihat situasi rumah dari sini. Lebih mudah lagi mengenali siapa yang keluar dari pintu depan. Kamu, lalu Bapak. Bapak melihat ke arahku. Tapi tidak terlihat raut wajahnya karena mata minusku. Yang selanjutnya kulihat adalah bagian belakang motor matic merahmu yang berjalan ke arah jalan raya.

"Assalamu'alaikum," ucapku saat masuk rumah, kemudian mencium tangan Bapak. Bapak menjawab sambil tetap memandangi televisi di depannya. Tapi ketika aku mulai menaiki tangga menuju kamar, Bapak berkata,

"Dek, habis bersih-bersih, Bapak mau bicara," Bapak masih terlihat tidak peduli dengan mata yang tertuju pada televisi. Wajah Ibu yang baru keluar dari kamar pun tidak memberi petunjuk apa-apa.

Aku tidak bertanya. Tidak pula menanggapi. Tapi lima belas menit dari sekarang, aku pasti sudah akan ikut duduk bersama mereka berdua. Aku hanya tidak berani berprasangka apapun.

Mampang Prapatan, Selasa, 21 Februari 2017, 23.49 WIB

 Baca juga :
Tamu Bapak (2)
Tamu Bapak (3)
Tamu Bapak (4) - ed. Rahmi dan Syayma
 

Sunday, February 19, 2017

Sibuk

Orang yang mencintai adalah orang yang paling sibuk
Kamu sibuk ingin tahu apa obrolan yang dia kirimkan pada temanmu
Kamu sibuk menyamakan jadwalmu dengannya
Kamu sibuk menutupi kekurangannya di depan yang lain
Kamu sibuk menyamakan frekuensi langkahmu dengannya
Kamu sibuk mencurahkan energimu padanya
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Kamu sibuk
Tapi ternyata aku lebih sibuk
Memantau gerak-gerikmu

Ahad, 19 Februari 2017

Monday, February 13, 2017

Nyanyak Pelupa

Nyanyak orangnya pelupa. Lupa di mana letakkan dompet, lupa apakah sudah makan atau belum, bahkan pernah lupa pakai kerudung saat keluar rumah.

Baba orangnya emosional. Baba baik, tapi gampang marah. Baba mudah tersinggung, dan kalau marah besar suka destruktif, menghancurkan benda yang ada di dekatnya, semahal apapun benda itu. Sifat Baba yang satu itu membuat anak-anaknya tidak terlalu nyaman di rumah, sebal kepada Baba, meskipun mereka tahu, mereka menyayanginya.

Baba sering marah kalau Nyanyak lupa sesuatu. Pernah waktu mau pergi bersama keluarga ke tempat rekreasi, Nyanyak lupa di mana letakkan dompet. Satu jam seisi rumah kelimpungan mencari dompet itu. Baba pusing. Dia bukannya ikut mencari malah marah-marah. Situasi rumah jadi tidak enak. Akhirnya semua batal pergi ke tempat rekreasi meskipun akhirnya dompet itu ditemukan di pojokan meja makan.

Tapi mungkin beruntung bagi Baba karena Nyanyak pelupa. Nyanyak sayang sekali sama Baba. Jadi Nyanyak mudah lupa perlakuan buruk Baba ke Nyanyak. Sehebat apa pun pertengkaran mereka, Nyanyak tidak pernah mengingatnya.

Suatu malam Nyanyak bertanya pada anak-anaknya yang sedang belajar dan mengerjakan PR.
"Emangnye Baba lu pade 'tu pemarah ye?" tanya Nyanyak sambil menghitung hasil jualannya hari itu.

Anak-anaknya hanya mengernyit heran. Heran karena tiba-tiba Nyanyak bertanya demikian. Heran karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mudah dijawab seolah hanya dengan melihat wajah Baba saat sedang diam.

"Ye, Nyanyak nanya nih. Lu pade malah main pelotot-pelototan. Awas copot 'tar 'tu bola mate."

"Nyak, Nyanyak ngetes apa gimana nih?" akhirnya si sulung yang buka suara.

"Abisan Lu pade ampe segitunye ke die." polos sekali Nyanyak mereka ini.

"Nyak, Nyanyak ga inget apa kemaren Baba udah ngacurin TV kita?" protes si bungsu.

"Itu Nyanyak inget lah. Tu masih ada bangkenye. Waktu itu Baba lu pade lagi capek. Lu tau sendiri capeknye ngojek 'tu gimane. Lagian 'tu tipi kan emang udeh somplak. Tar besok Nyanyak beli lagi kalo ada rejeki." Terlalu mudah, Nyak.

"Nyak, Nyanyak kan nyerasa sendiri gimana kalo Baba udah marah. Nyanyak setiap dimarahin Baba juga malah ngomelnya ke kita. Seolah-olah saat itu Nyanyak sangat membenci Baba. Terus sekarang Nyanyak nanya kayak gitu ke kita." Yang tengah angkat bicara.

"Emang Nyanyak pernah ngomong gitu ke lu pade? Emangnya Nyanyak benci sama Baba?" dua anak Nyanyak menutup buku mereka dan pergi ke kamar masing-masing. Sebal dengan jawaban Nyanyak. Tinggal si Sulung yang kemarin baru lulus SMA yang tinggal di ruang tamu sambil membantu Nyanyak yang sudah beralih menyiangi sayuran.

"Nyak, Nyanyak jawab sendiri aja pertanyaan Nyanyak. Nyanyak yang lebih tau. Nyanyak yang lebih lama bareng-bareng Baba. Kita anak kecil nggak tau apa-apa, Nyak." pungkas si sulung. Mereka berdua masih duduk di ruang tamu cukup lama setelah itu. Tapi dalam keadaan saling diam.

Nyanyak pelupa. Nada pertanyaan Nyanyak malam itu benar-benar bertanya. Seolah-olah dia tidak mengingat sama sekali semua perlakuan yang begitu membekas di anak-anaknya. Seolah Nyanyak selalu punya ruang baru untuk Baba. Tapi seharusnya Baba bersyukur punya Nyanyak. Yang pelupa, makanya selalu melupakan perlakuan buruk Baba padanya. Yang meskipun pelupa, ia selalu mengingat bagaimana mereka semula saling mencintai dan selalu.

Dan tiga anak Nyanyak maklum. Tiga anak Nyanyak, yang meskipun kesal, tetap menyayangi Nyanyak begitu adanya. Karena Baba tidak selalu bersikap buruk. Dan karena selama Nyanyak begitu, keluarga mereka akan tetap utuh.


Masjid Ukhuwah Islamiyah, 13 Februari 2017, 17.42

Friday, July 1, 2016

Asyrul Awakhir Ramadhan 1437H : Mengetuk Pintu Taubat

[Catatan Kajian Ba'da Zuhur]
Tazkiyatun Nafs-Membuka Pintu Taubat
Oleh: Ust. Ade Purnama, Lc. MA

24 Ramadhan 1437 H
Masjid Baitut Taqwa-Kantor Pusat Bea Cukai

Kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Kita dianjurkan untuk menperbanyak taubat dan istighfar. Beberapa alasan mengapa kita harus memperbanyak Isthighfar dan Taubat. Khususnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

1. Manusia adalah tempat salah , maka taubat menjadi kebutuhan

Sama seperti manusia butuh makan, minum, dan istirahat. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah saw. bersabda : "Sungguh Allah lebih mencintai hamba yang bersalah kemudian bertaubat, daripada yang tidak bersalah sama sekali (seandainya ada)."

‎وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾؅
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." {Q.S. Ali Imran : 134}

Pelajaran ayat : jangankan manusia secara umum. Hatta orang yang bertakwa pun bisa melakukan kesalahan dan dosa. Tapi bedanya mereka buru-buru bertaubat kepada Allah.

2. Sebagai orang beriman, kita diperintahkan Allah untuk bertaubat

‎وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١﴾؅
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." {Q.S. An-Nur : 31}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)." {Q.S. At-Tahrim : 8}

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziy : dua ayat ini adalah ayat madaniyah, ayat yang turun dalam periode Madinah. Di mana yang menjadi objeknya adalah orang-orang beriman yang sudah teruji keimanannya. Sudah beriman, berhijrah, dan berjihad. Masih diperintahkan bertaubat juga. Maka apalagi kita yang keimanannya belum teruji. Sebagai orang beriman, kita diperintahkan untuk bertaubat.

Jadi taubat itu bukan hanya diperintahkan untuk tukang maksiat, tetapi diperintahkan kepada orang beriman, termasuk kita di dalamnya.

3. Sebagai seorang muslim, kita wajib mengikuti Rasulullah yang dalam sehari tidak kurang 70-100 kali beristighfar

Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata: "Demi Allah, aku dalam sehari beristighfar tidak kurang dari 70 kali"

Itu Rasul, yang pasti masuk surga, yang dosanya sudah terampuni, yang tidak pernah melanggar aturan Allah, dalam sehari tidak kurang dari 70 kali beristighfar. Bandingkan dengan kita yang dari ke hari tidak lepas dari maksiat.

Ibnu Umar pernah menghitung, di sebuah majelis, Rasulullah seratus kali membaca : رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور

4. Sebagai hamba Allah, kita butuh cintanya Allah dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat

‎إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾؅
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." {Q.S. Al-Baqarah : 222}

Dalam sebuah hadits : "Sungguh Allah swt berbahagia menerima taubat seorang hamba, melebihi kebahagian seorang pengembara yang sedang melakukan perjalanan, tiba-tiba untanya hilang kemudian datang kembali*. Sehingga Allah swt membentangkan ampunan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang salah di siang hari. Dan membentangkan ampunan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang salah di malam hari. Sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari kiamat)."
*) : Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seorang pengenbara yang kehilangan unta yang di atasnya ada semua perbekalan, makanan, minuman, dan pakaian. Dicari tidak ketemu, sampai ia putus asa dan duduk di bawah pohon kurma. Saat sedang putus asa, unta tersebut datang kembali dengan perbekalannya yang masih utuh. Saking bahagianya, ia pegang tali kekang unta tersebut erat-erat supaya tidak hilang lagi. Ia sampai salah ucap : اللهم انت عبدي و انا ربك (Ya Allah engakaulah hambaku dan Akulah rabbmu), padahal maksudnya اللهم انت ربي و انا عبدك (Ya Allah, Engkaulah rabbku dan akulah hamba-Mu).

5. Memperbanyak taubat adalah kunci segala kesuksesan

Dari Imam Hasan Al-Basri :

Seorang pebisnis datang kepada Hasan Al Basri menceritakan masalahnya. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang wanita yang belum dikaruniai anak datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang petani yang gagal panen datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Seorang pengusaha yang banyak hutang datang kepada Hasan Al Basri. Kata Hasan Al Basri : "Perbanyak istighfar."
Sampai ada dua puluh orang yang datang dengan dua puluh pertanyaan yang berbeda, jawaban Hasan Al Basri hanya satu: "Perbanyak Istighfar"
Muridnya penasaran, ada apakah dengan Hasan Al Basri. Apakah ilmunya habis, sampai semua persoalan jawabannya hanya satu. Kemudian ia bertanya kepada Hasan Al Basri. Jawaban Hasan Al Basri : Karena begitulah yang diajarkan Al Quran. Dalam surat Nuh ayat 10-12.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾؅
‎يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾؅
‎وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴿١٢﴾؅
"(10) maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, (11) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
________

Oleh karena itu, paling tidak setiap hari kita membaca sayyidul istighfar:

‎للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

atau : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيهِ

atau : ‎رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور

atau : اَسْتَغْفِرُالله الْعَظِيْم

atau yang murah meriah : رَبِّ اغْفِرْلِيْ

atau taubatnya Nabi Yunus a.s. : لَا اِلٰه اِلَّا اَنتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
apabila dalam masalah yang pelik bisa membaca taubat dan istighfar ini seperti Nabi Yunus

atau doanya Nabi Adam a.s. : رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Inilah istighfar dan taubat yang harus kita perbanyak terutama di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dalam rangka mengetuk pintu taubat.

Ada satu lagi yang lebih spesial, salah satu doa taubat
اللهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَى فَاعْفُ عَنِّي

Kata ahli hadits, apa bedanya ampuni aku dengan maafkan aku? apa bedanya فَاغْفِرْلِي dengan فَاعْفُ عَنِّي?
Bedanya adalah, kalau "Ampuni aku" di catatan dosa kita tertulis kita berbuat dosa, tapi dicoret. Catatannya masih ada cuma dicoret aja. Kalau "Maafkan aku" catatannya juga dihapus, ga jadi dicatat.

Tambahan satu lagi: berdoalah dengan تَضَرُّعًا وَ خُفْيَةً , penghormatan dan penuh rasa takut.
والله اعلم ب الصواب
------akhir dari kajian------

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung. Terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Aamiin.
------

Dicatat dan ditulis kembali oleh :
Kholifatul Mursyidah
Pembinaan dan Kaderisasi
Formasi 26
#OurEpicVoyage

Friday, May 6, 2016

Paralel

Karena ternyata, dalam perjalanannya, ia tidak pernah benar-benar bisa kembali.

Ia pernah mencoba melangkah, tapi ternyata salah.

Hampir saja ia lupa, karena penampakannya serupa.

Ia melangkah mundur dan menyerah.

Mungkin ia tidak akan pernah benar-benar bisa kembali.

Jalan yang ia lalui kini telah menjadi paralel.

Kamu tahu, kan? Dua garis paralel tidak akan memiliki titik temu. Sejauh apa pun garisnya ditarik.

Jadi, maaf, sepertinya ia tidak akan benar-benar kembali. Seperti dulu. Seperti yang pernah ia coba janjikan. Seperti yang telah ia usahakan.

Monday, January 11, 2016

Sebuah Hadiah

Aku punya hadiah untukmu
Kuperingatkan
Isinya aksara, banyak jumlahnya
Terangkai tapi rumit beruntai-untai
Terbaca tapi kamu harus temukan tafsirnya

Aku punya hadiah untukmu
Sesuatu yang tidak bisa kucerna, tubuhku menolaknya
Ada yang pernah bilang,
Memberi hadiah itu, sesuatu yang juga kita suka
Tapi ini,
Bukan aku tak suka, bukan
Jangan melirikku seperti itu

Aku punya hadiah untukmu
Sampai seribu paragraf kujelaskan, percuma
Kalau kamu tidak membutuhkannya

Kusederhanakan
Aku mencintaimu
Aku merindukanmu
Dalam resah yang menjelma bahagia
Dalam penantian, yang tetap menjadi penantian
Aku mengikut saja

Dari aku yang tidak ingin mengutuk kegelapan, tapi malang, aku tidak sanggup menyalakan bahkan sebuah lilin